Hadis-Hadis Dalil Kewajiban Puasa Ramadhan

Hadispedia.id – Surah Al-Baqarah ayat 183 adalah salah satu ayat yang menjadi dasar kewajiban puasa Ramadhan bagi umat Muslim. Dasar kewajiban puasa Ramadhan juga terdapat dalam hadis-hadis Nabi saw. Di antaranya adalah tiga riwayat Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya pada bab wujubi shaumi Ramadhan sebagai berikut.

Hadis pertama, riwayat Thalhah bin Ubaidullah

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَقَالَ « الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا » . فَقَالَ أَخْبِرْنِى مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصِّيَامِ فَقَالَ « شَهْرَ رَمَضَانَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا » . فَقَالَ أَخْبِرْنِى بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ . قَالَ وَالَّذِى أَكْرَمَكَ لاَ أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلاَ أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ شَيْئًا . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ

Dari Thalhah bin Ubaidullah, ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw. dalam keadaan kepalanya berdebu, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku shalat apa yang telah Allah wajibkan untukku?.” Maka, beliau menjawab, “Shalat lima waktu kecuali bila kamu menambah dengan yang tathawwu’ (sunnah).” Arab Badui itu bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku puasa apa yang telah Allah wajibkan untukku?” Beliau menjawab, “Puasa di Bulan Ramadhan, kecuali bila kamu mau menambah dengan yang sunnah.” Arab Badui itu bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku, zakat apa yang telah Allah wajibkan untukku.” Thalhah bin Ubaidullah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pun mengabarkan kepada Arab Badui itu tentang seputar syariat-syariat Islam. Arab Badui itu lalu berkata, “Demi Dzat yang telah memuliakan Anda, aku tidak akan mengerjakan yang sunnah sekalipun, namun aku pun tidak mengurangi satu pun dari apa yang telah Allah wajibkan untukku.” Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Dia akan beruntung jika jujur atau dia akan masuk surga jika jujur.”

Hadis kedua, riwayat Ibnu Umar

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ صَامَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ . فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ. وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَصُومُهُ إِلاَّ أَنْ يُوَافِقَ صَوْمَهُ

Ibnu Umar r.a. berkata, “Nabi saw. berpuasa Asyura’ (10 Muharram) dan beliau memerintahkan (para sahabatnya) untuk melaksanakannya juga. Ketika Ramadhan diwajibkan, maka puasa Asyura’ ditinggalkan.” Abdullah (Ibn Umar) tidak lah melaksanakan puasa Asyura’ lagi kecuali bila bertepatan dengan hari-hari puasa yang biasa ia kerjakan.

Hadis ketiga, riwayat Sayyidah Aisyah r.a.

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Dari Aisyah r.a. bahwa Orang Quraisy pada zaman Jahiliyah biasa melaksanakan puasa hari Asyura’. Kemudian, Rasulullah saw. memerintahkan untuk melaksanakannya juga hingga Ramadhan diwajibkan. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mau melaksanakannya, berpuasalah, siapa yang mau tidak melaksanakannya, berbukalah.”

Sebelum Diwajibkan Puasa Ramadhan, Rasulullah saw. dan Sahabatnya Puasa Apa?

Jika menilik riwayat-riwayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa riwayat Thalhah bin Ubaidillah menunjukkan tidak adanya puasa wajib kecuali puasa Ramadhan. Sedangkan riwayat Ibnu Umar r.a. dan Sayyidah Aisyah r.a. menunjukkan adanya perintah puasa Asyura’ sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Namun, apakah perintah puasa Asyura’ tersebut bersifat wajib? Sehingga, Rasulullah saw. dan para sahabatnya diwajibkan puasa Asyura’ sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan?

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hal ini. Menurut jumhur ulama yakni pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafiiyah, sebelum puasa Ramadhan itu tidak ada kewajiban puasa sama sekali. Hal ini didasarkan pada riwayat Sahabat Mu’awiyah, bahwa Nabi saw. bersabda, “Allah tidak mewajibkan atas kalian untuk melaksanakan puasa Asyura’….” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya di akhir bab puasa.

Pendapat kedua dari kalangan ulama Hanafiyyah yang mengatakan bahwa puasa yang pertama diwajibkan adalah puasa Asyura’. Ketika puasa Ramadhan datang, maka kewajiban puasa Asyura’ tersebut dihapus/naskh. Dasarnya adalah riwayat Ibnu Umar r.a. dan Sayyidah Aisyah r.a. sebagaimana tersebut di atas, riwayat Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, dan riwayat Maslamah yang disebutkan “Siapa yang sudah makan, maka berpuasalah di sisa harinya (Asyura’), dan siapa yang belum makan, maka berpuasalah…”

Terlepas dari perbedaan tersebut, yang jelas puasa Asyura’ tersebut sekarang hanya berstatus sunnah. Sedangkan puasa yang diwajibkan bagi umat Islam adalah puasa Ramadhan. Syekh Muhammad Khudhari Bek dalam kitab Nurul Yaqin fi Siratil Mursalin menjelaskan bahwa puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Beliau juga menjelaskan bahwa Rasulullah saw. sebelum itu selalu berpuasa tiga hari dalam setiap bulannya. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Annisa Nurul Hasanah
Annisa Nurul Hasanah
Penulis adalah peneliti el-Bukhari Institute

Artikel Terkait

Artikel Terbaru