Hadis No. 88 Sunan At-Tirmidzi

Hadispedia.id – Al-Imam At-Tirmidzi berkata di dalam Sunannya pada kitab bersuci bab berwudhu karena nabidz (minuman dari perasan kurma atau anggur),

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ أَبِي فَزَارَةَ، عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: سَأَلَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا فِي إِدَاوَتِكَ؟، فَقُلْتُ: نَبِيذٌ، فَقَالَ: تَمْرَةٌ طَيِّبَةٌ، وَمَاءٌ طَهُورٌ، قَالَ: فَتَوَضَّأَ مِنْهُ
قَالَ أَبُوْ عِيْسَى: وَإِنَّمَا رُوِيَ هَذَا الحَدِيثُ عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَبُو زَيْدٍ رَجُلٌ مَجْهُولٌ عِنْدَ أَهْلِ الحَدِيثِ لاَ تُعْرَفُ لَهُ رِوَايَةٌ غَيْرُ هَذَا الحَدِيثِ
وَقَدْ رَأَى بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ الوُضُوءَ بِالنَّبِيذِ مِنْهُمْ: سُفْيَانُ، وَغَيْرُهُ
وقَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: لاَ يُتَوَضَّأُ بِالنَّبِيذِ، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ
وقَالَ إِسْحَاقُ: إِنْ ابْتُلِيَ رَجُلٌ بِهَذَا فَتَوَضَّأَ بِالنَّبِيذِ وَتَيَمَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ
قَالَ أبُوْ عِيْسَى: وَقَوْلُ مَنْ يَقُولُ: لاَ يُتَوَضَّأُ بِالنَّبِيذِ، أَقْرَبُ إِلَى الكِتَابِ وَأَشْبَهُ، لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: {فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا}

Hannad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syarik telah menceritakan kepada kami, dari Abu Fawazah, dari Abu Zaid, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Nabi saw. pernah bertanya kepadaku, “Apa yang ada di dalam embermu?” Aku pun menjawab, “Arak”. Beliau bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.” Ibnu Mas’ud berkata, “Maka beliau pun berwudhu dengannya.”

Abu Isa berkata, “Sesungguhnya hadis ini diriwayatkan oleh Abu Zaid dari Abdullah dari Nabi saw. Sedangkan Abu Zaid adalah seorang yang belum dikenal para ahli hadis. Dia tidak diketahui pernah meriwayatkan hadis kecuali hadis ini. Sebagian ahli ilmu berpandangan bahwa seseorang boleh berwudhu dengan nabidz (arak). Di antaranya adalah Sufyan At-Tsauri dan selainnya.

Dan sebagian yang lain berpandangan bahwa seseorang tidak boleh berwudhu dengan arak. Ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Ishaq berkata, “Jika seserang diuji dengan ini, maka hendaklah ia berwudhu dengan arak, tetapi aku lebih suka jika ia bertayammum.”

Abu Isa berkata; Adapun perkataan seseorang, “Tidak boleh berwudhu dengan arak”, adalah lebih dekat dengan Al-Qur’an dan lebih layak, karena Allah swt. berfirman, “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih).”

Artikel Terkait

Artikel Terbaru