Beranda blog Halaman 33

Biografi Muhammad Rasyid Ridha

0
Rasyid Ridha
Rasyid Ridha

Hadispedia.id – Rasyid Ridha merupakan seorang ulama ahli hadis dan fikih yang mempunyai pemikiran modernisme dan bermadzhab sunni Syafi’i. Ia memiliki nama lengkap Sayyid Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhammad Bahauddin. Termasuk keturunan dari keluarga terhormat yang lahir di kota Qalamun pada tanggal 27 Jumadil Awal 1282 H/ 23 September 1865 M. Kota kelahirannya termasuk daerah yang mempunyai tradisi Sunni yang sangat kuat. Kedua orang tuanya termasuk keturunan Rasulullah saw dari jalur al-Husain putra dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah putri nabi Muhammad saw. Ayahnya yang bernama Sayyid Ali Ridha merupakan seorang Sunni yang bermadhab Syafi’i. Jadi sejak kecil Rasyid Ridha sudah dikelilingi dengan tradisi sunni yang mempengaruhi terhadap pemikirannya.

Latar Belakang Pendidikan

Sejak kecil, Rasyid Ridha sudah mulai belajar menulis, berhitung, tidak lupa belajar Al-Quran, nahwu, serta menghafal beberapa juz al-Qur’an di taman pendidikan yang dinamai dengan al-Kuttab. Pada usia tujuh tahun, Rasyid Ridha sekolah di tingkat Ibtidaiyyah al-Rasyidiyah yang berada di kotanya. Di sini, ia belajar ilmu nahwu, sharaf, aqidah, ilmu hisab, fikih, dan ilmu lainnya. Selain itu, ia juga belajar bahasa Turki sebagai pengantarnya karena kota Lubnan saat itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Turki. Akan tetapi, Rasyid Ridha meninggalkan sekolah tersebut, kemudian pindah ke madrasah al-Wataniyyah  al-Islamiyyah. Madrasah ini merupakan sekolah unggulan yang menggunakan bahasa Arab dalam proses pembelajarannya, kecuali saat materinya bahasa Turki dan Prancis.

Kecerdasan dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan sudah muncul sejak masa kecilnya, itu dibuktikan dengan waktu masa kecilnya Rasyid Ridha yang lebih sering dihabiskan untuk belajar dan membaca buku dari pada bermain dengan teman sebayanya. Ketika umur Rasyid Ridha beranjak remaja, Ia mulai mendalami kitab-kitab adab dan kitab-kitab tasawuf, seperti kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Abu Hamid al-Ghazali. Kitab ini juga yang memberi dampak baik terhadap Rasyid Ridha mengenai agama, akhlak, ilmu, dan pengamalannya. Pada tahun 1897 M, Rasyid Ridha pergi ke Mesir untuk menimba ilmu kepada Muhammad Abduh sampai pada tahun 1905 M.

Pemikirannya tentang Ilmu Hadis

Rasyid Ridha tidak menyebutkan secara jelas kaidah atau indikator sebuah hadis bisa dikatakan shahih. Tapi kita bisa lihat pada karya-karya beliau dalam mengaplikasikan hadis nabi. Jelasnya Ia sangat berhati-hati dalam memaknai sebuah hadis karena hadis sebagai sumber hukum kedua dalam agama Islam, yang harus diteliti secara seksama agar dapat diketahui antara hadis yang shahih dan tidak shahih.

Meskipun ada hadis yang tidak shahih, Rasyid Ridha tetap memuliakan karena hadis-hadis nabi itu sangat menakjubkan yang bisa memperlihatkan kefasihan dan kearifannya. Dalam mengamalkan sebuah hadis, Ia memilih hadis yang autentik dan menafsirkannya sesuai dengan kemaslahatan umat muslim yang berlandasan pada Al-Qur’an dan ilmu syariat. Menurutnya, melakukan ijtihad terhadap kualitas hadis, hanya boleh dilakukan terhadap hadis-hadis yang memiliki satu atau beberapa sanad saja, baik periwayatannya meragukan atau tidak.

Karya-Karyanya

Selama masa hidupnya Rasyid Ridha banyak menghasilkan banyak karya di antaranya:

  1. Al-Wahyu al-Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad)
  2. Yusr al-Islam wa Usul at-Tasyri’ al-‘Am (Kemudahan Agama Islam dan Dasar-Dasar Umum Penetapan Hukum Islam)
  3. Zikra al-Maulid an-Nabawi (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW)
  4. Tarikh al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh ‘Abduh (Sejarah Guru Syaikh Muhammad Abduh)
  5. Al-Khilafah wa al-Imamah al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-Imam Besar)
  6. Al-Muhawarah al-Muslih wa al-Muqallid (Dialog antara Kaum Pembaharu dan Konservatif)
  7. Haquq al-Mar’ah As-Salihah (Hak-Hak Wanita Muslim)
  8. Nida’ Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan Terhadap Kaum Wanita)

Biografi Singkat Syaikh Al-Albani

0
Syeikh Al-Albani
Syeikh Al-Albani

Syaikh al-Albani adalah seorang ahli hadis kontemporer yang bernama lengkap Muhammad Nasr al-Din Ibn Nuh Najati al-Albani. Ia akrab di telinga para umat Islam dengan julukan al-Albani, nama ini dinisbatkan kepada negara tempat asalnya yaitu Albania. Albani lahir pada tahun 1914 M di kota Ashqudirah sebuah nama ibu kota yang berada di negara Albania di masa lampau.  Ayahnya bernama Haji Nuh al-Najati merupakan seorang ulama yang alim dalam bidang ilmu syari’at dan salah satu pemuka mazhab Hanafi. Pendidikan al-Albani hanya sampai tingkat Ibtidaiyyah, karena untuk pendidikan selanjutnya, Ia banyak melakukan studi intensif kepada para masyayikh yang berada di sekitar tempat tinggalnya.

Pendidikan Syaikh al-Albani

Ulama hadis yang mempunyai nama julukan syaikh Albani ini tumbuh dari keluarga kurang mampu. Meskipun dari segi ekonominya tidak baik, bukan berarti mematahkan semangat ayahnya untuk menjadikan Albani sebagai seorang yang ahli ilmu dalam agamanya. Ketika berumur kurang lebih 9 tahun, ayahnya memasukan ke madrasah Jam’iyyah al-‘Is’af al-Khairi, sampai tamat dalam menyelesaikan pembelajaran di madrasah tersebut. Selepas dari menyelesaikan sekolah dasarnya, Ayah Albani membuatkan kurikulum khusus agar putranya bisa lebih fokus dalam belajar ilmu agama. Melalui ayahnya ini, Ia belajar Al-Quran beserta ilmu tajwidnya, ilmu sharaf dan ilmu fiqh yang bermadzhab Hanafi.

Pembelajaran al-Albani tidak berhenti di situ, Ia juga belajar kepada ulama-ulama yang ada di daerah tempat tinggalnya. Termasuk belajar bahasa Arab kepada Syaikh Sa’id al-Burhaini dengan menggunakan kitab Maraqi al-Falah, serta berbagai kitab ilmu Balaghah. Selain itu, ia juga mendapatkan ijazah ilmu hadis dari ulama terkenal yang bernama Syaikh al-Tabbakh. Dari sini lah, Albani mulai mempelajari ilmu hadis. Di saat menginjak umur 20 tahun, Ia mulai berkonsentrasi terhadap ilmu hadis. Hal ini merupakan pengaruh dari ketertarikan Albani terhadap pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar terbitan dari Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, berupa sebuah makalah studi kritik hadis terhadap kitab Ihya ‘Ulum al-Din karangan imam Ghazali.

Kehebatan ilmu hadis yang sangat luar biasa mampu memikat hati Albani, sehingga memudarlah ideologi madzhab Hanafi yang telah lama ditanamkan oleh ayahnya. Semenjak itu al-Albani bukan lah seseorang yang mengacu kepada madzhab Hanafi. Setiap ada hukum agama yang muncul dari pendapat tertentu, pasti akan dicerna terlebih dahulu dengan berlandasan pada kesahihan hadis Nabi Muhammad saw. Di samping itu, al-Albani sering menghadiri majelis ilmu dan acara seminar-seminar ulama besar Syaikh Muhammad Bahjat al-Baitar seorang tokoh ulama yang sangat ahli dalam ilmu hadis beserta sanadnya. Melalui acara tersebut, banyak manfaat yang bisa diambil oleh al-Albani sehingga tampaklah kecerdasannya dalam bidang ilmu hadis.

Pemikiran al-Albani Terhadap Ilmu Hadis

Al-Albani sering melihat tulisan-tulisan Islami dengan menyantumkan hadis-hadis yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad saw. tanpa menyertakan sumber kitab hadisnya, dengan alasan semua hadis itu shahih. Padahal realitinya di antara beragam hadis masih terdapat hadis yang lemah dan palsu. Melihat adanya kejadian ini, al-Albani memberikan keritikan bahwa tidak dibenarkan bagi seorang muslim yang menisbatkan suatu hadis kepada nabi Muhammad saw. melainkan setelah menemukan keontetikan hadis tersebut yang sesuai dengan kaidah para ahli hadis. Ia mengeluarkan pendapat ini berlandasan pada sebuah hadis nabi sebagaimana berikut.

عَنْ ابن عَبَّاسٍ عن النبي ﷺ قال : اِتَّقُوا الحَدِيْثَ عَنِّي إِلَّا مَا عَلِمْتُمْ، فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad saw “Takutlah menyampaikan hadis dariku, kecuali apa yang telah kamu ketahui. Sebab, barang siapa dengan sengaja berdusta kepada ku, maka hendaklah Ia menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka” (HR. Abi Syaiban dengan sanad shahih seperti yang telah disebutkan dalam kitab Faidh Al Qadir).

Pembahasan mengenai keontetikan hadis, al-Albani memberikan dua pedoman untuk mengetahui keadaan hadis tersebut. Pertama, seseorang harus meneliti sanad beserta periwayatan hadisnya dan disesuaikan dengan kaidah dasar ilmu hadis. Keshahihan atau kedha’ifan sebuah hadis bukan di sebabkan taqlid terhadap imam tertentu yang menshahihkan atau mendha’ifkan nya. Kedua, berpedoman pada kitab tertentu yang sengaja disusun secara khusus oleh penulisnya untuk mengumpulkan hadis-hadis shahih. Seperti kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Atau bisa juga berpedoman pada perkataan para peneliti hadis di kalangan ulama hadis seperti Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim. Pedoman yang kedua ini masih membutuhkan sedikit kesungguhan dalam memeriksa kembali sumber hadisnya.

Karya-Karya al-Albani

Al-Albani berkecimpung dalam ilmu hadis beserta ilmu Islam lainnya kurang lebih selama enam puluh tahun dan telah membuahkan karya-karya besar di antaranya:

  1. Irwa’ al-Galil fi Takhrij al-Hadis Manar al-Sabil
  2. Tamaam al-Minnah fi al-Ta’fiq ‘ala Fiqh al-Sunnah
  3. Talkhish Shifat Shalat al-Nabawi
  4. Silsilah al-Hadis al-Da’ifah wa al-Maudu’ah wa Atsaruha al-Sayyi’ fi al-Ummah.
  5. Tahqiq Ma’na al-Sunnah karya Sulaiman al-Nadwi. Albani mentakhrij hadis-hadisnya.
  6. At-Targhib wa Tarhib
  7. Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah
  8. Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi
  9. Sahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud
  10. Talkhis Ahkam al-Jana’iz

 

 

 

 

 

Hadis No. 128 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab mengusap kedua khuff,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، حَدَّثَنِي عَبَّادُ بْنُ زِيَادٍ، أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ الْمُغِيرَةَ، يَقُولُ: عَدَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَا مَعَهُ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَعَدَلْتُ مَعَهُ، فَأَنَاخَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَبَرَّزَ، ثُمَّ جَاءَ فَسَكَبْتُ عَلَى يَدِهِ مِنَ الإِدَاوَةِ، فَغَسَلَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ، ثُمَّ حَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ، فَضَاقَ كُمَّا جُبَّتِهِ، فَأَدْخَلَ يَدَيْهِ فَأَخْرَجَهُمَا مِنْ تَحْتِ الْجُبَّةِ، فَغَسَلَهُمَا إِلَى الْمِرْفَقِ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ عَلَى خُفَّيْهِ، ثُمَّ رَكِبَ، فَأَقْبَلْنَا نَسِيرُ حَتَّى نَجِدَ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ قَدْ قَدَّمُوا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، فَصَلَّى بِهِمْ حِينَ كَانَ وَقْتُ الصَّلَاةِ وَوَجَدْنَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَفَّ مَعَ الْمُسْلِمِينَ فَصَلَّى وَرَاءَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ، ثُمَّ سَلَّمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاتِهِ فَفَزِعَ الْمُسْلِمُونَ، فَأَكْثَرُوا التَّسْبِيحَ لِأَنَّهُمْ سَبَقُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّلَاةِ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لَهُمْ: «قَدْ أَصَبْتُمْ – أَوْ قَدْ أَحْسَنْتُمْ

Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Yunus bin Yazid telah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dia berkata, Abbad bin Ziyad telah menceritakan kepadaku, bahwa Urwah bin Al-Mughirah bin Syu’bah telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah mendengar ayahnya; Al-Mughirah berkata, “Pada waktu perang Tabuk sebelum fajar Rasulullah saw. pernah berjalan menyimpang dari jalan (para sahabat), maka aku turut menyimpang dari jalan menyertai beliau. Lalu Nabi saw. menderumkan kendaraan beliau, lalu beliau buang hajat. Setelah selesai, aku tuangkan ke tangan beliau air dari bejana. Beliau membasuh kedua telapak tangannya lalu mencuci muka. Setelah itu beliau menyingsingkan kedua lengan jubah beliau yang terbuka dan terasa sempit, maka beliau memasukkan keduanya kembali kemudian mengeluarkan keduanya dari bawah jubah, lantas beliau membasuh kedua tangan sampai ke siku, dan mengusap kepala, lalu mengusap bagian atas khuf beliau. Setelah itu beliau naik kendaraan, dan kami meneruskan perjalanan, hingga kami mendapati orang-orang (para sahabat) tengah mengerjakan shalat, mereka angkat Abdurrahman bin Auf sebagai imam, dia mengerjakan shalat bersama mereka pada awal waktunya dan kami mendapatkan Abdurrahman bin Auf telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh bersama mereka. Maka datanglah Rasulullah saw. dan masuk ke dalam shaf bersama kaum muslimin dan mengerjakan shalat di belakang Abdurrahman bin Auf untuk rakaat yang kedua. Setelah Abdurrahman salam, lalu banyak di antara mereka yang membaca “Subhanallah”, karena mereka telah mendahului Nabi saw. dalam shalat. Setelah Rasulullah saw. salam, beliau bersabda, “Benar apa yang kalian lakukan” atau “Bagus apa yang kalian lakukan.”

Hadis No. 91 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab marah pada saat memberikan pengarahan dan pelajaran jika dipandang ada suatu perkara yang dibenci,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ المَلِكِ بْنُ عَمْرٍو العَقَدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ المَدِينِيُّ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى المُنْبَعِثِ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنِ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: «اعْرِفْ وِكَاءَهَا، أَوْ قَالَ وِعَاءَهَا، وَعِفَاصَهَا، ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً، ثُمَّ اسْتَمْتِعْ بِهَا، فَإِنْ جَاءَ رَبُّهَا فَأَدِّهَا إِلَيْهِ» قَالَ: فَضَالَّةُ الإِبِلِ؟ فَغَضِبَ حَتَّى احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ، أَوْ قَالَ احْمَرَّ وَجْهُهُ، فَقَالَ: «وَمَا لَكَ وَلَهَا، مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ المَاءَ وَتَرْعَى الشَّجَرَ، فَذَرْهَا حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا» قَالَ: فَضَالَّةُ الغَنَمِ؟ قَالَ: لَكَ، أَوْ لِأَخِيكَ، أَوْ لِلذِّئْبِ

Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Abdul Malik bin Amr Al-Aqadi telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Sulaiman bin Bilal Al-Madini telah menceritakan kepada kami, dari Rabiah bin Abu Abdirrahman, dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid Al-Juhaini, bahwa Nabi saw. pernah ditanya oleh seseorang tentang barang temuan. Maka Nabi saw. bersabda, “Kenalilah tali pengikatnya, atau beliau bersabda, kantong dan tutupnya, kemudian umumkan selama satu tahun, setelah itu pergunakanlah. Jika datang pemiliknya maka berikanlah kepadanya.” Orang itu bertanya, “Bagaimana dengan orang yang menemukan unta?” Maka Nabi saw. marah hingga nampak merah mukanya, lalu berkata, “Apa urusanmu dengan unta itu?, sedang dia selalu membawa air di perutnya, bersepatu sehingga dapat hilir mudik mencari minum dan makan rerumputan, maka biarkanlah dia hingga pemiliknya datang mengambilnya.” Orang itu bertanya lagi tentang menemukan kambing, maka beliau menjawab, “Itu untuk kamu, saudaramu, atau untuk serigala?”

Hadis No. 90 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab marah pada saat memberikan pengarahan dan pelajaran jika dipandang ada suatu perkara yang dibenci,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيِّ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ، لاَ أَكَادُ أُدْرِكُ الصَّلاَةَ مِمَّا يُطَوِّلُ بِنَا فُلاَنٌ، فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْ يَوْمِئِذٍ، فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ مُنَفِّرُونَ، فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ المَرِيضَ، وَالضَّعِيفَ، وَذَا الحَاجَةِ

Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Sufyan telah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abi Khalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Abu Mas’ud Al-Anshari, dia berkata, seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sanggup shalat yang dipimpin seseorang dengan bacaaannya yang panjang.” Maka aku belum pernah melihat Nabi saw. memberi peringatan dengan lebih marah dari yang disampaikannya hari itu, beliau bersabda, “Wahai manusia, kalian membuat orang lari menjauh. Maka, barang siapa menjadi imam orang-orang, maka ringankanlah, karena di antara mereka ada orang sakit, orang lemah, dan orang yang punya keperluan.”

Hadis No. 89 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab saling bergantian dalam menuntut ilmu,

حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، ح قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَقَالَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عُمَرَ، قَالَ: كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنَ الأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي المَدِينَةِ وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا، فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ اليَوْمِ مِنَ الوَحْيِ وَغَيْرِهِ، وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ، فَنَزَلَ صَاحِبِي الأَنْصَارِيُّ يَوْمَ نَوْبَتِهِ، فَضَرَبَ بَابِي ضَرْبًا شَدِيدًا، فَقَالَ: أَثَمَّ هُوَ؟ فَفَزِعْتُ فَخَرَجْتُ إِلَيْهِ، فَقَالَ: قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ عَظِيمٌ. قَالَ: فَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ فَإِذَا هِيَ تَبْكِي، فَقُلْتُ: طَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: لاَ أَدْرِي، ثُمَّ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ وَأَنَا قَائِمٌ: أَطَلَّقْتَ نِسَاءَكَ؟ قَالَ: «لاَ» فَقُلْتُ: اللَّهُ أَكْبَرُ

Abul Yaman telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Syuaib telah mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, ha’ (at-tahwil), Abu Abdillah berkata, Ibnu Wahb berkata, Yunus telah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Abu Tsaur, dari Abdullah bin Abbas, dari umar, dia berkata, “Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid, dia termasuk orang kepercayaan di Madinah, kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasullullah saw., sehari aku yang menemui beliau dan hari lain dia yang menemui beliau. Jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun melakukan hal yang sama. Ketika hari giliran tetanggaku tiba, dia datang kepadaku dengan mengetuk pintuku dengan sangat keras, seraya berkata, “Apakah dia ada di sana?” Maka aku kaget dan keluar menemuinya. Dia berkata, “Telah terjadi persoalan yang gawat! Umar berkata, “Aku pergi menemui Hafshah, dan ternyata dia sedang menangis, aku bertanya kepadanya, “Apakah Rasulullah saw. menceraikanmu?” Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” Maka aku menemui Nabi saw. sambil berdiri aku tanyakan, “Apakah engkau menceraikan istri-istri engkau?” Nabi saw. menjawab, “Tidak”. Maka aku ucapkan, “Allah Maha Besar.”

Hadis No. 88 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab mengadakan perjalanan tentang masalah yang terjadi dan mengajarkan kepada keluarganya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الحَسَنِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الحَارِثِ، أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لِأَبِي إِهَابِ بْنِ عُزَيْزٍ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ، فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ: مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي، وَلاَ أَخْبَرْتِنِي، فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ» فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ، وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ

Muhammad bin Muqatil Abu Al-Hasan telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Abdullah telah mengabarkan kepada kami, dia berkata, Umar bin Sa’id bin Abu Husain telah mengabarkan kepada kami, dia berkata, Abdullah bin Abu Mulaikah telah menceritakan kepadaku, dari Uqbah bin Al-Haris, bahwa dia menikahi seorang perempuan putri Abu Ihab bin Uzaiz. Lalu datanglah seorang perempuan seraya berkata, “Aku pernah menyusui Uqbah dan wanita yang dinikahinya itu.” Maka Uqbah berkata kepada perempuan itu, “Aku tidak tahu kalau kamu pernah menyusuiku dan kamu tidak memberitahu aku.” Maka Uqbah mengendarai kendaraannya menemui Rasulullah saw. di Madinah dan menyampaikan masalahnya. Maka, Rasulullah saw. bersabda,”Harus bagaimana lagi, sedangkan dia sudah mengatakannya.” Maka Uqbah menceraikannya dan dia (mantan istrinya) meniah dengan lelaki lain.

Hadis No. 102 Sunan At-Tirmidzi

0
Sunan At-Tirmidzi
Sunan At-Tirmidzi

Hadispedia.id – Al-Imam At-Tirmidzi berkata di dalam Sunannya pada kitab bersuci bab mengusap sorban,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ، قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الخُفَّيْنِ؟ فَقَالَ: السُّنَّةُ يَا ابْنَ أَخِي، وَسَأَلْتُهُ عَنِ الْمَسْحِ عَلَى العِمَامَةِ؟ فَقَالَ: أَمِسَّ الشَّعَرَ الْمَاءَ

Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Bisyr bin Al-Mufadldlal telah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Ishaq, dari Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir, dia berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang mengusap kedua khuff. Beliau berkata, “Itu adalah sunnah, wahai anak saudaraku”. Dan aku bertanya kepadanya tentang mengusap sorban. Dia menjawab, “Usaplah rambut dengan air.”

Hadis No. 101 Sunan At-Tirmidzi

0
Sunan At-Tirmidzi
Sunan At-Tirmidzi

Hadispedia.id – Al-Imam At-Tirmidzi berkata di dalam Sunannya pada kitab bersuci bab mengusap sorban,

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنِ الحَكَمِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ، عَنْ بِلاَلٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَى الخُفَّيْنِ وَالخِمَارِ

Hannad telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Ali bin Mushr telah menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Al-Hakam, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Ka’b bin Ujrah, dari Bilal, bahwa Nabi saw. mengusap kedua khuff dan sorbannya.

 

 

Hadis No. 100 Sunan At-Tirmidzi

0
Sunan At-Tirmidzi
Sunan At-Tirmidzi

Hadispedia.id – Al-Imam At-Tirmidzi berkata di dalam Sunannya pada kitab bersuci bab mengusap sorban,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ القَطَّانُ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُزَنِيِّ، عَنِ الحَسَنِ، عَنِ ابْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسَحَ عَلَى الخُفَّيْنِ وَالعِمَامَةِ، قَالَ بَكْرٌ: وَقَدْ سَمِعْتُهُ مِنَ ابْنِ الْمُغِيرَةِ
قَالَ: وَذَكَرَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ فِي هَذَا الحَدِيثِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ أَنَّهُ مَسَحَ عَلَى نَاصِيَتِهِ وَعِمَامَتِهِ
وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، وَذَكَرَ بَعْضُهُمْ الْمَسْحَ عَلَى النَّاصِيَةِ وَالعِمَامَةِ، وَلَمْ يَذْكُرْ بَعْضُهُمْ النَّاصِيَةَ
وسَمِعْت أَحْمَدَ بْنَ الحَسَنِ يَقُولُ: سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ يَقُولُ: مَا رَأَيْتُ بِعَيْنِي مِثْلَ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ القَطَّانِ

قَالَ: وَفِي البَابِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةِ، وَسَلْمَانَ، وَثَوْبَانَ، وَأَبِي أُمَامَةَ
قَالَ أَبُوْ عِيْسَى: حَدِيثُ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
وَهُوَ قَوْلُ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَأَنَسٌ، وَبِهِ يَقُولُ الأَوْزَاعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ قَالُوا: يَمْسَحُ عَلَى العِمَامَةِ
وقَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالتَّابِعِينَ: لاَ يَمْسَحُ عَلَى العِمَامَةِ إِلاَّ أَنْ يَمْسَحَ بِرَأْسِهِ مَعَ العِمَامَةِ، وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيِّ
قَلَ أَبُوْ عِيْسَى: سَمِعْت الجَارُودَ بْنَ مُعَاذٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ وَكِيعَ بْنَ الجَرَّاحِ يَقُولُ: إِنْ مَسَحَ عَلَى العِمَامَةِ يُجْزِئُهُ لِلأَثَرِ

Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan telah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman At-Taimi, dari Bakr bin Abdullah Al-Muzanni, dari Al-Hasan, dari Ibnu Al-Mughirah bin Syu’bah, dari ayahnya, dia berkata, “Nabi saw. pernah berwudhu, beliau mengusap kedua khuff dan sorban.” Bakr berkata, “Sungguh aku telah mendengarnya dari Ibnu Al-Mughirah.”

Perawi berkata, “Muhammad bin Basysyar menyebutkan tentang hadis ini di tempat lain, bahwa beliau mengusap ubun-ubun dan sorbannya.” Hadis ini juga diriwayatkan dari jalur lain dari Al-Mughirah bin Syu’bah. Sebagian mereka menyebutkan lafadz, “Mengusap ubun-ubun serta sorbannya.” Sedangkan yang sebagian tidak menyebutkannya. Sementara aku mendengar Ahmad Ibnul Hasan berkata, “Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang semisal Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dengan kedua mataku.”

Perawi berkata, “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Amr bin Umayyah, Salman, Tsauban, dan Abu Umamah.”

Abu Isa berkata, “Hadis Al-Mughirah bin Syu’bah derajarnya Hasan Shahih, pendapat ini banyak diambil oleh banyak ulama dari kalangan sahabat Nabi saw., seperti Abu Bakr, Umar, dan Anas. Pendapat ini juga dipegang oleh Al-Auza’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka berkata, “Seseorang boleh mengusap sorbannya.”

Dan banyak ulama dari para sahabat Nabi saw. dan tabi’in berkata, “Seseorang tidak boleh mengusap sorbannya kecuali jika dia mengusap kepala dan sorbannya.” Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibnul Mubarak, dan Syafi’i.”

Abu Isa berkata, “Aku mendengar Al-Jarud bin Mu’adz berkata, ‘aku mendengar Waki’ Ibnul Jarrah berkata, “Jika dia hanya mengusap sorbannya, maka itu sudah mencukupinya, karena itu adalah sunnah.”