Peran Ahmad Lutfi Fathullah dalam Kajian Hadis di Indonesia

Hadispedia.id – Bagi sebagian kalangan terutama para pelajar hadis pasti tidak asing dengan tokoh satu ini; Dr. Ahmad Lutfi Fathullah. Ia merupakan salah seorang tokoh sentral dalam perkembangan hadis di Indonesia, khususnya di era kontemporer (masa kini). Satu gebrakannya dalam bidang hadis dan literatur keislaman lainnya ialah dengan mengembangkan kajian tersebut dalam ranah digital, sehingga akan sangat menarik untuk diketahui perihal rekam jejak serta peranannya dalam “Dunia Hadis”

Biografi Ahmad Lutfi Fathullah

Ia merupakan seorang putra Betawi tulen yang lahir pada tanggal 25 Maret 1964 di Jakarta Selatan, tepatnya di Kuningan. Ayahnya yang bernama H. Fathullah merupakan keturunan dari Guru Mughni yang merupakan salah seorang ulama besar asli Betawi di akhir 1800 M hingga awal 1900-an M. Sedangkan Ibunya ialah Hj. Nafisah yang merupakan putri seorang ketua rombongan haji. Dari background kedua orang tuanya, bisa dikatakan bahwa Ahmad Lutfi Fathullah lahir dari keluarga yang berkecukupan.

Sejak kecil, orang tuanya sudah menanamkan cita-cita kepada Ahmad Lutfi untuk menjadi seorang ulama, sehingga ia semakin termotivasi untuk mempelajari ilmu agama. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SDN 01 Kuningan Timur serta pendidikan Madrasah yang ada di lingkungannya, ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Selama 7 tahun Ahmad Lutfi mengenyam pendidikan di Gontor menjadikan ia semakin tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Hingga setelah lulus pada tahun 1985, ia mendapatkan beasiswa pendidikan untuk mengambil S1 di Damaskus University, Syiria. Di sana ia mengambil jurusan Ushul Fiqh. Dari perkuliahan ini menjadikan wawasan keagamaan Ahmad Lutfi semakin luas serta mendalam. Ia juga gemar belajar langsung dengan para guru yang ada di sana semisal syaikh Musthafa Dib Al-Bugha hingga Syaikh Wahbah Musthafa Az-Zuhaili yang merupakan profesor Islam terkemuka dan cendekiawan Islam khusus dalam bidang Syariah.

Saat ia melanjutkan pendidikan S2 nya di Jordan University, barulah ia mengambil jurusan Hadis dan Tafsir Hadis. Ia memulai S2nya pada tahun 1990. Tak hanya berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikannya lagi hingga ia mengambil gelar doktornya di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) jurusan Ilmu Hadis.

Mendirikan Pusat Kajian Hadis

Melihat cukup pesatnya perkembangan teknologi di era sekarang, menjadikan segala hal bisa dirubah dalam bentuk digital. Mulai dari penyebaran informasi, komunikasi hingga transaksi bisa dilakukan dengan bantuan digital. Momen ini pula yang tidak ingin dilewatkan oleh para pengkaji hadis yang salah satunya ialah Ahmad Lutfi Fathullah. Di tahun 2008 ia mendirikan Lembaga Pusat Kajian Hadis. Kegiatan rutin yang dilakukan di Pusat Kajian Hadis yakni membahas kitab Riyadhus Shalihin dan Bulughul Maram serta buku-buku hadis yang lain.

Selain itu, Pusat Kajian Hadis juga menyediakan pelatihan digitalisasi hadis yang pesertanya ialah para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa adanya lembaga ini sangat membantu orang untuk mengakses literatur hadis yang akan digunakan sebagai rujukan secara digital melalui perangkat lunak yang mereka miliki, dan ini bisa dilakukan dengan cepat dan mudah.

Memang gerakan digitalisasi hadis yang dilakukan oleh Pusat Kajian Hadis bukanlah hal yang baru di dunia. Bila melihat lebih luas, sudah ada beberapa aplikasi maupun website yang memberikan akses dalam pencarian literatur keislaman. Aplikasi seperti Maktabah Syamilah dan Maktabah al-Kubra merupakan dua dari sekian program pencarian literatur keislaman. Belum lagi waqfeya.net yang merupakan situs penyedia ribuan kitab rujukan keislaman yang bisa diunduh dengan format PDF.

Namun demikian, Kontribusi yang diberikan oleh Dr. Ahmad Lutfi Fathullah melalui Pusat Kajian Hadis sangatlah besar khususnya bagi masyarakat Indonesia Adapun dalam membangun program digitalnya. Pusat Kajian Hadis mencoba menganalisa kelebihan dan kekurangan dari program-program yang disebutkan sebelumnya hingga akhirnya lembaga tersebut mampu membuat aplikasi perpustakaan Islam digital yang berisi ribuan kitab klasik hingga kontemporer, dari berbagai judul kitab dan berbagai disiplin ilmu keislaman.

Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Dr. Ahmad Lutfi Fathullah merupakan suatu langkah besar khususnya bagi bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bahwa bangsa Indonesia benar-benar berdaya saing dan mampu mengimbangi antara metode dakwah dengan perkembangan teknologi yang sedang berlangsung. Dr. Ahmad Lutfi Fathullah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Ahad, 11 Juli 2021 pukul 18.22 WIB. Sebelumnya, ia dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu. Wallahu a’lam.

Mohammad Anas Fahruddin
Mohammad Anas Fahruddin
Alumni Ilmu Hadis UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Artikel Terbaru