Mengenal Istilah I’tibar dalam Penelitian Hadis Nabi

Hadispedia.id – Pada langkah awal penelitian hadis, kegiatan takhrij hadis dilakukan untuk menemukan hadis pada sumber-sumber aslinya yang telah diriwayatkan lengkap beserta sanadnya lalu menjelaskan derajat hadis tersebut. Apabila seluruh sanad hadis telah terhimpun maka penelitian dilanjutkan dengan proses i’tibar untuk menentukan kualitas hadis bersadarkan sumber literaturnya.

Secara leksikal, al-i’tibar (الاعتبار) adalah verbal noun atau mashdar dari kata kerja i’tabara (اعتبر) yang berarti mempertimbangkan atau memperhatikan suatu perkara untuk mengetahui perkara lain yang sejenis. Adapun dalam ilmu hadis, sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Mahmud Thahan dalam kitab Taisir Musthalah Al-Hadis:

الاِعْتِبَارُ هُوَ تَتَّبُعُ طُرُقِ حَدِيْثٍ انْفَرَدَ بِرِوَايَتِهِ رَاوٍ لِيَعْرِفَ هَلْ شَارِكُهُ فِي رِوَايَتِهِ غَيْرَهُ أَمْ لاَ

I’tibar adalah penelusuran jalur-jalur hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang rawi untuk mengetahui apakah terdapat rawi lain yang berserikat dalam riwayatnya atau tidak.”

Saat melakukan i’tibar, ada tiga elemen yang harus diperhatikan dengan seksama oleh peneliti. Elemen pertama adalah jalur sanad. Diagram yang menggambarkan skema sanad harus memiliki garis yang jelas agar jalur yang satu dengan yang lainnya dapat dibedakan secara jelas serta untuk memudahkan peneliti dalam menentukan ketersambungan sanad.

Elemen kedua yang harus dicermati adalah nama-nama perawi. Seluruh nama mulai dari perawi pertama hingga terakhir dituliskan ke dalam diagram. Seringkali, terdapat dua atau beberapa orang berbeda dengan nama yang sama ataupun nama perawi yang terdapat dalam sanad untuk matan hadis hanya sebagian menggunakan kunyah atau laqab. Karenanya, diperlukan pencarian terperinci pada setiap nama agar tidak terjadi kesalahan dalam menilai personalitas perawi.

Elemen ketiga adalah metode periwayatan yang digunakan antar perawi. Metode yang dimaksud adalah mencermati lambang periwayatan yang digunakan perawi dalam menerima dan menyampaikan riwayat atau dikenal dengan tahammul wa ada’ul hadis. Lalu menulisnya dalam diagram sesuai dengan yang tercantum dalam sanad. Lambang yang dipakai oleh masing-masing perawi menunjukkan tersambung atau tidaknya sebuah periwayatan dan tingkat akurasi perawi. Namun, lambang yang tercantum tetap harus dikaji ulang karena mungkin saja terdapat tadlis pada sanad.

I’tibar dilakukan dengan menganalisa jumlah periwayatan kemudian membuat skema jalur sanad dan nama periwayatnya dengan cermat karena apabila ada sedikit kesalahan seperti kesalahan dalam penulisan nama, maka akan berpengaruh pada saat menyimpulkan kualitas sanadnya.

Kegiatan i’tibar dalam penelitian hadis ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pendukung berupa mutabi atau syahid pada hadis yang diteliti. Adapun i’tibar sendiri bukanlah bagian dari mutabi dan syahid melainkan metode untuk menemukan keduanya. Apabila jalur sanad yang diteliti memiliki pendukung maka sanad hadis yang telah memenuhi syarat dikuatkan, layak untuk dinaikkan kualitasnya. Namun, apabila kualitas awal sanad hadis sudah sangat dhaif maka tidak dapat dikuatkan dengan jalur lain. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Isyfi Anni
Isyfi Anni
Alumni Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences

Artikel Terkait

Artikel Terbaru