Beranda blog Halaman 38

Kritik Hadis Doa Bulan Rajab

0
hadis doa bulan rajab
hadis doa bulan rajab

Hadispedia.id – Memasuki bulan Rajab, kita disunnahkan untuk membaca doa ” Allahumma Bariklana fi Rajab wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana”. Ada keraguan sebagian masyarakat muslim Indonesia apakah itu hadis atau bukan, kalau hadis bagaimana kualitasnya? Tulisan ini akan mengulas secara luas kritik hadis doa bulan Rajab.

Nah, salah satu doa yang sering dilakukan oleh masyarakat saat bulan Rajab adalah doa berikut ini;

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”

Menurut Yunal Isra, Ketua Direktur Sekolah Hadis El-Bukhari Institute, setelah ditelusuri jalur periwayatannya ternyata doa itu diriwayatkan oleh beberapa ahli hadis. Di antaranya Abdullah ibn Ahmad dalam kitab Syakir, Imam al-Bazzar dalam Kasyful Astar, Ibn Abi al-Dunya dalam Fadhoil Ramadhon, Ibn al-Sunni dalam Kitab al-Yaum wa al-Lailah, Imam al-Thabarani dalam Mu’jam al-Ausath, Abu Nuaim dalam Hilyah al-Auliya, Imam al-Baihaqi dalam Fadhoil al-Auqath, dan Imam Nawawi dalam al-Adzkarnya juga mengutip riwayat itu.

Dari sisi kritik sanad, Yunal menjelaskan sanadnya memang bermasalah. Imam Nawawi menilainya dhoif(lemah) . Imam al-Thabarani menggolongkannya sebagai hadis Mungkar, salah seorang perawinya yang bernama Zaidah Ibn Abi al-Riqad dinilai sebagai perawi yang munkar al-hadis (perawi yang sering lupa, banyak salah atau fasiq). Ibnu Abi Hatim juga menyebutkan kalau Zaidah sering meriwayatkan hadis dari Ziyad al-Numairi dari Anas Ibn Malik berupa hadis-hadis Marfu yang Mungkar. Imam Abu Daud bilang tidak mengetahui sumbernya.

Kemudian Ziyad ibn Abdillah Al-Numairi juga dianggap dhoif oleh Ibnu Ma’in dan Abu Daud. Ibnu Hibban menilainya sebagai seorang munkar al-hadis juga. Abu Hatim menyebutkan hadisnya ditulis tapi tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (sandaran hukum).

Nah berdasarkan takhrij tersebut bisa disimpulkan, secara sanad riwayat itu memang bermasalah. Lantas apa boleh diamalkan?

Hadis ini, jelas Yunal, hanya berisi konten terkait doa dan harapan kebaikan yang tidak ada hubungannya dengan akidah ataupun ibadah mahdhah. Tapi masuk dalam ranah Fadhail (keutamaan-keutamaan) saja dan Kedhoifannya juga, menurut versi Imam Nawawi, tampaknya tidak terlalu parah, buktinya beliau tetap memasukkannya ke dalam kitabnya al-Adzkar. Padahal al-Adzkar itu beliau niatkan sebagai rujukan bagi mereka yang ahli ibadah sebagaimana Imam Nawawi menjelaskannya di bagian muqaddimah beliau di bagian awal kitab itu.

Jadi doa tersebut boleh diamalkan. Sebab syarat boleh mengamalkan hadis dhaif adalah selama hadis tersebut tidak ada hubungan dengan akidah dan ibadah mahdhah, Ulama membolehkan menggunakan hadits dho’if untuk menjelaskan fadha’il a’mal (keutamaan amalan) dalam amalan yang telah disyari’atkan dengan dalil-dalil yang shohih seperti dzikir, puasa, dan sholat. Hal ini dimaksudkan agar jiwa manusia selalu mengharapkan pahala dari amalan-amalan tersebut atau menjadi takut untuk melaksanakan suatu kejelekan.

“Asumsi sementara saya, hadis itu dhoif, tapi tidak masalah membacanya/mengamalkannya, selama tidak diyakini bahwa perkataan itu benar-benar bersumber dari Nabi Saw. Allahu A’lam..” Pungkas Yunal.

Perlu diketahui, kelas sekolah hadis online merupakan versi “maya” dari pelatihan sekolah hadis yang diselenggarakan oleh El-Bukhari Institute. Dengan demikian diharapkan agar diskusi serta pembelajaran tidak terbatas di ruang tertutup saat kelas berlangsung, tapi bisa berlanjut di sela-sela kegiatan kita sehari-hari.

Hadis No. 79 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab penjelasan bahwa mencegah kemungkaran adalah bagian dari iman dan iman itu bertambah dan berkurang serta amar makruf nahi mungkar adalah dua kewajiban,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، فِي قِصَّةِ مَرْوَانَ، وَحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ شُعْبَةَ، وَسُفْيَانَ

Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala’ telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Abu Muawiyah telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Al-A’masy telah menceritakan kepada kami, dia berkata, dari Ismail bin Raja’, dari ayahnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri dan dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Abu Sa’id Al-Khudri tentang kisah Marwan, dan hadis Abu Sa’id, dari Nabi saw. semisal hadis Syu’bah dan Sufyan.

Hadis No. 78 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab penjelasan bahwa mencegah kemungkaran adalah bagian dari iman dan iman itu bertambah dan berkurang serta amar makruf nahi mungkar adalah dua kewajiban,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ – وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ – قَالَ: أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ. فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، فَقَالَ: قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ، فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Waki’ telah menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ha’ attahwil, dan Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, keduanya dari Qais bin Muslim, dari Thari bin Syihab, – dan ini hadis Abu Bakr – dia berkata, “Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum shalat Hari Raya didirikan adalah Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya, “Shalat Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah.” Marwan menjawab, “Sungguh, apa yang ada dalam khutbah sudah banyak ditinggalkan.” Kemudian Abu Said berkata, “Sungguh, orang ini telah memutuskan (melakukan) sebagaimana yang pernah aku dengar dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman.”

Hadis No. 136 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab batasan waktu dalam mengusap (khuff),

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ طَارِقٍ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَزِينٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَيُّوبَ بْنِ قَطَنٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ عِمَارَةَ، قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ: وَكَانَ قَدْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْقِبْلَتَيْنِ، أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قَالَ: يَوْمًا؟ قَالَ: «يَوْمًا»، قَالَ: وَيَوْمَيْنِ؟ قَالَ: «وَيَوْمَيْنِ»، قَالَ: وَثَلَاثَةً؟ قَالَ: «نَعَمْ وَمَا شِئْتَ»، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: رَوَاهُ ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ الْمِصْرِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَزِينٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسِيٍّ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ عِمَارَةَ قَالَ فِيهِ: حَتَّى بَلَغَ سَبْعًا، قَالَ: رَسُولُ  اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، وَمَا بَدَا لَكَ»، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي إِسْنَادِهِ وَلَيْسَ هُوَ بِالْقَوِيِّ، وَرَوَاهُ ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَيَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ السَّيْلَحِينِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيَّوبَ وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي إِسْنَادِهِ

Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Amr bin Ar-Rabi’ bin Thariq, dia berkata, Yahya bin Ayyub telah mengabarkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Razin, dari Muhammad bin Yazid, dari Ayyub bin Qathn, dari Ubay bin Imarah, Yahya bin Ayyub berkata, dia adalah orang yang pernah shalat bersama Rasulullah saw. menghadap kedua kiblat, dia berkata, Wahai Rasulullah, apakah kau boleh mengusap kedua khuff? Beliau menjawab, “Boleh”. Dia bertanya lagi; Satu hari? Beliau menjawab, “Ya, satu hari.” Dia bertanya lagi, Tiga hari? Beliau menjawab, “Ya, sesukamu!” Abu Daud berkata, Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Maryam Al-Mishri dari Yahya bin Ayyub, dari Abdurrahman bin Razin, dari Muhammad bin Yazid bin Abi Ziyad, dari Ubadah bin Nusiy, dari Ubay bin Immarah, dia berkata di dalamnya, hingga disebutkan bilangan tujuh, dan Rasulullah saw. menjawab, “Ya, sekehendakmu.” Abu Daud berkata, Isnad hadis ini telah dipersilisihkan, dan hadis ini tidak kuat, dan telah diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Maryam dan Yahya bin Ishaq As-Sailahihi dari Yahya bin Ayyub, dan isnadnya juga diperselisihkan.”

Hadis No. 135 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab batasan waktu dalam mengusap (khuff),

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْحَكَمِ، وَحَمَّادٌ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيِّ، عَنْ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ لِلْمُسَافِرِ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، وَلِلْمُقِيمِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ»، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: رَوَاهُ مَنْصُورُ بْنُ الْمُعْتَمِرِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَيمِيِ بِإِسْنَادِهِ، قَالَ فِيهِ: وَلَوِ اسْتَزَدْنَاهُ لَزَادَنَا

Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, dari Al-Hakam dan Hammad, dari Ibrahim, dari Abu Abdillah Al-Jadali, dari Khuzaimah bin Tsabit, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Mengusap sepasang khuff untuk musafir adalah selama tiga hari, dan bagi orang yang sedang mukim adalah satu hari satu malam.” Abu Daud berkata, “Diriwayatkan oleh Manshur bin Al-Mu’tamir dari Ibrahim At-Taimi dengan sanadnya, dia menyebutkan padanya; Dan seandainya kami minta tambah kepada beliau, pasti beliau akan memberi tambahan jangka waktu kepada kami.”

Hadis No. 134 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab mengusap kedua khuff,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا ابْنُ حَيٍّ هُوَ الْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَامِرٍ الْبَجَلِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي نُعْمٍ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ؟، قَالَ: بَلْ أَنْتَ نَسِيتَ، بِهَذَا أَمَرَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلّ

Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Ibnu Hay yaitu Al-Hasan bin Shalih telah menceritakan kepada kami, dari Bukair bin Amir Al-Bajali, dari Abdurrahman bin Abu Nu’aim, dari Al-Mughirah bin Syu’bah, bahwa Rasulullah saw. pernah mengusap di bagian atas khuff (tatkala berwudhu), maka aku berkata, Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa? Beliau menjawab, “Bahkan kamu yang lupa? dengan inilah Rabbku ‘Azza wa Jalla memerintahkanku.”

Hadis No. 77 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab anjuran untuk memuliakan tetangga dan tamu serta keharusan untuk diam, kecuali dari kebenaran,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، أَنَّهُ سَمِعَ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ يُخْبِرُ، عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْخُزَاعِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Numair telah menceritakan kepada kami, semuanya dari ibnu Uyainah, Ibnu Numair berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami, dari Amr, bahwa dia pernah mendengar Nafi’ bin Jubair mengabarkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i, bahwa Nabi saw. bersabda,

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”

Hadis No. 76 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab anjuran untuk memuliakan tetangga dan tamu serta keharusan untuk diam, kecuali dari kebenaran,

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ، أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي حُصَيْنٍ، غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ: فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Isa bin Yunus telah mengabarkan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda seperti hadis Abu Hushain, hanya dia menyebutkan, “Dan hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya.”

Hadis No. 75 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab anjuran untuk memuliakan tetangga dan tamu serta keharusan untuk diam, kecuali dari kebenaran,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي حُصَيْنٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيسْكُتْ

Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Abu Al-Ahwash telah menceritakan kepada kami, dari Abu Hushain, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”

Hadis No. 74 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab anjuran untuk memuliakan tetangga dan tamu serta keharusan untuk diam, kecuali dari kebenaran,

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku, dia berkata, Ibnu Wahb telah memberitakan kepada kami, dia berkata, Yunus telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. beliau bersabda,

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”