Hadis Amalan-amalan Ringan Sempurnakan Iman

Hadispedia.id – Pada hadis kedua puluh tiga berikut ini, imam Nawawi di dalam kitab Al-Arbain An-Nawawiyah menyuguhkan hadis tentang amalan-amalan ringan yang dapat menyempurnakan iman.

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْحَارِثِ بْنِ عَاصِمٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “الطَّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيْزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآنِ -أَوْ: تَمْلَأُ- مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُوْ، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا”. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Malik; Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari r.a., ia berkata,

Rasulullah saw. bersabda, “Bersuci itu bagian dari iman, ucapan Alhamdulillah dapat memperberat timbangan, ucapan Subhanallah dan Alhamdulillah dapat memenuhi antara langit dan bumi, shalat itu cahaya, shadaqah itu bukti, sabar itu pelita, dan Al-Qur’an adalah hujjah (argumen) yang membelamu atau menuntutmu. Semua orang berusaha. Ia pertaruhkan dirinya. Ada yang untung dan ada yang rugi.” (H.R. Muslim)

Dr. Ahmad Ubaidi Hasbillah dalam kitab Al-Fawaid Al-Musthafawiyah menjelaskan bahwa iman itu memiliki bagian-bagian dan cabang-cabang. Namun, setengah dari iman itu sendiri adalah bersuci, sementara sisanya adalah melakukan kebaikan-kebaikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadis tersebut.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa bersuci merupakan hal yang pertama dilakukan untuk melakukan semua kebaikan. Bersuci itu sendiri adakalanya menyucikan badan, pikiran dan perbuatan, serta menyucikan hati.

Sucinya badan adalah dengan menyucikan badan dari hadas kecil maupun besar, serta dari segala bentuk najis. Inilah yang menjadi syarat sahnya melakukan ibadah kepada Allah swt. Oleh sebab itu, maka kita harus terus menjaga kesucian badan karena ia merupakan sebagian dari bentuk keimanan kita. Kesucian badan itu pun dapat membuat kita lebih semangat dan ringan dalam melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Baca juga: Hadis Jalan Menuju Surga

Sedangkan maksud sucinya pikiran dan perbuatan adalah menyucikan otak kita dari hawa  nafsu dan menyucikan perbuatan kita dari segala amalan yang keluar dari yang diajarkan Nabi sw. Adapun sucinya hati adalah bersihnya niat dari segala hal yang dapat menjauhkan kita dari Ridha Allah swt.

Setelah setengah keimanan kita telah diisi dengan bersuci tersebut, maka marilah kita menyempurnakan sebagian keimanan itu dengan melakukan kebaikan-kebaikan yang telah Rasulullah saw. ajarkan pada hadis tersebut.

Dr. Ahmad Ubaidi Hasbillah mengatakan bahwa bacaan tahlil (kalimah la ilaha illallah) merupakan bagian dari cara menyucikan pikiran, amalan, dan hati. Oleh sebab itu, maka dengan membaca tahlil dapat memenuhi sebagian iman kita. Sementara cara memenuhi yang sisanya adalah dengan membaca tasbih dan tahmid. Sebagaimana Rasulullah saw. sabdakan dalam hadis tersebut, bahwa hal yang dapat memenuhi timbangan iman dan amal adalah kalimah-kalimah thayyibah, yakni tasbih dan tahmid.

Cara lainnya untuk menyempurnakan keimanan kita adalah dengan melaksanakan shalat. Rasulullah saw. sendiri mengatakan shalat adalah cahaya. Imam Nawawi di dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah seseorang dari kemaksiatan, hal yang buruk dan kemungkaran.

Shalat juga dapat menunjukkan kepada kebenaran. Oleh sebab itu shalat disebut dengan cahaya. Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa dikatakan pula pahala shalat itulah cahaya bagi pemiliknya di hari Kiamat kelak. Maka, marilah kita jaga cahaya itu dengan selalu melaksanakan shalat. Niscaya kita akan selalu dituntun oleh Allah swt. baik di dunia maupun di akhirat. Jangan sampai cahaya itu redup bahkan mati dengan lalainya kita dalam mengerjakan shalat. Jika sudah mati, bagaimana bisa kita berjalan di tengah kegelapan?

Setelah setengah keimanan kita telah dipenuhi dengan kesucian, lalu setengahnya lagi kita penuhi dengan kalimat-kalimat thayyibah dan shalat, maka kesempurnaan iman itu perlu bukti. Adapun bukti kesempurnaan iman itu adalah dengan sedekah.

Dr. Mustafa Dieb di dalam kitab Al-Wafi menjelaskan bahwa manusia itu (umumnya) senang dengan harta. Bahkan cenderung bakhil. Jika ia rela mengeluarkan harta untuk Allah swt., maka hal itu menunjukkan kebenaran imannya.

Terkait dengan sabar adalah penerang, Dr. Ahmad Ubaidi Hasbillah menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan cahaya itu terkadang tidak dapat menyala. Seperti halnya cahaya di rumah kita, ia butuh listrik untuk dapat menyala. Begitu juga dengan shalat adalah cahaya pun butuh sesuatu agar ia dapat menyala. Sesuatu itu adalah sabar. Seseorang yang tidak sabar dalam menjalankan ketaatan berupa shalat, maka ia telah mematikan cahayanya. Sehingga, shalat itu butuh kesabaran dan sabar dalam menjalankan ketaatan itu lebih berat daripada sabar ketika mendapatkan musibah.

Lalu, apa maksud Al-Qur’an adalah hujjah yang dapat membela atau justru dapat menuntutmu?. Imam Nawawi telah menerangkannya di dalam Syarah Shahih Muslim. Al-Qur’an dapat menjadi pembela dan memberi manfaat kepada kita jika kita mau membacanya dan mengamalkan isinya. Namun, jika kita tidak mau membaca dan mengamalkannya, niscaya ia akan menuntut kita.

Baca juga: Inilah Adab-adab yang Harus Dimiliki Oleh Muhaddits

Terakhir, pesan dalam hadis di atas adalah setiap orang itu berusaha, ada yang beruntung dan ada pula yang rugi. Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud orang yang menjual dirinya lalu ia beruntung adalah ia menjual dirinya kepada Allah swt. dengan menjalankan ketaatan. Sehingga ia beruntung dan dapat terbebas dari siksa api neraka. Namun, ada pula yang menjual dirinya kepada setan dan hawa nafsu. Sehingga ia terus mengikuti perintah mereka. Maka hal inilah yang dapat merugikan dan menghancurkannya.

Demikianlah penjelasan hadis kedua puluh tiga dalam kitab Al-Arbain An-Nawawiyah. Semoga kita senantiasa diberikan taufiq oleh Allah swt. untuk dapat menjalankan pesan dari Rasulullah saw. dalam hadis tersebut. Yakni selalu menyucikan hati, membaca kalimat thayyibah, shalat, sedekah, sabar, membaca dan mengamalkan isi Al-Qur’an, serta menaati perintah Allah swt. Amalan-amalan tersebutlah yang dapat menyempurnakan iman kita. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Annisa Nurul Hasanah
Annisa Nurul Hasanah
Penulis adalah peneliti el-Bukhari Institute

Artikel Terkait

spot_img

Artikel Terbaru