Beranda blog Halaman 24

Hadis No. 2 Sunan al-Darimi

0
Hadis-hadis sunan al-darimi
Hadis bab penjelasan manusia sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah

Hadispedia.id – Imam al-Darimi menjelaskan hadis pertama tentang Potret kehidupan manusia sebelum Nabi Muhammad Saw diutus, sebagai berikut:

أَخْبَرَنَا الْوَلِيدُ بْنُ النَّضْرِ الرَّمْلِيُّ عَنْ مَسَرَّةَ بْنِ مَعْبَدٍ مِنْ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ أَبِي الْحَرَامِ مِنْ لَخْمٍ عَنْ الْوَضِينِ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ وَعِبَادَةِ أَوْثَانٍ فَكُنَّا نَقْتُلُ الْأَوْلَادَ وَكَانَتْ عِنْدِي ابْنَةٌ لِي فَلَمَّا أَجَابَتْ وَكَانَتْ مَسْرُورَةً بِدُعَائِي إِذَا دَعَوْتُهَا فَدَعَوْتُهَا يَوْمًا فَاتَّبَعَتْنِي فَمَرَرْتُ حَتَّى أَتَيْتُ بِئْرًا مِنْ أَهْلِي غَيْرَ بَعِيدٍ فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَرَدَّيْتُ بِهَا فِي الْبِئْرِ وَكَانَ آخِرَ عَهْدِي بِهَا أَنْ تَقُولَ يَا أَبَتَاهُ يَا أَبَتَاهُ
فَبَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى وَكَفَ دَمْعُ عَيْنَيْهِ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ جُلَسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْزَنْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ كُفَّ فَإِنَّهُ يَسْأَلُ عَمَّا أَهَمَّهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ أَعِدْ عَلَيَّ حَدِيثَكَ
فَأَعَادَهُ فَبَكَى حَتَّى وَكَفَ الدَّمْعُ مِنْ عَيْنَيْهِ عَلَى لِحْيَتِهِ ثُمَّ قَالَ لَهُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ وَضَعَ عَنْ الْجَاهِلِيَّةِ مَا عَمِلُوا فَاسْتَأْنِفْ عَمَلَكَ

Telah mengabarkan kepada kami Al-Walid bin Al-Nadlr Al-Ramli dari Masarrah bin Ma’bad -dari Bani Al Harits bin Abu Al Haram dari Lakhm- dari Al Wadliin Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, kami dahulu adalah orang-orang jahiliah penyembah berhala dan kami membunuh anak-anak kami, ketika itu kami mempunyai anak perempuan. Setelah besar, ia sangat senang apabila saya memanggilnya. Suatu hari saya pun memanggilnya dan dia langsung menyahut dan mengikuti saya. Ketika saya sampai di sebuah sumur milik keluarga, saya langsung memegang tangannya dan saya ceburkan dia ke sumur, itulah akhir kebersamaan saya dengannya. Dia memanggil ‘wahai ayahku, wahai ayahku.”

Rasulullah pun menangis sampai air matanya bercucuran. Lalu ada salah seorang dari para shahabat yang sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw berkata kepada laki-laki tersebut: “kamu telah membuat Rasulullah Saw sedih.” Rasulullah Saw berkata kepada orang tersebut: “biarkan dia karena dia bertanya tentang sesuatu yang penting yang dihadapinya, kemudian Rasul berkata kepada laki-laki tersebut: “Ulangi lagi cerita kamu tadi”.

lalu dia pun mengulangi ceritanya dan Rasul menangis lagi sampai bercucuran air matanya yang membasahi janggutnya, lalu beliau bersabda : “Allah Swt telah menghapus dosa-dosa yang dilakukan pada masa jahiliah, oleh karena itu, mulaikanlah perbuatanmu dengan lembaran baru yang bersih.”

Hadis No 1 – Sunan al-Darimi

0
Hadis-hadis sunan al-darimi
Hadis bab penjelasan manusia sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah

Hadispedia.id – Imam al-Darimi menjelaskan hadis pertama tentang Potret kehidupan manusia sebelum Nabi Muhammad Saw diutus, sebagai berikut:

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُؤَاخَذُ الرَّجُلُ بِمَا عَمِلَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ
قَالَ مَنْ أَحْسَنَ فِي الْإِسْلَامِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِمَا كَانَ عَمِلَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَنْ أَسَاءَ فِي الْإِسْلَامِ أُخِذَ بِالْأَوَّلِ وَالْآخِرِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf dari Sufyan dari Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah, ia berkata, Datang kepada Rasulullah Saw seorang laki-laki lalu berkata, Wahai Rasulullah apakah seseorang akan dihukum atas perbuatan jelek yang dilakukannya pada masa jahiliah?


Rasul pun menjawab: Siapa saja yang Islamnya benar sampai ia meninggal dunia, ia tidak akan dihukum atas perbuatan jeleknya dimasa jahiliah, tetapi barang siapa yang Islamnya jelek (munafik), ia dihukum (atas dosanya) baik yang sebelumnya maupun yang terakhir.”

Pengertian Hadis Dhaif dan Macam-macamnya

0
macam hadis dhaif
Gambar oleh Alexandra_Koch dari Pixabay

Hadispedia.id –  Salah satu bentuk hadis dari sisi kaulitas sanadnya adalah hadis dhaif. Tulisan ini akan menjelaskan secara rinci pengertian dan jenis-jenis hadis dhaif. Begitu pula di sini akan dijelaskan puluh ciri-ciri hadis dhaif. Tulisan ini akan menjelaskan pengertian hadis dhaif dan macam-macamnya.

Hadis dhaif itu bisa jadi tidak bersambung sanadnya atau tidak diriwayatkan oleh perawi yang adil maupun dhobit atau terdapat syadz dan ‘illat dalam sanad maupun matannya.

Mengenal Hadis Dhaif

Dari sisi pengamalan, hadis dhaif menurut Ulama hadis tidak bisa dijadikan pegangan ketika berurusan dengan akidah dan menentukan status halal-haram suatu perkara. Akan tetapi hadis dhaif bisa diamalkan ketika berhubungan dengan fadhailul a’mal, targhib dan tarhib, dan kisah-kisah atau sejarah. 

Sementara itu Hadis dhoif mempunyai dua klasifikasi, yaitu berdasarkan gugurnya perawi dalam sanad dan kecacatan perawi hadis.

Klasifikasi Hadis Dhaif Sebab Gugur Perawi

Sanad hadis adalah rantai perawi yang memuat nama-nama perawi hadis dari generasi ke generasi hingga mencapai Nabi Muhammad saw. Jika dalam sanad hadis terdapat perawi yang gugur maka hadis tersebut dianggap dhaif berdasarkan gugurnya perawi.

Hadis dhaif berdasarkan gugurnya perawi terbagi menjadi menjadi lima, yaitu;

Pertama; Hadis Mu’allaq, yaitu hadis yang dari permulaan sanad sang perawi sudah gugur, baik seorang atau lebih. Seperti hadis riwayat imam Bukhari:

قَالَ بَهْزٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –  اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ

Bahz dari hakim dari mu’awiyah dari nabi SAW bersabda, Allah lebih berhak dijadikan tempat mengadu malu dari pada manusia.

Kedua; Hadis Mursal, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang tabi’in langsung dari nabi, tanpa menyebutkan nama sahabat. Hadis mursal dibagi menjadi tiga: 

pertama: Mursal Jali, Yaitu jika pengguguran yang telah dilakukan oleh perawi adalah jelas sekali dan dapat diketahui oleh umum bahwa orang yang menggugurkan tidak hidup semasa dengan orang yang digugurkan. 

Kedua: Mursal Khafi, Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tabi’in, di mana dia semasa dengan sahabat namun tidak pernah mendengar hadis darinya.

Dan ketiga:Mursal Shahabi, Yaitu pemberitaan sahabat yang disandarkan kepada nabi tetapi ia tidak mendengar atau menyaksikan sendiri apa yang ia beritakan, dikarenakan saat nabi masih hidup dia masih kecil atau bisa jadi karena masuk islam belakangan. 

Ketiga: Hadis Mudhal, yaitu hadis yang gugur perawinya, dua orang atau lebih secara berurutan, baik sahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabi’ al-tabi’in maupun dua orang sebelum sahabat dan tabi’in. seperti hadis yang gugur dua orang perawi sebelum sahabat, yaitu hadis imam Malik.

للمملوك طعامه وكسوته 

 “Si budak mempunyai hak makanan dan pakaian.

Imam Malik dalam kitabnya meriwayatkan hadis tersebut langsung dari abu Hurairah, padahal imam Malik seorang tabi’ al-tabi’in yang sudah barang tentu tidak mungkin bertemu dengan abu Hurairah. 

Keempat: Hadis Munqathi’, yaitu hadis yang gugur seorang perawi sebelum sahabat di satu tempat atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut. Seperti hadis riwayat al-Tirmidzi:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، عَنْ لَيْثٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الحَسَنِ ، عَنْ أُمِّهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الحُسَيْنِ ، عَنْ جَدَّتِهَا فَاطِمَةَ الكُبْرَى قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ ، وَقَالَ : رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي ، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ  

“Rasulullah ketika masuk masjid beliau berdoa, ‘Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan bukalah untukku pintu rahmatmu’

Hadis di atas munqathi’ karena seorang perawi yang bernama Fatimah binti Husain tidak pernah bertemu dengan Fatimah al-Zahra yang wafat beberapa bulan setelah Rasulullah wafat.

Kelima: Hadis Mudallas, yaitu periwayatan hadis yang menyembunyikan aib dalam suatu sanad dan menampakkan kebaikan dalam dhohirnya. Dalam hal ini Perawi yang berbuat demikian disebut mudallis, hadis yang diriwayatkan olehnya disebut mudallas dan perbuatannya disebut tadlis

Hadis mudallas terbagi menjadi dua, tadlis isnad, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari seseorang yang ia bertemu atau semasa dengannya, namun perawi itu tidak mendengar hadis darinya atau hidup semasa namun tidak pernah bertemu sedangkan dia menampakkan seakan-akan mendengar hadis. Seperti 

عن عائشة ان رسول الله لم يضرب امرأة قط ولا خادما إلا ان يجاهد فى سبيل الله 

Diriwayatkan dari al-Nu’man, dari al-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ‘Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah memukul seorang perempuan dan pelayan, melainkan jika ia berjihad di jalan Allah

Jika dilihat al-Zuhri mendengar riwayat tersebut dari Urwah, karena memang al-Zuhri biasa meriwayatkan hadis dari Urwah (keduanya hidup semasa). 

Dan kedua dari hadis mudallas adalah tadlis syuyukh, Yaitu bila seorang perawi meriwayatkan sebuah hadis dari gurunya dengan menyebut nama kunyahnya, nama keturunan, atau mensifati gurunya dengan sifat-sifat yang belum pernah dikenal atau diketahui orang sebelumnya. Seperti dalam hadis:

عن الزهري عن السائب بن يزيد مرفوعا: لا يحل لمسلم ان يرى تجردي او عورتي إلا علي

Nabi bersabda, ‘Tidak halal bagi seorang muslim melihat telanjangku atau auratku, melainkan Ali”  

Dalam sanad di atas (sebelum al-Zuhri) ada perawi yang bernama Abdullah bin Musa. Nama yang sebenarnya dan masyhur adalah Umar bin Musa al-Rahibi. Perawi yang mengganti Umar bin Musa dengan Abdullah bin Musa mempunyai tujuan supaya riwayatnya dapat diterima.

Penulis : Fahmil Ulum

Sumber klik

Hadis No 47 Sunan Ibnu Majah

0
Sunan Ibnu Majah
hadis larangan berbuat bid'ah

Hadispedia.id – Al-Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada kitab muqaddimah bab menjauhi bid’ah dan perdebatan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدِ بْنِ خِدَاشٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ ثَابِتٍ الْجَحْدَرِيُّ وَيَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ

 هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ إِلَى قَوْلِهِ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ}

فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِذَا رَأَيْتُمْ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِيهِ فَهُمْ الَّذِينَ عَنَاهُمْ اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid bin Khidas berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ulaiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub. Dan menurut jalur lain; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Tsabit al-Jahdari dan Yahya bin Hakim, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada Ayyub dari Abdullah bin Abu Mulaikah dari Aisyah ia berkata, Rasulullah Saw membaca ayat ini,

“Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al qu`ran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat” sampai pada firman-Nya, “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Red. Ali Imran ayat 7)

Lalu beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apabila kalian melihat orang-orang yang memperdebatkannya, maka mereka itulah yang dimaksudkan Allah, maka berhati-hatilah terhadap mereka.”

Hadis No 46 Sunan Ibnu Majah

0
Sunan Ibnu Majah
hadis larangan berbuat bid'ah

Hadispedia.id – Al-Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada kitab muqaddimah bab menjauhi bid’ah dan perdebatan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ مَيْمُونٍ الْمَدَنِيُّ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ الْكَلَامُ وَالْهَدْيُ فَأَحْسَنُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ أَلَا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدِثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

أَلَا لَا يَطُولَنَّ عَلَيْكُمْ الْأَمَدُ فَتَقْسُوَ قُلُوبُكُمْ أَلَا إِنَّ مَا هُوَ آتٍ قَرِيبٌ وَإِنَّمَا الْبَعِيدُ مَا لَيْسَ بِآتٍ أَلَا أَنَّمَا الشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ أَلَا إِنَّ قِتَالَ الْمُؤْمِنِ كُفْرٌ وَسِبَابُهُ فُسُوقٌ وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ

أَلَا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ لَا يَصْلُحُ بِالْجِدِّ وَلَا بِالْهَزْلِ وَلَا يَعِدُ الرَّجُلُ صَبِيَّهُ ثُمَّ لَا يَفِي لَهُ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارَ وَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ يُقَالُ لِلصَّادِقِ صَدَقَ وَبَرَّ وَيُقَالُ لِلْكَاذِبِ كَذَبَ وَفَجَرَ أَلَا وَإِنَّ الْعَبْدَ يَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid bin Maimun Al Madani Abu Ubaid berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ja’far bin Abu Katsir dari Musa bin ‘Uqbah dari Abu Ishaq dari Abul Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Keduanya merupakan perkataan dan petunjuk. Maka sebaik-baik perkataan adalah kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Ketahuilah, jangan kalian membuat perkara-perkara baru. Sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru (diada-adakan), dan setiap hal baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.

Ketahuilah, janganlah kalian terlalu panjang dalam berangan-angan, hingga menjadikan hati kalian keras. Ketahuilah, segala sesuatu yang akan datang itu adalah dekat, dan bahwasanya yang jauh itu sesuatu yang tidak datang. Ketahuilah, bahwasanya orang yang sengsara itu adalah orang yang sengsara di perut ibunya, dan orang yang berbahagia adalah orang yang diberi nasihat dengan selainnya. Ketahuilah, sesungguhnya membunuh seorang muslim adalah kekafiran, dan mencercanya adalah kefasikan. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak mengajak bicara saudaranya lebih dari tiga hari.

Ketahuilah, jauhilah oleh kalian berkata dusta, sesungguhnya dusta itu tidak dibenarkan baik dilakukan dengan serius maupun main-main. Janganlah seseorang berjanji kepada anak kecilnya kemudian dia tidak menepatinya. Sesungguhnya dusta akan menggiring kepada perbuatan dosa dan sesungguhnya perbuatan dosa akan menggiring ke dalam neraka. Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan akan menunjukkan kepada surga. Dan akan dikatakan kepada orang yang jujur; ia telah berlaku jujur dan berbuat baik. Sementara kepada pendusta dikatakan; ia telah berlaku dusta dan dosa. Seorang hamba yang selalu berdusta, akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Keutamaan Idul Fitri dalam Hadis

0
Dalil Hadis Bolehnya Niat Puasa Sunah di Siang Hari
Gambar oleh Donate PayPal Me dari Pixabay

Hadispedia.id – Ramadan 1445 H telah berlalu, bulan Syawal saat ini kita sedang jalani. Lebaran adalah hari selebrasi pasca melaksanakan puasa. Bersilaturahmi, mudik, saling memaafkan, saling memberi adalah tradisi yang baik yang telah kita jalani sejak lama. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana keutamaan idul fitri.

Keutamaan hari raya idul Fitri tidak bisa diragukan lagi bagi orang-orang yang merayakannya. Pasalnya, salah satu hari besar umat Islam ini memiliki keutamaan dan kemuliaan yang sangat banyak. Tidak hanya tentang ibadah saja, namun juga ampunan dari Allah Swt.

Salah satu keutamaan yang akan didapatkan oleh orang yang merayakan hari raya Idul Fitri adalah ampunan dari Allah Swt. Allah menjanjikan ampunan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah salat hari raya idul Fitri.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah dalam salah satu hadisnya, nabi bersabda:

اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَقُوْلُ اللهُ: يَا مَلاَئِكَتِيْ كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ أَجْرَهُ وَعِبَادِيْ اللَّذِيْنَ صَامُوْا شَهْرَهُمْ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَطْلُبُوْنَ أُجُوْرَهُمْ أَشْهِدُوْا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. فَيُنَادِي مُنَادٍ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْا اِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ. فَيَقُوْلُ اللهُ: يَا عِبَادِيْ صُمْتُمْ لِيْ وَأَفْطَرْتُمْ لِيْ فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ.

Artinya, “Ketika kalian semua melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan kemudian keluar untuk melaksanakan salat idul Fitri, maka Allah berfirman:

Wahai Malaikat-Ku, setiap yang telah bekerja akan mendapatkan upahnya, dan hamba-hamba-Ku yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan keluar rumah untuk melakukan salat idul Fitri, serta memohon upah (dari ibadah) mereka, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah memaafkan mereka.

Kemudian ada yang berseru, ‘Wahai umat Muhammad! kembalilah ke rumah-rumah kalian, aku telah menggantikan keburukan kalian dengan kebaikan’. Maka Allah Swt berfirman: Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berpuasa untukku dan berbuka untukku, maka tegaklah kalian dengan mendapatkan ampunan-Ku terhadap kalian.” (HR. Ibnu Mas’ud).

Lantas, apa saja makna yang terkandung dalam perayaan hari raya idul Fitri? Mari kita ulas!

Makna dan Esensi Hari Raya

Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairami dalam kitabnya Hasiyah al-Bujairami ‘alal Khotib memaknai esensi hari raya bukan sekedar tentang pakaian baru dan sesuatu yang serba baru, meski pada dasarnya dianjurkan (baca: sunah) menggunakan pakaian baru, pada hakikatnya bukan itu maksud dan makna dari hari raya yang sesungguhnya.

Syekh Sulaiman mengatakan:

فائدة: جعل اللّه للمؤمنين في الدنيا ثلاثة أيام: عيد الجمعة والفطر والأضحى، وكلها بعد إكمال العبادة وطاعتهم. وليس العيد لمن لبس الجديد بل هو لمن طاعته تزيد، ولا لمن تجمل باللبس والركوب بل لمن غفرت له الذنوب.

Artinya, “Faidah: Allah Swt menjadikan tiga hari raya di dunia untuk orang-orang yang beriman, yaitu, hari raya Jumat, hari raya Fitri, dan idul Adha. Semua itu, dilakukan setelah sempurnanya ibadah dan ketaatan mereka. Dan hari raya bukanlah bagi orang yang menggunakan pakaian baru.

Namun, bagi orang yang ketaatannya bertambah. Idul Fitri bukanlah bagi orang yang berpenampilan dengan pakaian dan kendaraan. Namun, idul Fitri hanyalah bagi orang yang dosa-dosanya diampuni.”

Betapa pun demikian, sah-sah saja menggunakan pakaian baru untuk menyambut hari raya idul Fitri. Karena, pakaian baru bagaikan simbol dari bersihnya hati, dan sebagai syiar Islam ketika hari raya Fitri. Namun, semua itu akan lebih baik jika tidak diimbangi dengan melaksanakan dan mengutamakan ibadah di bulan Ramadhan.

Demikian keutamaan dan makna yang terkandung dalam perayaan hari raya Idul Fitri dalam hadis Rasulullah. Wallahu a’lam.

Penulis: Sunnahtullah

Sumber klik

Hadis No. 45 Sunan Ibnu Majah – Menjauhi Bid’ah dan Perbedabatan

0
Sunan Ibnu Majah
hadis larangan berbuat bid'ah

Hadispedia.id – Al-Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada kitab muqaddimah bab menjauhi bid’ah dan perdebatan,

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَحْمَدُ بْنُ ثَابِتٍ الْجَحْدَرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرِنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْأُمُورِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكَانَ يَقُولُ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَعَلَيَّ وَإِلَيَّ

Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id dan Ahmad bin Tsabit Al Jahdari keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafiy dari Ja’far bin Muhammad dari Bapaknya dari Jabir bin Abdullah ia berkata,

“Rasulullah Saw apabila berkhotbah matanya menjadi merah, suaranya tinggi dan emosinya menggebu-gebu, seakan-akan ia adalah seorang pemberi peringatan pada pasukan, beliau berseru, “Waspadalah, musuh akan datang di pagi hari, musuh akan datang di sore hari!” Dan beliau berseru, “Aku diutus dengan datangnya hari kiamat seperti (kedua jari) ini, ” beliau menggandengkan antara dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah.

Beliau lalu bersabda, “‘Amma ba’du; sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Dan beliau selalu bersabda, “Barang siapa meninggalkan harta, maka bagi ahli warisnya. Dan siapa saja meninggalkan utang atau amanah maka akulah yang menanggungnya.”

Kemuliaan Perempuan dalam al-Qur’an dan Hadis

0
Jawaban Sayyidah Aisyah tentang Wajibnya Mandi Bagi Orang yang Bersetubuh
Jawaban Sayyidah Aisyah tentang Wajibnya Mandi Bagi Orang yang Bersetubuh

Hadispedia.id – Beberapa hadis Nabi Muhammad Saw digunakan oleh sebagian orang untuk menundukkan perempuan di bawah kuasa laki-laki. Terkadang ada juga pemahaman yang mengaku meninggikan derajat perempuan, padahal pemahamannya itu justru menjatuhkan perempuan. Untuk itu tulisan Fitha Ayun Lutvia Nitha ini perlu kita baca. Tulisan ini menggambarkan penjelasan al-Qur’an dan Hadis tentang keutamaan perempuan.

Islam mengajarkan bahwa perempuan, mempunyai kedudukan yang sangat istimewa. Oleh karenanya perempuan muslimah haruslah menjaga harkat dan martabat mereka sebagai “Muslimah salihah”. Namun harus kita garis bawahi, bukan hanya dititikberatkan pada perempuan saja yang diharuskan menjaga diri mereka.

Namun kaum laki-laki pun dituntut untuk turut serta menjaga marwah para perempuan. Bahkan dalam hadist dan juga sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan seorang perempuan. Diantaranya sebagai berikut :

1. Perempuan solehah adalah perhiasan dunia

Islam menempatkan perempuan sebagai makhluk paling mulia yang harus dijaga. Allah SWT menciptakan perempuan beserta keindahannya dari ujung kepala hingga kaki. Keindahan itu bukan hanya menilai dari fisik saja, melainkan juga hati dan pikiran. Layaknya perhiasan, haruslah dijaga dan dirawat.

Sebuah hadist menyebutkan, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).

Selain itu Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 34:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُۗ وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا ۝٣٤

Artinya : Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka).

Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

2. Perempuan adalah karunia, bukan musibah

Islam memandang perempuan adalah karunia Allah SWT. Bersamanya kaum laki-laki akan mendapatkan ketenangan lahir dan batin, dan mampu memberikan energi positif yang sangat bermanfaat, seperti rasa cinta, kasih sayang, dan motivasi hidup jika.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 72 :

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَۙ ۝٧٢

Artinya : Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu, serta menganugerahi kamu rezeki yang baik-baik. Mengapa terhadap yang batil mereka beriman, sedangkan terhadap nikmat Allah mereka ingkar?

3. Perempuan solehah lebih baik dari pada bidadari di surga

Para bidadari surga akan kalah dari keistimewaan yang dimiliki oleh perempuan salihah yang ada di dunia. Segala bentuk amal yang dikerjakan oleh perempuan di dunia, inilah yang membuat perempuan lebih mulia dari para bidadari surga.

وفي الحديث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الآدميات من نساء أهل الدنيا أفضل من الحور العين سبعين ألف ضعف

Artinya, “Dalam hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Perempuan berjenis manusia asal dunia lebih utama daripada para bidadari surga 70.000 kali lipat,’”

4. Perempuan diberi pengecualian dalam beribadah

Sebagai perempuan, tentu akan mengalami haid dan nifas, hal inilah yang menjadi pengecualian dari Allah SWT untuk tidak melaksanakan shalat atau puasa.

Rasulullah SAW telah bersabda: “Siapa saja wanita yg mengalami haid maka sakitnya haid yang mereka alami akan menjadi Kafaroh (tebusan) bagi dosa-dosanya yang terdahulu.

5. Perempuan yang hamil dan melahirkan setara dengan jihad

Pengorbanan luar biasa hidup dan mati seorang perempuan ketika hamil dan melahirkan disejajarkan dengan jihad. Sebuah hadist menyebutkan:

 “Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah, Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111).

6. Dapat masuk surga dari pintu manapun

Suatu bukti kasih sayang yang tidak terhingga dari Allah SWT kepada kaum perempuan yang dapat masuk surga dari pintu mana pun. Tetapi, Rasulullah SAW juga telah menjelaskan bahwa perempuan tersebut harus melaksanakan empat hal, yakni menunaikan salat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, jauhi zina, dan berbakti kepada suami.

Rasulullah SAW bersabda;

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad).

“Jika seorang perempuan menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau.” (HR. Ahmad)

7. Surga di bawah telapak kaki ibu

Semua tentu sudah mengetahuinya, bahwa dalam Islam diterangkan kalau surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hal ini juga menjelaskan bahwa pentingnya berbakti dan menghormati seorang ibu. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang riwayat imam Ibnu Majah dari Mu’awiyah bin Jahimah r.a:

عن معاوية ابن جاهمة قال: أتيتُ النبي صلى الله عليه وآله وسلم فقلت: يا رسول الله، إني كنت أردت الجهاد معك أبتغي بذلك وجه الله والدار الآخرة، قال: «وَيْحَكَ، أَحَيَّةٌ أُمُّكَ؟» قلت: نعم يا رسول الله، قال: «فارْجِعْ فَبَرَّهَا»، ثم أتيته من الجانب الآخر فقلت: يا رسول الله إني كنت أردت الجهاد معك أبتغي بذلك وجه الله والدار الآخرة، قال: «وَيْحَكَ، أَحَيَّةٌ أُمُّكَ؟» قلت: نعم يا رسول الله، قال‏:‏ «فارْجِعْ فَبَرَّهَا»، ثم أتيته من أمامه فقلت‏:‏ يا رسول الله إني كنت أردت الجهاد معك أبتغي بذلك وجه الله والدار الآخرة قال‏:‏ «وَيْحَكَ، الْزَمْ رِجْلَهَا، فَثَمَّ الْجَنَّة

Dari Mu’awiyah ibn Jahimah, ia berkata, “Aku datang kepada Nabi saw., lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku ingin berjihad bersamamu, aku mengharap dengannya ridha Allah dan rumah akhirat (surga).” Beliau pun bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?” “Iya, wahai Rasulullah.” Jawabku.

“Pulanglah, berbuat baiklah dengannya”. Kemudian aku menemuinya di arah sampinya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku ingin jihad bersamamu, aku ingin dengannya meraih ridah Allah dan surga.” “Celakalah, apakah ibumu masih hidup?” ‘Iya wahai Rasulullah” “Pulanglah, berbuat baiklah dengannya.

” Lalu aku mendatanginya dari arah depan, aku berkata, “Wahai Rasulullah sungguh aku ingin berjihad bersamamu, aku ingin dengannya meraih ridha Allah dan surga.” Beliau bersabda, “Celakalah, menetaplah di kakinya, maka surga ada di sana.”

Dari Musa bin Muhammad bin ‘Atha’, Abu Al-Malih, Maimunah, dari Ibnu ‘Abbas r.a., ia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Surga itu di bawah telapak kaki-kaki para ibu, siapa yang mereka kehendaki, maka mereka akan memasukkannya, dan siapa yang mereka kehendaki, maka mereka akan mengeluarkannya.”

Lewat Hari Perempuan Internasional ini, mari kita bersama-sama membangun masa depan yang lebih cerah dan adil bagi perempuan dan laki-laki di seluruh dunia!. Seyogianya, momentum Hari Perempuan Internasional ini menjadi ajang penting untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan buat perempuan.

Penulis: Fitha Ayun Lutvia Nitha

Sumber klik

Hadis No. 134 Sunan An-Nasa’i – Memercikkan Air ke Kemaluan

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab memercikkan air,

أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا «تَوَضَّأَ أَخَذَ حَفْنَةً مِنْ مَاءٍ فَقَالَ بِهَا – هَكَذَا وَوَصَفَ شُعْبَةُ – نَضَحَ بِهِ فَرْجَهُ» فذكرْتهُ لِإبْراهيمَ فأعْجبهُ. قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ السُّنِّيِّ: قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: الْحَكَمِ هُوَ ابْنُ سُفْيَانَ الثَّقَفِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ismail bin Mas’ud telah mengabarkan kepada kami, dia berkata, Khalid bin Al-Harits telah menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Manshur, dari Mujahid, dari Al-Hakam, dari ayahnya, bahwa apabila Rasulullah saw. berwudhu, maka beliau mengambil air sepenuh kedua telapak tangan – Lalu Syu’bah berkata seperti inilah, Syu’bah mensifati yang dilakukan Nabi saw. – Beliau memercikkan air ke kemaluannya. Kemudian hal itu disampaikan kepada Ibrahim dan dia mengaguminya. Syaikh Ibnu Sunni berkata, Abu Abdirrahman berkata, Al-Hakam adalah Ibnu Sufyan Ats-Tsaqafi r.a.

Anjuran Menu Buka Puasa dari Rasulullah

0
Inilah Salah Satu Menu Buka Puasa Rasulullah
Gambar oleh Pictavio dari Pixabay

Hadispedia.id – Buka puasa merupakan momen yang paling ditunggu oleh setiap muslim yang berpuasa. Oleh sebab itu, tidak sedikit dari kalangan umat muslim yang sangat antusias mempersiapkan menu makanan buka puasa. Lalu, apa sih menu buka puasa yang dianjurkan Rasulullah saw.? Berikut penjelasannya.

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَإِنَّهُ طَهُورٌ”. رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Dari Salman bin Amir Ad-Dhabbi, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Jika seseorang di antara kamu berbuka, hendaklah dia berbuka dengan makan buah kurma. Jika tidak memilikinya, hendaklah dia berbuka dengan air, karena sesungguhnya air itu mensucikan.” (HR. Al-Khamsah, dan dinilai shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Al-Hakim).

فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ “Hendaklah dia berbuka dengan makan buah kurma”. Perintah pada kalimat tersebut menunjukkan hukum sunah. Kata “تَمْرٍ” merupakan isim jinis yang menunjukkan satu makna. Oleh sebab itu, maka perintah ini dapat diwujudkan dengan hanya memakan satu biji buah kurma. Artinya, Rasulullah saw. sangat menganjurkan umatnya agar menyegerakan berbuka meskipun hanya dengan satu biji kurma dan meskipun dengan makanan yang sederhana.

Namun, lebih afdhal adalah memakannya dalam bilangan witir/ganjil. Sebagaimana dalam riwayat Imam At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, Anas r.a. berkata, “Rasulullah saw. selalu berbuka dengan kurma-kurma basah (رطبات) sebelum beliau shalat. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan kurma-kurma kering (تمرات). Jika tidak ada, maka beliau meminum beberapa tegukan air.” Imam As-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam mengatakan bahwa dalam riwayat lain disebutkan bahwa bilangan kurma tersebut adalah tiga.

Dalam kitab Ibanatul Ahkam dijelaskan bahwa hikmah berbuka puasa dengan buah kurma adalah karena kurma itu rasanya manis. Sedangkan makanan yang manis itu dapat menguatkan pandangan mata yang lemah akibat puasa. Bahkan manfaat kurma untuk menu berbuka puasa juga telah dibuktikan secara ilmiah. Sebagaimana dilansir dalam halodoc.com melalui artikel yang berjudul Kurma Baik untuk Menu Berbuka Puasa, Ini Bukti Ilmiahnya.

Artikel yang ditulis dr. Fadhli tersebut menuturkan bahwa pada setiap biji buah kurma mengandung sekitar 60-70 persen gula dan mengandung serat yang tinggi, sehingga ideal sebagai makanan penambah energi.

Baca juga: Dalil Hadis Anjuran untuk Takjil/Menyegerakan Berbuka Puasa

Imam Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi menjelaskan bahwa illat atau alasan dari anjuran berbuka dengan kurma adalah rasa manisnya. Sehingga hal ini dapat dianalogikan dengan makanan lainnya yang juga manis. Oleh sebab itu, tidak heran jika di Indonesia lebih mengenal dengan istilah “Berbuka dengan yang manis”. Namun, perlu diingat bahwa berbuka dengan makanan yang manis juga tidak boleh terlalu banyak. Harus sesuai porsinya sehingga kesehatan pun tetap terjaga.

Meskipun menurut Imam Al-Mubarakfuri dapat diganti dengan makanan manis lainnya, kalau memang ada buah kurma atau dapat diusahakan dengan niat mengikuti Rasulullah saw., maka alangkah lebih baik berbuka dengan buah kurma. Bahkan dalam kitab Ibanatul Ahkam dikutip sebuah syair yang indah,

فطور التمر سنة   رسول الله سنة

ينال الأجر شخص   يحلي منه سنة

Berbuka dengan buah kurma adalah sunnah     yang diajarkan oleh Rasulullah

Pelakunya peroleh pahala               selain mulutnya terasa manis karenanya

فَإِنَّهُ طَهُورٌ   Air itu menyucikan dan mempunyai daya pembersih yang kuat. Jika buah kurma tidak didapatkan, maka berbuka puasa boleh dilakukan dengan minum air putih. Kenapa air putih? Dalam kitab Ibanatul Ahkam dijelaskan bahwa air putih merupakan simbol harapan semoga zahir dan batin seseorang itu menjadi bersih, di samping berfungsi menghilangkan rasa haus dan dahaga.

Baca juga: Dalil Hadis Anjuran Makan Sahur

Demikianlah menu yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. saat berbuka puasa. Yaitu makanan yang manis dan menyegarkan. Pada redaksi hadis tersebut, Rasulullah saw. menyebutkan buah kurma. Di mana salah satu khasiatnya adalah makanan yang manis itu mudah dicerna oleh perut yang kosong dan dapat membangkitkan kekuatan.

Rasulullah saw. juga menganjurkan minum air putih, karena hati mengalami kekeringan saat puasa. Jika dibasahi dengan air maka menjadi segar kembali. Hadis tersebut juga menunjukkan betapa Rasulullah saw. sangat sayang dan perhatian kepada umatnya. Beliau mau memberikan nasihat dan bimbingan kesehatan kepada mereka demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Jazahullahu anna afdhalul jaza’. Wa Allahu a’lam bis shawab.