Hadis Tiga Etika Orang Beriman

Hadispedia.id – Pada hadis kelima belas dalam kitab Al-Arbain, imam Nawawi membahas hadis tiga etika orang beriman, yakni berkata yang baik, menghormati tetangga, dan menghormati tamu. 

عَنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ» رواه البخاري ومسلم.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Pada hadis tersebut, Rasulullah saw. menyandingkan kata Allah dengan hari akhir. Bukan dengan rukun iman yang lainnya. Hal ini mengisyaratkan pada yang awal dan yang akhir. Artinya orang beriman itu percaya kepada Allah (sebagai Dzat yang Awal) yang telah menciptakannya dan mengawasi semua tindak tanduknya.

Orang tersebut juga percaya bahwa semua yang ia lakukan dan ucapkan pasti akan mendapatkan balasannya di hari akhir/kiamat. Maka, orang yang tingkat iman/kepercayaannya telah sempurna itu pasti akan melakukan tiga etika yang disebutkan Rasulullah saw. pada hadis tersebut.

Pertama, berkata yang baik atau diam. Ketika seseorang telah menginternalisasi keimanan dalam dirinya, maka ia akan berhati-hati dalam berbicara. Ia akan berpikir dahulu terhadap apa yang akan ia ucapkan. Jika mendatangkan kebaikan, barulah ia ucapkan. Sebaliknya, jika justru mendatangkan keburukan, ia menahan dan tidak mengucapkannya.

Allah swt. berfirman, “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaf: 18). Ayat tersebut juga menegaskan bahwa setiap perkataan akan dihisab. Hanya ada dua kemungkinan, pahala atau siksa.

Berbicara itu wajib dilakukan ketika diperlukan, terutama untuk menjelaskan kebenaran dan amar makruf nahi mungkar. Hal ini disebabkan karena orang yang mendiamkan kebenaran pada dasarnya adalah setan yang bisu. Hanya saja, tetap harus dilakukan dengan adab atau cara yang baik. Jangan sampai menimbulkan kemungkaran/kemadharatan yang baru.

Baca juga: Hadis Terjaganya Jiwa Seorang Muslim

Pesan pertama Rasulullah saw. tersebut sangat penting sekali di era serba sosial media dan digital saat ini. Betapa tidak, banyak sekali orang yang dengan mudahnya melontarkan perkataan buruk dan menulis komentar yang tidak baik di akun sosial media milik orang lain. Ia tidak mengindahkan sama sekali perasaan milik akun sosial media itu. Mungkin ada yang niatnya baik untuk memberi saran dan kritik. Tetap saja, tentunya harus dengan cara yang baik. Jika tidak mampu, maka cukup tidak perlu berkomentar.

Kedua, berbuat baik kepada tetangga. Allah swt. di dalam Q.S. An-Nisa’: 36 pun memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga. Saking pentingnya hal ini, sampai di dalam hadis riwayat imam Al-Bukhari dari Sayyidah Aisyah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Jibril terus mewasiatiku perihal tetangga. Hingga saya menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.”

Dr. Mustafa Dieb di dalam kitab Al-Wafi menjelaskan di antara cara berbuat baik kepada tetangga. 1. Membantu kebutuhannya. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Umar r.a. berkata, “Jangan sampai seorang mukmin kenyang sedang tetangganya kelaparan.”

2. Memberikan sesuatu yang bermanfaat. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jangan sampai kamu melarang tetanggamu memasang kayu pada dindingmu.”

3. Memberi hadiah. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah merendahkan hadiah kepada tetangga meskipun hanya tulang yang sedikit sekali dagingnya.”

Berbuat baik dan menghormati tetangga tersebut bisa dilakukan minimal dengan berkata serta berkomunikasi yang baik dengan mereka. Sebagaimana pesan pertama dalam hadis ini.

Baca juga: Hadis tentang Meninggalkan Keragu-raguan

Ketiga, menghormati tamu. Salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang adalah ia mau menghormati tamu yang datang ke rumah atau instansinya. Menghormati bisa dalam bentuk bersikap ramah, berbicara dengan baik, dan bersegera menyajikan jamuan dengan makanan yang ada.

Dr. Mustafa Dieb menjelaskan bahwa hendaknya orang yang bertamu tidak memberatkan dan tidak mengganggu orang yang dikunjungi. Seperti menginap lebih dari tiga hari atau menginap selama sehari dan ia tahu bahwa orang yang dikunjungi itu tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya.

Bahkan disebutkan dalam hadis riwayat imam Muslim dari Abu Syuraih r.a., Rasulullah saw. menyebut orang tersebut berdosa. Sehingga orang yang bertamu pun harus mengetahui etika dalam bertamu.

Manusia senantiasa hidup berdampingan satu dengan lainnya. Oleh sebab itu, maka hadis ini sangat penting sekali direnungkan, diresapi, dan dijadikan pedoman sehari-hari bagi umat muslim. Sehingga, jika setiap muslim mau mengamalkan hadis ini, maka niscaya terciptalah masyarakat yang saling berkomunikasi dengan baik, saling menghormati, dan saling menyayangi. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Annisa Nurul Hasanah
Annisa Nurul Hasanah
Penulis adalah peneliti el-Bukhari Institute

Artikel Terkait

Artikel Terbaru