Urwah bin Zubair: Sahabat yang Alim nan Faqih

Hadispedia.id – Beliau memiliki nama Abu Abdillah Urwah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushay al-Qurasyi al-Asadi yang lahir pada tahun ke 23 H. Ia merupakan salah seorang anak dari Zubair bin Awwam, yakni salah satu sahabat yang yang diberi kabar gembira dengan surga. Ia merupakan salah satu tokoh fuqaha as-Sab’ah atau tujuh tokoh fiqih kota Madinah. Oleh karenanya ia juga diberi julukan al-madani al-Faqih.

Adapun ibunya merupakan putri dari sahabat dekat Nabi saw. yakni Abu bakr. Nama ibunya adalah Asma’ bint Abu Bakr, salah seorang shahabiyah yang terkenal dan menyandang gelar dzatu nithaqain (pemilik dua ikat pinggang) atas usahanya dalam membantu dua orang yang ia cintai yakni Abu Bakr dan Rasulullah saw. saat akan melaksanakan hijrah.

Karena ibunya adalah Asma’ bint Abu Bakr, sudah pasti bila ia memiliki bibi seorang Ummul Mukminin yakni Aisyah r.a. Oleh karenanya, Urwah banyak sekali belajar dan menimba Ilmu dari Aisyah r.a. (bibinya).

Di akhir hayatnya, Urwah menghembuskan nafas terakhirnya di umur ke 67 tahun, pada tahun antara 93/94 H. Adapun tahun tersebut dikenal dengan istilah tahunnya para ahli fiqih (sanatul fuqaha). Hal ini kerena pada tahun tersebut banyak sekali para fuqaha yang meninggal dunia seperti Sa’id bin al-Musayyib.

Seorang Ahli Ibadah

Pada kitab Siyar A’lam al-Nubala, imam ad-Dzahabi banyak menukil riwayat dan kisah tentang ketaatan Urwah dalam beribadah. Satu riwayat dari ibn Syaudzabi menyatakan bahwa Urwah senantiasa membaca seperempat Al-Qur’an tiap hari dengan melihat mushaf, kemudian ia lanjutkan dengan qiyamul lail. Dan itu tidak pernah ia tinggalkan tiap malam kecuali setelah kakinya diamputasi karena terkena penyakit. Adapun saat musim panen kurma telah tiba, maka ia membuka lebar kebunnya dan mempersilahkan tiap orang untuk menikmati kurma dan membawanya pulang.

Tentang kisah kakinya yang diamputasi, dalam Tahdzib al-Kamal dikisahkan melalui riwayat putranya (Hisyam bin Urwah). Ia mengisahkan bahwa ketika ayahnya (Urwah) terkena penyakit, maka ia ditawari pengobatan oleh seorang tabib dan ia menerimanya. Namun ketika tabib tersebut akan memberikan ramuan yang bisa menghilangkan akal untuk sesaat maka Urwah menolaknya. Lantas Urwah mengatakan, “Kalau begitu, urungkan hal itu, aku tak bisa mengerti bagaimana ada orang meminum sesuatu yang bisa menghilangkan akalnya hingga ia tak mengenali Tuhannya”.

Pada akhirnya, Urwah tetap mengamputasi kakinya tanpa meminum ramuan tersebut. Dalam riwayat disebutkan bahwa yang dipotong adalah kaki kirinya. Selama proses amputasi berlangsung, tidak terdengar keluh kesah dan rasa kesakitan darinya hingga setelah semua proses selesai, Urwah berkata, “Ya Allah, sekalipun Engkau telah mengambilnya (kaki kiri), Engkau masih menyisakannya, dan bila Engkau mengujinya, Engkau juga memberi ampunan kepadanya”

Semangat dalam Menuntut Ilmu

selain karena ibadahnya yang sangat kuat, ia termasuk penyabar, terlebih dalam menimba ilmu. Seperti yang sudah disebutkan bahwa ia banyak sekali belajar agama Islam dengan bibinya yakni Ummul Mukminin Saiyyidah Aisyah r.a. Dikisahkan pula bahwa suatu saat, ketika seusai shalat Ashar di sisi Ka’bah, ia berdoa agar dijadikan sebagai seorang yang alim dan dapat mengamalkan dan mengajarkan ilmu tersebut kepada sesama. Hal ini semata-mata ia lakukan demi meraih keridhaan Allah swt.

Karena ia termasuk sahabat dari kalangan pemuda, maka ia masih semangat dalam mencari ilmu. Ia tidak mengenal putus asa dan terus menemui sisa-sisa para sahabat Rasulullah saw. yang masih hidup. Ia mendatangi rumah-rumah para sahabat satu persatu serta aktif dalam mengkuti halaqah yang mereka adakan. Adapun usaha tersebut memang membuahkan hasil sehingga apa yang menjadi doanya bisa terwujud. Atas ketekunan dan kealimannya ia menjadi salah satu dari tujuh tokoh fiqih kota Madinah (Fuqaha as-Sab’ah).

Imam Abu Mu’aim al-Asfahani dalam Hilyatul Auliya menyebutkan bahwa Urwah bin Zubair adalah orang yang telah dikabulkan permohonannya, berupaya mengemban amanat ilmunya, bersemangat dalam menjalani keta’atan untuk menggapai pahala-Nya, melalui segala musibah dan ujian dengan senantiasa mengharap ridla-Nya.

Perhatiannya dengan Hadis

Karena adanya ketertarikan ilmu yang ia miliki. Sejak dini pun ia sudah belajar hadis dari bibinya. Dikisahkan suatu ketika Aisyah menanyai Urwah dengan pertanyaan, “Wahai keponakanku, aku mendengar kabar bahwa dirimu menulis hadis dariku, kemudian setelah kamu pulang, kamu menulisnya lagi, kenapa demikian?”, maka Urwah menjawab bahwa ia juga mendengar hadis tersebut dari orang lain. lantas Aisyah menanyainya lagi, “Apakah yang kamu dengar itu berbeda artinya”, maka Urwah menjawab tidak dan Aisyah memperbolehkan hal demikian. Kisah ini dikutip oleh Musthafa al-Azami dalam karangannya Dirasat al-Hadith al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih.

Salah seorang muridnya yakni az-Zuhri menuturkan bahwa Urwah bin Zubair selalu berupaya menyenangkan para muridnya saat mengajar hadis. Ia tidak merasa puas dengan sekedar menyebarkan dan mengimla’kan hadis darinya, namun ia juga sering mengajak muridnya untuk mengingat-ingat lagi hadis yang ia sampaikan. Hasyim (putranya) juga sering membantu Urwah saat mengecek catatan hadis-hadis yang ia kumpulkan. Itu semua demi menjaga keotentikan sabda Rasulullah saw.

Al-Mizzi juga mengutip riwayat dari Sufyan bin Uyainah yang mengatkan bahwa orang yang paling memahami hadis dari Aisyah ada tiga orang, yakni al-Qasim bin Muhammad, Amrah bint Abdurrahman, dan Urwah bin Zubair. Ibn Sa’ad juga mengatakan bahwa Urwah bin Zubair termasuk salah seorang yang tsiqah, faqih, Alim, dan amanah dengan ilmunya. Wallahu A’lam

Mohammad Anas Fahruddin
Mohammad Anas Fahruddin
Alumni Ilmu Hadis UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Artikel Terbaru