Perawi Hadis dengan Sebutan Wuhdan

Hadispedia.id – Di antara pembahasan yang termasuk pembahasan unik dalam ilmu hadis adalah pembahasan yang dikenal dengan istilah al-wuhdan. Tujuan dari mengetahui bahasan ini adalah untuk dapat mendeteksi kemajhulan perawi hadis. Jika kemajhulan tersebut terdapat bukan pada sahabat nabi, maka otomatis hadisnya ditolak. Nah, berarti bahasan ini merupakan salah satu penentu suatu hadis dianggap dhaif dan ditolak. Lantas apakah al-wuhdan itu?

Secara bahasa, wuhdan adalah bentuk plural dari kata wahid, artinya satu. Sedangkan dalam istilah ilmu hadis, wuhdan adalah perawi-perawi hadis yang masing-masingnya hanya memiliki seorang murid saja yang meriwayatkan hadis darinya.

Para ulama ahli hadis sudah menginventarisir siapa saja orang-orang dari kalangan perawi hadis yang termasuk ke dalam kategori wuhdan ini, sehingga mereka mencatat sekian nama-nama perawi dalam kategori wuhdan. Di antara yang menulis buku khusus dalam hal ini adalah Imam Muslim, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab At-Taqrib.

Secara umum, perawi hadis yang termasuk ke dalam kategori wuhdan dapat dibagi dua kategori. Pertama perawi di kalangan Sahabat. Kedua, perawi dari kalangan selain Sahabat Nabi.

Perawi dari kalangan sahabat yang hanya memiliki satu murid ini tidak memiliki pengaruh kepada kesahihan dan kedhaifan suatu hadis, sebab para ulama sepakat bahwa semua sahabat memiliki sifat ‘adalah (memiliki kepribadian yang baik). Sehingga sekalipun hanya satu orang yang meriwayatkan hadis darinya, yang kemudian dia dianggap sebagai majhul, tetap saja hadisnya diterima.

Berbeda halnya dengan kategori kedua, perawi dari kalangan selain sahabat, yaitu tabi’in dan seterusnya. Jika dia hanya memiliki seorang murid yang meriwayatkan hadis darinya, maka sosoknya sebagai guru dianggap majhul (tidak dikenal). Ketidak-dikenalnya itu, memberikan ruang besar akan ketidak-kredibelnya dalam meriwayatkan hadis.

Oleh karena itu, hadis yang diriwayatkannya tidak dapat diterima. Kecuali jika ada faktor lain yang dapat menguatkannya, misalnya ketika hadis yang sama diriwayatkan oleh orang lain dengan jalur berbeda, maka hadis tersebut dapat menjadi penguat, sehingga hadis yang tadi dhaif dapat naik menjadi hasan li-ghairih.

Imam An-Nawawi mencatat, terdapat beberapa periwayat hadis dari kalangan tabi’in yang hanya memiliki satu murid saja yang meriwayatkan hadis darinya. Di antaranya, Abu Al-‘Usyara’ Ad-Darimi, hanya Hammad Ibn Salamah saja yang meriwayatkan hadis darinya. Begitu juga, terdapat dua puluhan guru dari Muhammad Ibn Syihab Az-Zuhri yang tidak punya murid selain dari Az-Zuhri saja. Begitu pula sosok ‘Amru ibn Dinar, memiliki sekian guru yang muridnya hanya ia seorang saja. Dan masih banyak lagi sosok seperti itu.

Di sisi lain, adanya murid-murid yang memiliki banyak guru yang termasuk ke dalam kategori wuhdan, menunjukkan adanya keseriusan dari si murid untuk menggali ilmu dari siapapun, termasuk dari sosok orang yang tidak populer sekalipun, sehingga ia dapat mengumpulkan banyak hadis Nabi saw. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Musa Wardi
Musa Wardi
Musa Wardi adalah penerima Awardee LPDP, S2 UIN Jakarta, alumnus Ilmu Hadis Darus-Sunnah, dan ia pernah mengenyam pendidikan di Al-Ahgaff University Yaman. Saat ini, ia menjadi penggiat kajian Tasawuf di Ribath Nouraniyah.

Artikel Terkait

Artikel Terbaru