Sifat-sifat Fisik Terpuji Rasulullah saw. Kajian Kitab As-Syamail Al-Muhammadiyah Ke-7

Hadispedia.id.- Seperti hadis-hadis terdahulu, hadis kali ini juga masih membahas sifat-sifat fisik terpuji Rasulullah saw. dalam kitab As-Syamail Al-Muhammadiyah. Hadis berikut adalah riwayat dari Hind bin Abi Halah. Ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخْمًا مُفَخَّمًا، يَتَلَأْلَأُ وَجْهُهُ تَلَأْلُؤَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، أَطْوَلُ مِنَ الْمَرْبُوعِ، وَأَقْصَرُ مِنَ الْمُشَذَّبِ، عَظِيمُ الْهَامَةِ، رَجِلُ الشَّعْرِ، إِنِ انْفَرَقَتْ  عَقِيقَتُهُ فَرَّقَهَا، وَإِلَّا فَلَا يُجَاوِزُ شَعْرُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ إِذَا هُوَ وَفَّرَهُ، أَزْهَرُ اللَّوْنِ، وَاسِعُ الْجَبِينِ، أَزَجُّ الْحَوَاجِبِ سَوَابِغَ فِي غَيْرِ قَرَنٍ، بَيْنَهُمَا عِرْقٌ يُدِرُّهُ الْغَضَبُ، أَقْنَى الْعِرْنَيْنِ، لَهُ نُورٌ يَعْلُوهُ، يَحْسَبُهُ مَنْ لَمْ يَتَأَمَّلْهُ أَشَمَّ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، سَهْلُ الْخدَّيْنِ، ضَلِيعُ الْفَمِ، مُفْلَجُ الْأَسْنَانِ، دَقِيقُ الْمَسْرُبَةِ، كَأَنَّ عُنُقَهُ جِيدُ دُمْيَةٍ فِي صَفَاءِ الْفِضَّةِ، مُعْتَدِلُ الْخَلْقِ، بَادِنٌ مُتَمَاسِكٌ، سَوَاءُ الْبَطْنِ وَالصَّدْرِ، عَرِيضُ الصَّدْرِ، بَعِيدُ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، ضَخْمُ الْكَرَادِيسِ، أَنْوَرُ الْمُتَجَرَّدِ، مَوْصُولُ مَا بَيْنَ اللَّبَّةِ وَالسُّرَّةِ بِشَعْرٍ يَجْرِي كَالْخَطِّ، عَارِي الثَّدْيَيْنِ وَالْبَطْنِ مِمَّا سِوَى ذَلِكَ، أَشْعَرُ الذِّرَاعَيْنِ وَالْمَنْكِبَيْنِ وَأَعَالِي الصَّدْرِ، طَوِيلُ الزَّنْدَيْنِ، رَحْبُ الرَّاحَةِ، شَثْنُ الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ، سَائِلُ الْأَطْرَافِ – أَوْ قَالَ: شَائِلُ الْأَطْرَافِ – خَمْصَانُ الْأَخْمَصَيْنِ مَسِيحُ الْقَدَمَيْنِ، يَنْبُو عَنْهُمَا الْمَاءُ، إِذَا زَالَ زَالَ قَلِعًا، يَخْطُو تَكَفِّيًا، وَيَمْشِي هَوْنًا، ذَرِيعُ الْمِشْيَةِ، إِذَا مَشَى كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ صَبَبٍ، وَإِذَا الْتَفَتَ الْتَفَتَ جَمِيعًا، خَافِضُ الطَّرْفِ، نَظَرُهُ إِلَى الْأَرْضِ أَطْوَلُ مِنْ نَظَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ، جُلُّ نَظَرِهِ الْمُلَاحَظَةُ، يَسُوقُ أَصْحَابَهُ وَيَبْدَأُ مَنْ لَقِيَ بِالسَّلَامِ.

Rasulullah saw. adalah seseorang yang berjiwa besar dan berwibawa. Wajahnya cerah bagaikan bulan di bulan purnama. Beliau lebih tinggi dari orang-orang yang pendek dan lebih pendek dari orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung. Rambutnya bergelombang. Apabila beliau menyisir (ranbutnya), maka dibelahnya menjadi dua. Apabila tidak, maka ujung rambutnya tidak melampaui daun telinga. Rambutnya disisir dengan rapi, sehingga tampak selalu bersih. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah. Di antara keduanya tampak urat yang kemerah-merahan ketika marah.

Hidungnya mancung, dipuncaknya ada cahaya yang memancar, sehingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira hidungnya lebih mancung. Janggotnya tebal, kedua pipinya mulus, mulutnya lebar (serasi dengan bentuk tubuhnya), giginya agak jarang teratur rapi, bulu dadanya halus, lehernya mulus dan tegak bagaikan leher kendi. Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar, dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar dan tulang persendiaanya besar.

Badannya yang tidak ditumbuhi ranbut tanpak bercahaya. Dari pangkal leher sampai ke pusar tumbuh bulu yang tebal bagaikan garis. Kedua susu dan perutnya bersih selain yang disebut tadi. Kedua hasta, bahu dan dada bagian atas berbulu halus. Kedua ruas tulang tangannya panjang, telapak tangannya lebar. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah. Kedua kakinya licin sehingga air pun tidak menempel. Bila beliau berjalan, diangkat kakinya dengan tegap. Beliau melangkah dengan mantap dan berjalan dengan sopan. Jalannya cepat, seakan beliau turun dari tempat yang rendah. Bila beliau menoleh seseorang, maka beliau memalingkan seluruh badannya. Pandangan matanya terarah ke bawah, hingga pandangannya ke bumi lebih lama dari pandangannya ke langit. Pandangannya penuh makna. Bila ada sahabat berjalan, maka beliau berjalan dibelakangnya dan bila berpapasan maka beliau menyapanya dengan salam.

Sifat-sifat Fisik Terpuji Rasulullah saw.

Dalam kitab Faidh Al-Qadir lebar dahi meliputi kening kanan dan kiri, panjang dan lebar, hal ini dipuji dan disenangi. Kemudian alis Rasulullah saw. rapi sempurna, melengkung, seakan ujung satu dengan lainnya bertemu namun tidak bertemu. Ada urat di antara dua alisnya dan tempak ketika marah karena dipenuhi oleh darah.

Pangkal dan ujung hidung panjang, sisinya presisi, puncaknya mancung indah dan ada cahaya pada ujunya, sehingga seseorang yang tidak melihatnya dengan teliti, akan mengira itu adalah bagian dari hidung.

Janggot Rasulullah saw. itu tebal, lebat, dan pendek. Dalam kitab yang sama, Zainuddin Muhammad dalam menjelaskan gigi Rasulullah saw. ada istilah asynab -redaksi hadis- yang berarti putih, halus, renggang, dan rata.

Leher seperti damiyah penyerupaan ini dilakukan karena leher Rasulullah saw. begitu bagus bentuknya dan dikenal. Zamahsyari berpendapat, diserupakan dengan damiyah, karena tegaknya, keseimbangannya, keadaan bentuknya, kesempurnaanya serta tampilannya yang bagus. Diserupakan dengan mutiara karena warna, terang, dan keindahannya.

Pada kedua susu dan perut Rasulullah saw. tidak ditumbuhi rambut kecuali dari pangkal leher sampai pusar. Bagian dari anggota tubuh yang ditumbuhi rambut banyak pada kedua lengan, kedua bahu dan dada Rasulullah saw.

Telapak tangan yang lebar bisa diartikan sebagaimana batasan lebarnya atau bisa diartikan dengan kinayah. Zamakhsyari berpendapat, lebarnya telapak tangan menunjukkan kedermawanan, sedangkan kesempitannya menunjukkan pelit.

Rasulullah saw.  Lebih Lama Melihat ke Bumi Dibandingkan ke Langit

Uniknya cara memandang Rasulullah saw. ketika melihat sesuatu, beliau tidak pernah mencuri pandangan. Beliau melihat dengan menghadapkan seluruh badannya. Menurut Al-Qurthuby, beliau memperhatikan dengan memutarkan badannya pada sesuatu yang berada di belakang.

Rasulullah saw.  menundukkan pandangannya dengan tawaduk dan malu kepada Allah swt. Hal ini merupakan keadaan seseorang yang berharap, berpikir, dan sibuk kepada Allah swt. Dijelaskan pula oleh pandangan beliau yang lebih lama ke bumi daripada ke langit.

Demikian itu ketika beliau dalam keadaan diam dan tidak berbicara, karena beliau merupakan seseorang terus mengamati yang bersambung pikirannya. Terkadang pikirannya terpecah dan rusak kekhusyuannya diakibatkan pandangan diri  pada apa yang di bawah tanah mendahului daripada apa yang ada pada tanah. Adapun dalam keadaan selain diam dan tidak berbicara, maka terkadang Rasulullah saw. melihat ke langit, sebagaimana riwayat Abu Daud, beliau dalam keadaan berbicara melihat langit dan bukan dalam shalat. Adapun dalam keadaan shalat, pandangan beliau pada bumi. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Karimullah
Karimullah
Karimullah, Anggota CRIS Foundation aktif juga di https://terangterabaikan.blogspot.com

Artikel Terkait

Artikel Terbaru