Hadis tentang Meninggalkan Keragu-raguan

Hadispedia.id – Pernahkah ragu-ragu, bimbang, galau, atau perasaan was-was menghampiri diri Anda? Lalu, bagaimana cara Anda mengatasinya? Imam Nawawi di dalam kitab Al-Arbain An-Nawawiyah telah mengajarkan kepada kita hadis tentang meninggalkan keragu-raguan sebagai berikut.

عَنْ اَبِيْ مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ:حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيْبُكَ». رواه الترمذي والنسائي وقال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Dari Abi Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib cucu kesayangan Rasulullah saw. r.a. ia berkata, “Aku hafal sabda Rasulullah saw., ‘Tinggalkanlah apapun yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu.” (H.R. imam At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadis hasan shahih”)

Hadis ini merupakan salah satu ciri sabda Nabi saw. yang jawami’ul kalim (singkat, padat, jelas, tetapi mengandung faidah yang banyak). Imam Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitab Al-Fathul Mubin bi Syarh Al-Arbain mengatakan, “Hadis ini merupakan kaidah agama yang sangat penting dan dasar dari sikap wara’ yang merupakan poros keyakinan. Juga penyelamat dari keraguan dan ketidak jelasan yang menghalangi cahaya keyakinan.”

Keragu-raguan seringkali ditimpa oleh anak muda atau ABG. Perasaan galau ingin melakukan ini dan itu. Oleh sebab itu, maka Rasulullah saw. sangat paham sekali dengan kondisi cucu kesayangannya itu; Hasan bin Ali. Sehingga, beliau memberi nasihat kepada cucunya agar meninggalkan semua hal yang meragukannya dan melakukan hal yang tidak meragukannya.

Keraguan dan kebimbangan terjadi bisa jadi disebabkan karena tidak tahuan kita akan sesuatu hal. Oleh sebab itu, maka hadis ini secara tidak langsung mendorong kita untuk terus mempelajari sesuatu, khususnya ilmu agama. Jika kita telah mengetahui suatu hal, maka pasti kita akan yakin dalam melakukannya atau mengambil keputusan.

Sering berdiskusi dan bertanya dengan orang yang lebih tahu juga dapat menghindarkan kita dari keragu-raguan akan suatu hal. Selain mempertajam akal kita dengan belajar dan berdiskusi, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mempertajam iman. Sebab, orang yang kuat imannya, maka ia pun akan terhindar dari keraguan itu. Memperkuat iman dapat dilakukan dengan melakukan ketaatan dan menghindari kemaksiatan.

Lalu, bagaimana kita dapat menentukan antara keraguan dan keyakinan? Terkait hal ini, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali di dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menyebutkan riwayat sahabat Abu Hurairah r.a. sebagaimana berikut.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda kepada seorang lelaki, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu.”

Lelaki itu bertanya, “Bagaimana saya bisa mengetahui hal itu?”

Beliau menjawab, “Jika kamu menghendaki sesuatu, maka letakkanlah tanganmu di atas dadamu. Karena sesungguhnya hati itu akan bergejolak terhadap yang haram dan tenang terhadap yang halal. Sungguh, orang muslim yang wara’ (mampu menjaga diri dari barang yang haram dan syubhat), maka ia akan meninggalkan dosa yang kecil karena khawatir akan terjerumus pada dosa besar.” Menurut imam Ibnu Rajab, hadis tersebut dhaif. Hanya saja, tetap dapat kita ambil faidahnya.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa fitrah manusia adalah condong pada kebaikan dan hal yang halal. Sehingga, ketika ia dekat dengan perkara haram atau tidak baik, maka hatinya akan bergejolak dan menolaknya.

Syekh Shalih bin Abdul Aziz dalam kitab Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah mengutip ungkapan dari sahabat Ibnu Mas’ud r.a. yang perlu kita perhatikan. Sahabat Ibnu Mas’ud r.a. berkata,

Tinggalkanlah satu perkara yang meragukanmu menuju 4000 perkara yang meragukanmu.” Artinya, perkara atau hal yang membuat kita ragu pada dasarnya sangatlah sedikit. Sedangkan perkara yang tidak meragukan itu sangat banyak sekali. Maka, segeralah berhenti pada satu hal yang meragukan itu. Tinggalkan dan jangan menoleh kepadanya lagi. Niscaya Allah akan memberikan taufiq pada kita kepada hal yang tidak meragukan.

Dr. Mustafa Dieb dalam kitab Al-Wafi memberikan penjelasan bahwa hadis ini merupakan dasar agar kita menerapkan berbagai hukum dan permasalahan hidup atas dasar keyakinan, bukan keragu-raguan. Beliau juga mengatakan bahwa sesuatu yang halal, kebenaran, dan kejujuran akan mendapatkan kedamaian dan keridhaan. Sedangkan sesuatu yang haram, kebatilan, dan dusta akan melahirkan rasa gundah dan kebencian.

Demikianlah penjelasan hadis tentang meninggalkan keragu-raguan dalam kitab Al-Arbain An-Nawawiyah. Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk agar dapat terus berada dalam koridor yang diridhai-Nya dan terhindar dari hal-hal yang meragukan. Aamiin. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Annisa Nurul Hasanah
Annisa Nurul Hasanah
Penulis adalah peneliti el-Bukhari Institute

Artikel Terkait

Artikel Terbaru