Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash, Sahabat yang Gemar Menulis Hadis

Hadispedia. Id – Ia memiliki nama lengkap Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Sua’id bin Sa’id bin Sahm bin ‘Amr bin Hushoish bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Quraisy. Sedang nama ibunya adalah Raithah binti al-Hajaj bin Munabih al-Sahmiyyah. Ia biasa dipanggil Abu Muhammad atau juga Abu ‘Abdrahman, dan ini merupakan nama pemberian dari Rasulullah saw.

Ia masuk Islam terlebih dahulu dibandingkan ayahnya (‘Amr bin al-Ash). Ia merupakan sahabat yang secara perawakan berbadan tinggi, gemuk dan berwajah kemerah-merahan. Ia juga merupakan sahabat yang tangguh tidak hanya dalam masalah berperang, melainkan juga dalam urusan ibadah. Ia merupakan sosok yang alim dan rajin beribadah.

Mahmud al-Thahhan dalam Taysir Musthalah al-Hadis menyebtkan bahwa Abdullah bin ‘Amr merupakan salah satu dari empat orang sahabat yang bernama Abdullah. Tiga di antaranya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Zubair. Keistimewaan mereka yaitu mereka termasuk golongan muda dan yang paling akhir meninggalnya. Dikatakan apabila mereka berempat telah menyepakati suatu perkara maka fatwa tersebut diistilahkan dengan “Qaul Ubadalah”.

Tentang kematiannya. Para ulama berbeda pendapat mengenai tahun wafatnya Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash. Pendapat pertama dari imam Ahmad yang mengatakan bahwa ibn ‘Amr wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 63 H, sedang yang kedua mengatakan bahwa ia wafat pada tahun 65 H. Adapun yang ketiga mengatakan bahwa ia telah wafat pada tahun 68 H.

Sahabat yang Ahli Beribadah

Kegemarannya dalam ibadah memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahkan ia berusaha melakukan ibadah secara totalitas. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan rutin yang ia lakukan, yakni mendirikan shalat malam dan berpausa di siang hari.

Dalam Tabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad mengutip sebuah riwayat bahwa suatu ketika Rasulullah saw. menanyai kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash, “Apakah kamu senantiasa mendirikan shalat malam dan puasa di siang hari?“. Maka ibn ‘Amr mengiyakan. Namun, Rasulullah saw. memperingatkannya bahwa tindakan tersebut bisa berdampak buruk bagi tubuh dan kesehatannya. Rasulullah saw. melanjutkan penjelasannya bahwa berpuasa selama sebulan penuh biasa disebut dengan puasa Dahr dan ibnu ‘Amr masih berkata bahwa ia mampu melakukannya. Maka Rasulullah saw. lebih menganjurkan untuk berpuasa Dawud yakni sehari berpausa dan sehari tidak.

Baca juga: Dr. Mahmud At-Tahhan, Penyusun Kitab Taisir Musthalah Al-Hadis

Selain ibadah yang tekun. Ia juga dikenal dengan sosok yang cerdas dan menguasai bahasa selain bahasa Arab. Salah satu riwayat Qatadah menunjukkan kemampuan dari Abdullah bin ‘Amr yakni,

حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ شَرِيكِ بْنِ خَلِيفَةَ قَالَ: رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقْرَأُ بِالسُّرْيَانِيَّةِ

“Diceritakan dari Qatadah dari al-Hasan dari Suraik ibn Khalifah, “Aku melihat Abdullah ibn Amru bin al-Ash membaca dengan menggunaakan bahasa suryani”.

Pada masa itu, Al-Qur’an masih turun kepada Nabi Muhammad saw. berangsur-angsur hingga saat Abdullah bin ‘Amr berhasil mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan, maka ia berniat mengkhatamkan secara keseluruhan sehari semalam. Namun, Rasulullah saw. menyarankannya untuk mengkhatamkan dalam sebulan, karena semangatnya ia tetap dengan niatan awalnya.

Kegemarannya Menulis Hadis

Sewaktu Abdullah bin ‘Amr hijrah ke Madinah, ia melihat banyak para sahabat yang menulis hadis Nabi saw. Dan karena di masa mudanya ia memiliki kegemaran menulis, maka ia juga ingin mengikuti para sahabat yang lain untuk menulis Hadis.

Ibn Sa’ad mengutip riwayat yang menunjukkan bahwa Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash memang tekun dalam menulis hadis, bahkan ia secara langsung meminta izin kepada Rasulullah saw.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي كِتَابَةِ مَا سَمِعْتُهُ مِنْهُ. قَالَ فَأَذِنَ لِي فَكَتَبْتُهُ. فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُسَمِّي صَحِيفَتَهُ تِلْكَ الصَّادِقَةَ

Abudullah ibn ‘Amr bin al-Ash berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk menulis apa yang aku dengar dari beliau. Maka, beliau mengizinkannya untuk menulis hal tersebut.” Sahifah dari Abdullah ibn Amr dinamai as-Shadiqah.

Sahifah ini cukup dikenal di kalangan sahabat juga tabi’in. Hingga Suatu ketika Mujahid mendatangi ibn Amr bin al-‘Ash dan melihat sahifah milik Abdullah ibn Amr dan menanyakannya akan hal itu, maka Abdullah ibn Amru mengatakan bahwa ini adalah as-Shadiqah yang di dalamnya termuat apa yang dia dengar dari Rasulullah saw.

Baca juga: Imam Abu Daud, Ulama Hadis Masa Dinasti Abasiyah

Ketika Mujahid hendak mengambil sahifah tersebut, Abdullah bin ‘Amr tidak memperkenankannya. Mujahid pun keheranan dan menanyakan kepada Abdullah bahwa ia tidak pernah melarang perbuatan Mujahid sebelumnya. Namun ibnu ‘Amr mengatakan lebih lanjut bahwa apabila buku ini (Sahifah as-Sadiqah), kitabullah dan sebidang kebun yang luas di Thaif tetap ia miliki, maka sudah tidak memerlukan yang lain bahkan dengan seluruh isi dunia ini. Riwayat ini setidaknya bisa dilihat dalam Siyar A’lam al-Nubala karangan ad-Dzahabi.

Imam ad-Dzahabi juga menukil riwayat Abu Hurairah r.a. yang memuji kemampuan menulisnya

أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَكْثَرَ حَدِيْثاً مِنِّي، إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ

 “Abu Hurairah berkata, “Tidak ada salah seorang sahabat Rasulullah saw yang lebih banyak meriwayatkan hadis dibanding diriku kecuali Abdullah bin ‘Amr, ia menulis hadis sedangkan aku tidak melakukannya”.

Ungkapan Abu Hurairah r.a. bukanlah sekedar pujian melainkan memang benar adanya. Disebutkan bahwa dalam Musnad Ahmad terdapat 700 hadis yang diriwayatkan darinya. Adapun dalam Shahih al-Bukhari terdapat 8 hadis dan Muslim 20 hadis. Sedangkan yang ittifaq (ada dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim) sebanyak 7 hadis.

Beberapa ulama yang pernah belajar kepadanya adalah Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah bin ‘Ubaidillah, Syuaib bin Muhammad bin Abdullah ibn ‘Amr (cucunya), dan Abu Amamah As’ad bin Sahal al-Kindi. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Mohammad Anas Fahruddin
Mohammad Anas Fahruddin
Alumni Ilmu Hadis UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Artikel Terbaru