Beranda blog Halaman 58

Hadis No. 93 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab menyebut nama Allah saat wudhu,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنِ الدَّرَاوَرْدِيِّ قَالَ وَذَكَرَ رَبِيعَةُ أَنَّ تَفْسِيرَ حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ الَّذِي يَتَوَضَّأُ وَيَغْتَسِلُ وَلَا يَنْوِي وُضُوءًا لِلصَّلَاةِ وَلَا غُسْلًا لِلْجَنَابَةِ

Ahmad bin Amr bin As-Sarh telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Wahb telah menceritakan kepada kami, dari Ad-Darawardi, ia berkata, Rabi’ah menyebutkan bahwa penjelasan dari hadis Nabi saw. “Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ta’ala padanya” adalah orang yang berwudhu atau mandi janabah tetapi tidak meniatkan wudhu dan mandi janabahnya untuk shalat.

Hadis No. 92 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab menyebut nama Allah saat wudhu,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوءَ لَهُ وَلَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ

Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Musa telah menceritakan kepada kami, dari Ya’qub bin Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak mempunyai wudhu dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ta’ala padanya.”

Penjelasan:

Suci dari hadas besar maupun kecil merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Oleh sebab itu, bagi orang yang tidak memiliki wudhu alias ia masih memiliki hadas kecil, maka tidak sah baginya melaksanakan shalat.

Sementara menyebut nama Allah atau membaca basmalah ketika wudhu bagi salah satu riwayat madzhab Imam Ahmad bin Hanbal merupakan syarat sahnya wudhu. Sehingga ia wajib dilakukan ketika wudhu. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa menyebut nama Allah atau membaca basmalah saat wudhu adalah sunnah. Sehingga, bagi orang yang tidak melakukannya tidak sampai membatalkan wudhu. Hanya saja wudhunya kurang sempurna. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Hadis No. 48 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil bahwa orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga,

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ إِلَّا مُؤْخِرَةُ الرَّحْلِ فَقَالَ يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ

Haddab bin Khalid Al-Azdi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammam telah menceritakan kepada kami, Qatadah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Anas bin Malik telah menceritakan kepada kami, dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, “Aku pernah dibonceng Nabi saw. dalam suatu perjalanan, tidak ada pemisah antara aku dan beliau kecuali pelana hewan kendaraan. Beliau memanggil, “Wahai Mu’adz bin Jabal!” Aku terus menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Kemudian beliau meneruskan perjalanannya beberapa saat, lalu beliau memanggil, “Wahai Mu’adz bin Jabal.” Aku menjawab, “Aku penuhi panggilamu wahai Rasulullah.” Kemudian beliau meneruskan perjalanannya beberapa saat, lalu beliau memanggil, “Wahai Mu’adz bin Jabal.” Aku menjawab, “Aku penuhi panggilamu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Tahukah kamu hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Mu’adz berkata, aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Kemudian beliau meneruskan perjalanannya beberapa saat, lalu beliau memanggil, “Wahai Mu’adz bin Jabal.” Aku menjawab, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Tahukah kamu apa hak para hamba atas Allah jika mereka melakukan itu?” Mu’adz berkata, ‘aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Dia tidak menyiksa mereka.”

Hadis No. 47 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil bahwa orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنِ ابْنِ مُحَيْرِيزٍ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَبَكَيْتُ فَقَالَ مَهْلًا لِمَ تَبْكِي؟ فَوَاللهِ لَئِنْ اسْتُشْهِدْتُ لَأَشْهَدَنَّ لَكَ وَلَئِنْ شُفِّعْتُ لَأَشْفَعَنَّ لَكَ وَلَئِنْ اسْتَطَعْتُ لَأَنْفَعَنَّكَ ثُمَّ قَالَ وَاللهِ مَا مِنْ حَدِيثٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكُمْ فِيهِ خَيْرٌ إِلَّا حَدَّثْتُكُمُوهُ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا وَسَوْفَ أُحَدِّثُكُمُوهُ الْيَوْمَ وَقَدِ اُحِيطَ بِنَفْسِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ النَّارَ

Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Laits telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu ‘Ajlan, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Ibnu Muhairiz, dari As-Shunahi, dari Ubadah bin As-Shamit, bahwa ia berkata, “Saat saya mengunjunginya, ia dalam keadaan sakit, aku pun menangis. Maka, ia berkata, “Tahan, kenapa kamu menangis? Demi Allah, jika aku mati syahid maka aku bersaksi untukmu, dan jika aku diberi syafaat maka aku memberikan syafaat untukmu, serta jika aku mampu, maka aku memberikan manfaat untukmu.” Kemudian ia berkata, “Demi Allah, tidaklah ada suatu hadis yang aku dengar dari Rasulullah saw. untuk kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan melainkan pasti aku menceritakannya kepada kalian, kecuali satu hadis, dan saya akan menceritakan kepadamu pada hari ini. Dan sungguh aku meresapi hal tersebut pada diriku. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan neraka atasnya.”

Hadis No. 46 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil bahwa orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga,

حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ جَابِرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَيْرُ بْنُ هَانِئٍ قَالَ حَدَّثَنِي جُنَادَةُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ حَدَّثَنَا عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

وحَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ عَمَلٍ وَلَمْ يَذْكُرْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

Daud bin Rusyaid telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Walid yakni Ibnu Muslim telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Jabir, ia berkata, Umair bin Hani’ telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Junadah bin Abu Umayyah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ubadah bin Ash-Shamit telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa berkata; aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah, putra dari hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang diletakkan pada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa sesungguhnya surga itu benar dan neraka itu juga benar, maka Allah akan memasukkannya melalui delapan pintu-pintu surga yang ia kehendaki.”

Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauraqi telah menceritakan kepada kami (Al-Imam Muslim), ia berkata, Mubasyir bin Isma’il telah menceritakan kepada kami, dari Al-Auza’i, dari Umair bin Hani’ dalam sanad ini dengan semisalnya, hanya saja ia menyebutkan, ‘Allah akan memasukkannya ke surga sesuai dengan amalnya’, tanpa menyebutkan, ‘masuk dari pintu-pintu surga yang ada depalan yang ia kehendaki.’

Hadis No. 53 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab amalan-amalan tergantung niat dan tujuannya serta setiap orang mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya,

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ

Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Adi bin Tsabit telah mengabarkan kepadaku, ia berkata, aku mendengar Abdullah bin Zaid, dari Abu Mas’ud, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Apabila seseorang memberi nafkah keluarganya dengan niat mengharap pahala (ridha Allah swt.), maka baginya sedekah.”

Hadis No. 52 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab amalan-amalan tergantung niat dan tujuannya serta setiap orang mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Malik telah mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Sa’id, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Alqamah bin Waqqash, dari Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Amalan-amalan tergantung niat dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Siapa niat hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dicapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia niatkan.”

Baca syarahnya: Hadis Segala Perbuatan Ditentukan Niatnya

Hadis No. 51 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab menunaikan pembagian seperlima dari ghanimah merupakan bagian dari iman,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الجَعْدِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أَقْعُدُ مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ يُجْلِسُنِي عَلَى سَرِيرِهِ فَقَالَ أَقِمْ عِنْدِي حَتَّى أَجْعَلَ لَكَ سَهْمًا مِنْ مَالِي فَأَقَمْتُ مَعَهُ شَهْرَيْنِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ القَيْسِ لَمَّا أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ القَوْمُ؟ – أَوْ مَنِ الوَفْدُ؟ – قَالُوا رَبِيعَةُ. قَالَ مَرْحَبًا بِالقَوْمِ أَوْ بِالوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لاَ نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيكَ إِلَّا فِي الشَّهْرِ الحَرَامِ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ فَصْلٍ نُخْبِرْ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا وَنَدْخُلْ بِهِ الجَنَّةَ وَسَأَلُوهُ عَنِ الأَشْرِبَةِ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ أَمَرَهُمْ بِالإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصِيَامُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُعْطُوا مِنَ المَغْنَمِ الخُمُسَ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ عَنِ الحَنْتَمِ وَالدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالمُزَفَّتِ وَرُبَّمَا قَالَ المُقَيَّرِ وَقَالَ احْفَظُوهُنَّ وَأَخْبِرُوا بِهِنَّ مَنْ وَرَاءَكُمْ

Ali bin Al-Ja’d telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’bah telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Jamrah, ia berkata, aku pernah duduk bersama Ibnu Abbas saat ia mempersilahkan aku duduk di permadaninya lalu berkata, “Tinggallah bersamaku hingga aku memberimu bagian dari hartaku.” Maka aku tinggal mendampinginya selama dua bulan. Lalu ia berkata, “Ketika utusan Abudl Qais datang menemui Nabi saw. beliau bertanya kepada mereka, ‘Kaum manakah ini atau utusan siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Rabi’ah’. Beliau bersabda, ‘Selamat datang wahai para utusan dengan sukarela dan tanpa menyesal.’ Para utusan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak dapat mendatangimu kecuali di bulan haram, karena antara kami dan engkau ada suku kafir Mudhor. Oleh karena itu, ajarkanlah kami dengan satu pelajaran yang jelas yang dapat kami ajarkan kepada orang-orang di kampung kami dan dapat memasukkan kami ke surga.’ Kemudian mereka bertanya kepada Nabi saw. tentang minuman. Maka Nabi saw. memerintahkan mereka dengan empat hal dan melarang mereka dari empat hal. Beliau memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah satu-satunya. Beliau bertanya, ‘Tahukah kalian apa arti beriman kepada Allah satu-satunya?’ Mereka menjawab. ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau menjelaskan, ‘Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan memberikan seperlima dari harta rampasan perang.’ Beliau juga melarang empat hal, yaitu (agar tidak meminum minuman keras dari wadah yang terbuat dari) al-hantam, ad-duba’, an-naqir, dan al-muzaffat.’ Atau beliau menyebut muqayyir (bukan naqir). Beliau bersabda, “Jagalah semuanya, dan beritahukanlah kepada orang-orang di kampung kalian.”

 

Hadis No. 50 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab keutamaan orang yang memelihara agamanya,

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Zakariyya’ telah menceritakan kepada kami, dari Amir, ia berkata, aku mendengar An-Nu’man bin Basyir berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Perkara yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Antara keduanya ada perkara samar yang tidak diketahui orang banyak. Orang yang menghindari perkara samar, berarti memelihara agama dan harga dirinya. Sedangkan orang yang jatuh dalam perkara samar, seperti penggembala yang menggembala dekat daerah terlarang, tentu sangat riskan, (suatu saat hewan gembalaannya) pasti akan memasuki daerah terlarang itu. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang. Ingatlah bahwa daerah larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh pun baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

Baca juga syarahnya: Hadis tentang Perkara yang Halal, Haram, dan Syubhat

Hadis No. 49 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab pernyataan malaikat Jibril kepada Nabi saw. tentang iman, Islam, ihsan, dan pengetahuan tentang hari Kiamat,

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ أَنَّ هِرَقْلَ قَالَ لَهُ سَأَلْتُكَ هَلْ يَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ؟ فَزَعَمْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ وَكَذَلِكَ الإِيمَانُ حَتَّى يَتِمَّ وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ؟ فَزَعَمْتَ أَنْ لاَ وَكَذَلِكَ الإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ القُلُوبَ لاَ يَسْخَطُهُ أَحَدٌ

Ibrahim bin Hamzah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami, dari Shalih, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadanya, ia berkata, Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadaku, bahwa Raja Heraklius berkata kepadanya, “Aku pernah bertanya kepadamu, apakah jumlah mereka (pengikut Nabi saw.) bertambah atau berkurang? Maka kamu bertutur bahwa mereka betambah, dan memang begitulah iman akan terus berkembang hingga sempurna. Dan aku bertanya kepadamu, apakah ada orang yang murtad karena dongkol pada agamanya? Kemudian kamu bertutur; tidak ada, maka begitu juga iman bila sudah tumbuh bersemi dalam hati, tidak akan ada yang dongkol padanya.”