Beranda blog Halaman 90

Hadis No. 23 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab rukhsah dalam hal itu (menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat) ketika di dalam rumah,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ عَمِّهِ وَاسِعِ بْنِ حَبَّانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ لَقَدْ ارْتَقَيْتُ عَلَى ظَهْرِ بَيْتِنَا فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى لَبِنَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ لِحَاجَتِهِ

Qutaibah bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, dari Malik, dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari pamannya; Wasi’ bin Habban, dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Aku pernah naik ke atap rumah kami, lalu aku melihat Rasulullah saw. sedang buang hajat di atas dua batu bata dalam keadaan menghadap ke arah Baitul maqdis.”

Hadis No. 22 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab perintah menghadap arah timur atau barat ketika buang hajat,

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا غُنْدَرٌ قَالَ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَكِنْ لِيُشَرِّقْ أَوْ لِيُغَرِّبْ

Ya’qub bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ghundar telah memberitakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Syihab telah memberitakan kepada kami, dari Atha’ bin Yazid dari Abu Ayyub Al-Anshari, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian buang air besar, maka janganlah menghadap ke arah kiblat, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”

Lihat penjelasan hadis ini di Hadis No. 21 Sunan An-Nasa’i

Hadis No. 21 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab larangan membelakangi kiblat ketika buang hajat,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Muhammad bin Manshur telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Atha’ bin Yazid dari Abu Ayyub bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya pada saat buang air besar atau buang air kecil, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”

Penjelasan:

Posisi Nabi saw. saat itu adalah berada di Madinah. Sementara, letak geografis Madinah dari Makkah adalah arah utara. Sehingga, Nabi saw. memerintahkan agar menghadap timur atau barat.

Oleh sebab itu, maka hadis tersebut tidak dapat diterapkan secara tekstual, sebab tidak sesuai dengan letak tempat Rasulullah saw. menyampaikan hadis tersebut. Misalnya di Indonesia, letak Indonesia dari Makkah adalah arah timur. Apabila kita mengamalkan hadis ‘Menghadaplah ke timur atau barat” secara tekstual, maka pengertiannya adalah “Menghadaplah ke kiblat atau membelakanginya”.

Maka, makna hadis di atas ketika kita hendak mempraktekkannya dalam konteks Indonesia adalah “Menghadaplah ke utara atau selatan”. Sehingga, orang yang buang hajat tidak menghadap kiblat atau membelakanginya.

Pemahaman hadis seperti ini disebut oleh almarhum KH. Ali Mustafa Ya’qub di dalam kitab At-Thuruq As-Shahihah fi Fahm As-Sunnah An-Nabawiyah dengan metode Geografi dalam Hadis. Hadis-hadis yang perlu dipahami dengan menggunakan ilmu geografi agar tidak keliru dalam memahaminya.

Hadis No. 20 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab larangan menghadap kiblat ketika buang hajat,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنِ ابْنِ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى طَلْحَةَ عَنْ رَافِعِ بْنِ إِسْحَاقَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِىَّ وَهُوَ بِمِصْرَ يَقُولُ وَاللَّهِ مَا أَدْرِى كَيْفَ أَصْنَعُ بِهَذِهِ الْكَرَايِيسِ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ أَوِ الْبَوْلِ فَلاَ يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلاَ يَسْتَدْبِرْهَا

Muhammad bin Salamah dan Al-Harits bin Miskin telah mengabarkan kepada kami (hadis) yang dibacakan dihadapannya dan aku mendengar sedangkan lafadz (hadis) adalah miliknya, dari Ibnu Al-Qasim, ia berkata, Malik telah menceritakan kepadaku, dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, dari Rafi’ bin Ishaq, sesungguhnya ia mendengar dari Abu Ayyub Al-Anshari, beliau berada di Mesir berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu cara memperlakukan WC-WC ini, padahal Rasulullah saw. sungguh pernah berkata, “Jika salah seorang dari kalian pergi untuk berak atau kencing, maka janganlah menghadap kiblat, jangan pula membelakanginya.”

Hadis No. 19 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab bacaan (doa) ketika masuk WC,

أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ismail telah memberitakan kepada kami, dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah saw. ketika masuk WC, beliau berdoa “Allahumma Inni ‘Audzu bika minal Khubutsi wal Khabaits (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (kejahatan) setan laki-laki dan setan perempuan).”

Penjelasan: Imam Al-Khattabi sebagaimana dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam Syarah Sunan An-Nasa’i mengatakan bahwa al-khubuts adalah bentuk jamak dari kata khabits. Artinya adalah laki-laki dari bangsa setan. Sedangkan al-khabaits adalah bentuk jamak dari kata khabitsah yang berarti perempuan dari bangsa setan.

Hadis No. 18 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab rukhsah untuk tidak menjauh saat buang hajat,

أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ قَالَ أَنْبَأَنَا الأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنْتُ أَمْشِى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا فَتَنَحَّيْتُ عَنْهُ فَدَعَانِى وَكُنْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ حَتَّى فَرَغَ ثُمَّ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Isa bin Yunus telah memberitakan kepada kami, ia berkata, Al-A’masy telah mengabarkan kepada kami, dari Syaqiq dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw. Ketika sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum, beliau kencing dengan berdiri, maka aku segera menjauh darinya. Namun, beliau memanggilku (agar menjadi satir untuk beliau), dan aku berada di belakangnya sampai beliau selesai, kemudian beliau wudhu’ dan mengusap kedua sepatu (kulit)nya.

Hadis No. 17 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab menjauh ketika hendak buang hajat,

أَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا ذَهَبَ الْمَذْهَبَ أَبْعَدَ قَالَ فَذَهَبَ لِحَاجَتِهِ – وَهُوَ فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ – فَقَالَ « ائْتِنِى بِوَضُوءٍ ». فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ. قَالَ الشَّيْخُ إِسْمَاعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرِ بْنِ أَبِى كَثِيرٍ الْقَارِئُ

Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ismail telah memberitakan kepada kami, dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Al-Mughirah bin Syu’bah bahwasannya Nabi saw. ketika hendak pergi ke WC beliau menjauh. Ia berkata, “Beliau pernah pergi untuk buang hajat, saat itu beliau sedang di tengah perjalanan, lalu beliau bersabda, ‘Ambilkan aku air wudhu.’ Aku pun segera mengambilkan air wudhu, lalu beliau berwudhu’ dan mengusap kedua sepatu (khufnya). Syekh berkata, “Ismail adalah putra Ja’far bin Abi Katsir Al-Qari’.”

Hadis No. 16 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab menjauh ketika hendak buang hajat,

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِىٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْخَطْمِىُّ عُمَيْرُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنِى الْحَارِثُ بْنُ فُضَيْلٍ وَعُمَارَةُ بْنُ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى قُرَادٍ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْخَلاَءِ وَكَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ أَبْعَدَ

Amr bin Ali telah mengabarkan kami, ia berkata, Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Ja’far Al-Khathmi Umair bin Yazid telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Harits bin Fudhail dan Umarah bin Khuzaimah bin Tsabit telah menceritakan kepadaku, dari Abdurrahman bin Abu Qurad, ia berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah saw. ke tempat yang sepi, apabila beliau hendak buang hajat, beliau menjauh.”

Hadis No. 15 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab memotong kumis dan membiarkan jenggot,

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى – هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ – عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِى نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Ubaidullah bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yahya yakni Ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami dari Ubaidullah ia berkata Nafi’ telah mengabarkan kepadaku dari Ibnu Umar dari Nabi saw., beliau bersabda, “Pendekkan kumis dan biarkanlah jenggot.”

Hadis No. 14 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam kitab Sunan-nya pada bab menentukan waktu dalam melakukan hal tersebut (fithrah-fithrah yang telah disebutkan pada hadis sebelumnya),

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ هُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ وَقَّتَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ وَنَتْفِ الْإِبْطِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ja’far yakni Ibnu Sulaiman telah menceritakan kepada kami, dari Abu ‘Imran Al-Jauni dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah saw. telah menentukan waktu bagi kita dalam masalah memotong kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencukur bulu ketiak, yaitu agar kami tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari.” Pada kesempatan lain beliau bersabda, “Empat puluh malam.”

Imam Al-Qurthubi sebagaimana dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam syarah Sunan An-Nasa’i menjelaskan bahwa disunnahkan memeriksanya (bulu kemaluan, ketiak, kuku, dan kumis) dari Jum’at ke Jum’at berikutnya. Artinya setiap hari Jum’at dibersihkan bulu dan kuku tersebut.