Biografi Imam An-Nasa’i, Penyusun Kitab Sunan An-Nasa’i

Hadispedia.id – Kitab Shahih Al-Bukhari maupun Shahih Muslim merupakan kitab hadis yang tak diragukan lagi ketelitiannya. Namun, tak hanya kedua kitab tersebut, pada al-kutub al-Sittah atau kompilasi enam kitab hadis kanonik, ada kitab lainnya dari kedua kitab tersebut yang memiliki ketelitian yang tinggi. Kita mengenalnya dengan nama Kitab Sunan An-Nasa’i yang memiliki hadis dhaif paling sedikit. Hal tersebut dikarenakan ketelitian penulisnya dalam mengaudit hadis.

Beliau adalah Imam An-Nasa’i memiliki nama lengkap Abu Abdirrahman, Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Bahar bin Sinan bin Dinar Abu Abdurrahman al-Khurasani An-Nasa’i Al-Qadhi Al-Hafizh. Salah satu ulama hadis pada masa dinasti Abbasiyah yang lahir di desa Nasa’i, Khurasan pada tahun 215 H.

Khurasan memang menjadi tempat lahirnya, tetapi selanjutnya Imam An-Nasa’i memilih Makkah sebagai tempat untuk menyebar luaskan ilmu yang telah didapat selama pengembaraannya. Setelah lama menghabiskan waktu di Makkah, beliau berpindah ke Syiria, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya mendukung kaum Muawiyah secara fanatik.

Baca juga: Imam Al-Bukhari, Belajar Lebih dari Seribu Guru Hingga Lahirkan Karya Fenomenal

Integritas yang tinggi melekat kuat dalam kepribadian Imam An-Nasa’i. Beliau merupakan sosok ulama yang teliti baik dalam sikap maupun perbuatan, juga seorang yang teguh pendirian. Beliau menyampaikan apa saja yang menjadi pendapatnya dengan tegas dan lugas. Bahkan, akibat salah satu pendapatnya tentang Muawiyah, beliau harus menerima penindasan dari pengikut fanatik Muawiyah.

Berawal dari salah satu karyanya yang berjudul Al-Khasais Ali bin Abi Thalib berkisah tentang keutamaan dan kelebihan Ali bin Abi Thalib. Imam An-Nasa’i menerima tuduhan sebagai bagian dari Syi’ah. Tidak hanya karena karyanya tersebut, tuduhan itu diberikan kepada penyusun kitab Sunan An-Nasa’I ini karena pendapatnya yang dianggap menghina Muawiyah.

Kala itu, penduduk Syiria bertanya pendapat Imam An-Nasa’i tentang keutamaan Muawiyah. Kemudian Imam An-Nasa’i menjawab, “Aku tidak mengetahui adanya hadis yang menyebutkan keutamaan Muawiyah”. Namun, apabila ditelusuri latar belakang penulisan kitab Al-Khasais Ali bin Abi Thalib itu merupakan bentuk sikap netralnya Imam An-Nasa’i untuk menghadapi stigma yang terbentuk di penduduk Syiria terhadap Ali. Tujuannya, agar tidak ada lagi yang membenci Ali bin Abi Thalib.

Penindasan tersebut mengantarkan Imam An-Nasa’i pada peristirahatan terakhir. Imam An-Nasa’i wafat pada tahun 303 H tepatnya pada hari Senin di Bulan Safar. Adanya perbedaan pendapat di antara para ulama tentang di mana beliau meninggal dan dimakamkan. Al-Daruِquthni berpendapat bahwa Imam An-Nasa’i meninggal di Makkah dan dimakamkan di antara Shafa dan Marwah. Berbeda dengan Adz-Dzahabi yang menolak pendapat tersebut. Menurutnya, Imam An-Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah yang berada di Palestina kemudian dimakamkan di Baitul Maqdis. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (salah satu murid Imam an-Nasa’i) dan Abu Bakar ِِِِِAn-Naqatah.

Perjalanan Intelektual

Ketelitian serta kecerdasan Imam ِAn-Nasa’i khususnya dalam ilmu hadis terbentuk sejak dini. Beliau menghabiskan masa kecilnya dengan menghafal Al-Qur’an, memperdalam Bahasa Arab, menghafal hadis, serta proses belajar lainnya yang cukup panjang. Seperti ulama hadis lainnya, Imam An-Nasa’i juga mendatangi berbagai negara untuk memperluas keilmuannya.

Dalam perjalanannya memperluas ilmu, Imam An-Nasa’i bertemu dengan banyak ulama yang kemudian menjadi gurunya. Di antara guru ilmu hadisnya yaitu, Ishaq bin Rahawaih, Hisyam bin ‘Ammar, Muhamad bin Nadhr bin Masawir, al-Harits bin Miskin, Ishaq bin Syahin, al-Bazzar, Imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi, dan masih banyak guru-guru lainnya.

Tidak hanya memiliki banyak guru, Imam An-Nasa’i pun memiliki banyak murid yang menjadi tempat lain dalam mewariskan ilmu. Beberapa di antaranya, Abu Al-Qasim Al-Thabrani seorang pengarang dari tiga kitab Mu’jam, Abu Nashr Al-Dalaby, Al-Hasan bin Al-Khadir Al-Suyuti, Muhammad bin Musa al-Ma’muni serta para murid-murid lainnya.

Setelah bertahun-tahun dalam proses mencari ilmu, Imam An-Nasa’i menyusun sebuah kitab yang diberi nama As-Sunan Al-Kubra. Setelah penyusunan kitab ini selesai, Imam An-Nasa’i menghadiahkan kepada wali kota Ramlah sebagai tanda kehormatan. Dituliskan dalam Jurnal al-Hadi karya Azwir dengan judul Imam An-Nasa’i bahwa usai diberikan kitab tersebut, Amir bertanya, “Apakah kitab ini berisi hadis shahih?”. Lalu Imam an-Nasa’i menjawab, “Ada yang shahih, hasan, dan ada pula yang hampir serupa dengannya.”

Baca juga: Abdullah ibn Mas’ud, Sahabat yang Faqih dan Pandai Membaca Al-Qur’an

Mendengar jawaban tersebut, Amir meminta Imam An-Nasa’i untuk kembali mengaudit hadis-hadis tersebut, menuliskan hanya hadis-hadis shahih. Atas permintaan Amir tersebut lahirlah kitab As-Sunan As-Sughra yang merupakan hasil Imam An-Nasa’i menyeleksi ketat hadis-hadis di kitab Al-Sunan Al-Kubra. Terdapat 5671 hadis dalam kitab As-Sunan As-Sughra dan disusun seperti kitab Sunan lainnya yaitu mengacu pada bab pembahasan fikih.

Karya-karya Imam An-Nasa’i

Di antara karya-karya Imam An-Nasa’i, sebagai berikut.

  • As-Sunan Al-Kubra
  • As-Sunan As-Sughra. Kitab ini merupakan bentuk sederhana dari kitab Sunan Al-Kubra
  • Al-Manasik
  • Al-Khasais. Kitab yang membahas tentang keutaman para sahabat.
  • Fadhail ash-Shahabah, dan masih banyak karya lainnya.
Linda Wahyuni Adam
Linda Wahyuni Adam
Linda Wahyuni Adam, Alumni Duta Gemari Baca Batch 4 dan Mahasiswa Ilmu Alquran Tafsir IKHAC.

Artikel Terkait

Artikel Terbaru