Hadispedia.id – Semua orang pasti paham perbuatan bohong dan akibatnya. Tapi kadang memang tidak semua orang bisa merasakan akibat yang ditimbulkan dari kebohongan. Orang berbohong bisa karena banyak faktor. Berbohong karena sudah terbiasa, terpaksa, atau karena tidak tahu kalau dia sedang berbohong. Nah orang jenis ketiga ini mungkin banyak di antara kita.

Dalam Ilmu Hadis, orang yang berbohong tidak akan diterima lagi hadisnya, walaupun ia sudah bertobat. Iman An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim Jilid 1 hal 104 menjelaskan hal ini ketika mengomentari hadis,

مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Siapa yang berbohong atas namaku, maka ia menyiapkan tempatnya di neraka.(H.R. Muslim)

Beliau mengatakan bahwa jika seseorang berbohong dengan sengaja atas nama Nabi Muhammad saw. walau satu hadis, satu kali, maka seluruh pendapatnya ditolak. Sekarang bahkan muncul tokoh-tokoh yang membawa-bawa ”Islam” atas pandangan yang keliru, itu adalah situasi yang sangat buruk.

Untuk orang-orang seperti ini, menurut sebagian besar ulama seperti Ahmad ibn Hanbal dan Abu Bakar al-Hamidi, mereka mengatakan, walau orang-orang seperti ini taubat, maka hadisnya tetap tidak bisa diterima.

Setelah pembahasan hadis di atas, imam Muslim melanjutkan pembahasan Bab Larangan Membicarakan Semua Hal yang Didengar. Hal ini masih berhubungan dengan kondisi di atas. Orang yang banyak bicara cenderung banyak salah, orang yang banyak salah sangat rentan terhadap kebohongan.

Rasulullah saw. bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (أخرجه مسلم وأبو داود)

Cukuplah seseorang disebut sebagai pembohong ketika ia membicarakan semua hal yang dia dengar. (H.R. Muslim dan Abu Daud)

Dalam pepatah Indonesia, banyak bicara banyak salah. Terkait hal ini, Prof. Quraish Shihab mengutip

لَا تَكُنْ كَحَاطِبِ لَيْلٍ

Jangan seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar di malam hari.

Orang mengumpulkan semua informasi, tanpa meneliti kembali kebenaran informasi tersebut. Pesan beliau di atas seperti pesan yang juga disampaikan oleh Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah,

إِنَّهُ حَاطِبُ لَيْلٍ يَرْوِي مَا وَجَدَ، سَوَاءً كَانَ صَحِيحَا أَوْ سَقِيمَا

Ia si “pengumpul kayu di malam hari” meriwayatkan apapun yang dia dapat, apakah itu shahih atau tidak shahih.

Pesan di atas beliau sampaikan ketika AMID (Annual Meeting of Islamic Da’wah) 2021, beliau menambahkan, “Jangan semua apa yang Anda dapatkan di internet, Anda sampaikan tanpa melakukan penelitian. Kalau itu dilakukan, Anda menjadi penyebar dari kebohongan, kepalsuan dan hal-hal yang bertentangan dengan agama.