Beranda blog Halaman 70

Hadis No. 70 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abi Daud
Sunan Abi Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab wudhu dengan air sisa wudhu perempuan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ

Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya telah menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ia berkata, Manshur telah menceritakan kepadaku, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Aisyah r.a.,ia berkata, “Saya pernah mandi bersama Rasulullah saw. dari satu bejana sedangkan kami dalam keadaan junub.”

Penjelasan:

Syeikh Abadi dalam kitab Aunul Ma’bud mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan sucinya air sisa perempuan. Sayyidah Aisyah r.a. saat itu mengambil air dari bejana (kulah) dengan gayung. Lalu, Rasulullah saw. pun mengambil air dengan gayung juga dari bejana itu. Meskipun hadisnya hanya menjelaskan tentang mandi, namun hal ini juga mencakup juga wudhu. Oleh sebab itu, judul bab pada hadis ini dengan menggunakan redaksi wudhu dengan sisa air perempuan.

Hadis ini sekaligus menunjukkan betapa Rasulullah saw. sangat memanusiakan perempuan di tengah kaum Jahiliyah yang sangat merendahkannya. Dalam hadis lainnya juga disebutkan bahwa beliau mau minum di gelas bekas Sayyidah Aisyah r.a. yang saat itu sedang haid. Sementara, pada saat itu dikisahkan para perempuan yang sedang haid akan ditinggalkan suaminya. Mereka tidak mau makan dan minum bersama mereka.

Hadis No. 26 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab perintah untuk beriman kepada Allah dan rasul-Nya,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَنْ لَقِيَ الْوَفْدَ الَّذِينَ قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ، قَالَ سَعِيدٌ: وَذَكَرَ قَتَادَةُ أَبَا نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، فِي حَدِيثِهِ هَذَا: أَنَّ أُنَاسًا مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّا حَيٌّ مِنْ رَبِيعَةَ، وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ كُفَّارُ مُضَرَ، وَلَا نَقْدِرُ عَلَيْكَ إِلَّا فِي أَشْهُرِ الْحُرُمِ، فَمُرْنَا بِأَمْرٍ نَأْمُرُ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا، وَنَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ إِذَا نَحْنُ أَخَذْنَا بِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ، وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ: اعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَآتُوا الزَّكَاةَ، وَصُومُوا رَمَضَانَ، وَأَعْطُوا الْخُمُسَ مِنَ الْغَنَائِمِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنِ الدُّبَّاءِ، وَالْحَنْتَمِ، وَالْمُزَفَّتِ، وَالنَّقِيرِ ” قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ، مَا عِلْمُكَ بِالنَّقِيرِ؟ قَالَ: ” بَلَى، جِذْعٌ تَنْقُرُونَهُ، فَتَقْذِفُونَ فِيهِ مِنَ الْقُطَيْعَاءِ – قَالَ سَعِيدٌ: أَوْ قَالَ: مِنَ التَّمْرِ – ثُمَّ تَصُبُّونَ فِيهِ مِنَ الْمَاءِ حَتَّى إِذَا سَكَنَ غَلَيَانُهُ شَرِبْتُمُوهُ، حَتَّى إِنَّ أَحَدَكُمْ، أَوْ إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيَضْرِبُ ابْنَ عَمِّهِ بِالسَّيْفِ ” قَالَ: وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ أَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ كَذَلِكَ قَالَ، وَكُنْتُ أَخْبَؤُهَا حَيَاءً مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: فَفِيمَ نَشْرَبُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «فِي أَسْقِيَةِ الْأَدَمِ الَّتِي يُلَاثُ عَلَى أَفْوَاهِهَا»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَرْضَنَا كَثِيرَةُ الْجِرْذَانِ، وَلَا تَبْقَى بِهَا أَسْقِيَةُ الْأَدَمِ، فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَإِنْ أَكَلَتْهَا الْجِرْذَانُ، وَإِنْ أَكَلَتْهَا الْجِرْذَانُ، وَإِنْ أَكَلَتْهَا الْجِرْذَانُ» قَالَ: وَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَشَجِّ عَبْدِ الْقَيْسِ: ” إِنَّ فِيكَ لَخَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Ulayyah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sa’id bin Abu Arubah telah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata, ‘Orang yang bertemu utusan dari kalangan Abdul Qais yang menghadap Rasulullah saw. menceritakan kepada kami, Sa’id berkata, Qatadah menyebutkan Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri dalam hadisnya ini, bahwa orang-orang dari kalangan Bani Qais menghadap Rasulullah saw. seraya berkata,

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami penduduk desa dari kabilah Rabi’ah, dan sungguh para (kafir) Mudhar telah menghalangi antara kami dan engkau, sehingga kami tidak bisa menuju engkau kecuali pada bulan Haram, maka perintahkanlah kepada kami untuk mengamalkan suatu perintah agar kami dapat mendakwahkannya kepada orang-orang yang ada di belakang kami. Sehingga, dengannya kami masuk surga apabila kami berpegang teguh padanya”

Beliau bersabda, “Saya memerintahkan kepada kalian dengan empat perkara dan melarang kalian dari empat perkara, yaitu sembahlah Allah dan janganlah kamu mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, berpuasalah Ramadhan, dan berikanlah seperlima dari harta ghanimah, dan aku melarang kalian membuat perasan arak dalam wadah ad-duba’, al-hantam, al-muzaffat, dan an-naqir.”

Mereka bertanya, “Wahai Nabi Allah, apa pengetahuanmu tentang an-naqir?” Beliau menjawab, “Batang pohon yang diukir (dilubangi), lalu kamu memasukkan ke dalamnya kurma.” Sa’id berkata, “Atau beliau bersabda, ‘Dari pohon kurma. Kemudian kamu memasukkan air ke dalamnya hingga apabila air didihnya telah tenang, maka kalian meminumnya, hingga salah seorang dari kalian -atau salah seorang dari mereka- sungguh akan memukul pamannya dengan pedang.’ Ia berkata, ‘Dan pada kaum tersebut terdapat seorang laki-laki yang terkena luka juga.’ Dia berkata lagi, ‘Aku menyembunyikannya karena malu kepada Rasulullah saw., lalu aku bertanya, “Maka, pada wadah apa kita boleh minum Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada wadah kulit (yang sudah disamak) yang sudah ditutup pada mulutnya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanah kami banyak tikus, sehingga tidak tersisa padanya minuman pada wadah kulit (yang sudah disamak).” Maka, Nabi saw. bersabda, “Dan walaupun dimakan tikus, dan walaupun dimakan tikus, dan walaupun dimakan tikus.” Perawi berkata, “Dan Nabi Allah bersabda kepada Asyaj (utusan) Abdul Qais, ‘Sesungguhnya pada dirimua terdapat dua sifat yang disukai Allah, yaitu sabar dan berhati-hati.”

Anjuran Para Sahabat dan Tabi’in untuk Menyampaikan dan Mengkaji Hadis Nabi

0
Anjuran Para Sahabat dan Tabi'in untuk Menyampaikan dan Mengkaji Hadis Nabi
Anjuran Para Sahabat dan Tabi'in untuk Menyampaikan dan Mengkaji Hadis Nabi

Hadispedia.id – Imam Al-Khathib Al-Baghdadi di dalam kitab Syaraf Ashabil Hadis telah mengumpulkan beberapa perkataan para sahabat dan tabi’in lengkap dengan sanadnya seputar anjuran menyampaikan dan mengkaji hadis Nabi saw.

1. Sayyidina Ali r.a. berkata,

تَزَاوَرُوْا وَتَذَاكَرُوْا الْحَدِيْثَ فَإِنَّكُمْ إِنْ لَاتَفْعَلُوْا يَدْرُسُ

Saling berkunjunglah kalian dan pelajarilah hadis, sungguh jika kalian tidak melakukannya, ia akan hilang.”

2. Ibnu Abbas r.a. berkata,

تَذَاكَرُوا هَذَا الْحَدِيْثَ، لَا يَتَفَلَّتْ مِنْكُمْ. فَإِنَّهُ لَيْسَ بِمَنْزِلَةِ الْقُرْآنِ، الْقُرْآنُ مَجْمُوْعٌ مَحْفُوْظٌ، وَإِنَّكُمْ إِنْ لَمْ تَذَاكَرُوْا هَذَا الْحَدِيْثَ يَفْلِتْ مِنْكُمْ. وَلَا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ: حَدَّثْتُ أَمْسِ، لَا أُحَدِّثُ الْيَوْمَ. بَلْ حَدَّثْتُ أَمْسِ وَحَدِّثْ الْيَوْمَ وَحَدِّثْ غَدًا

Pelajarilah hadis-hadis Nabi! Jangan sampai kalian abai terhadapnya! Perlu diingat bahwa khazanah hadis itu tidak sama seperti khazanah Al-Qur’an. Al-Qur’an itu seluruhnya sudah terkumpul dan terjaga, akan tetapi hadis tidak demikian. Jika kalian sampai mengabaikan kajian hadis, sungguh kelak kalian akan kehilangannya. Jangan kalian berkata, “Aku tidak mempelajari hadis hari ini, tapi aku akan melakukannya besok.” Tetapi katakanlah, “Aku akan mempelajari hadis hari ini, besok, dan seterusnya.”

Ibnu Abbas r.a. dalam kesempatan lain juga pernah berkata,

إِذَا سَمِعْتُمْ مِنَّا شَيْئًا فَتَذَاكَرُوْهُ بَيْنَكُمْ

Jika kalian menemukan ada berita yang dikatakan berasal dari kami, maka pelajari dan kajilah ia secara mendalam.”

3. Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata,

تَحَدَّثُوْا فَإِنَّ الْحَدِيْثَ يُذَكِّرُ بَعْضُهُ بَعْضًا

Pelajarilah hadis! Sesungguhnya hadis-hadis Nabi itu perlu dikaji satu sama lain.”

4. Abu Umamah A-Bahili (25-86 H.) berkata,

إِنَّ هَذَا الْمَجْلِسَ مِنْ بَلَاغِ اللهِ إِيَّاكُمْ وَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَلَّغَ مَا أُرْسِلَ بِهِ وَأَنْتُمْ فَبَلِّغُوْا عَنَّا أَحْسَنَ مَا تَسْمَعُوْنَ

Sesungguhnya majelis ini merupakan anugerah Allah swt. Rasulullah saw. telah menyampaikan semua risalah yang disampaikan padanya (pada kami), dan kalian harus menyampaikan dari kami, yaitu hadis-hadis yang paling baik kualitasnya yang kalian dengar dari kami.”

5. Anas bin Malik r.a.

Anas bin Malik r.a. sangat giat menekankan dua anak beliau untuk mencatat dan mempelajri hadis-hadis Nabi saw. Beliau berkata,

كُنَّا لَا نَعُدُّ عِلْمَ مَنْ لَمْ يَكْتُبْ عَلِمَهُ عِلْمًا

Kami tidak menganggap sesuatu itu sebagai “ilmu” jika ia berasal dari orang yang tidak serius mencatatnya.”

6. Alqamah berkata,

تَذَاكَرُوا الْحَدِيْثَ فَإِنَّ حَيَاتَهُ ذِكْرُهُ

Pelajarilah hadis, sungguh ia hanya bisa hidup jika terus dipelajari.”

7. Ibnu Abi Laila berkata,

إِحْيَاءُ الْحَدِيْثَ مُذَاكَرَتُهُ فَتَذَاكَرُوْهُ

Menghidupkan hadis Nabi adalah dengan mempelajarinya. Maka pelajarilah ia!”

Demikianlah anjuran dari para sahabat dan tabi’in untuk terus menyampaikan dan mengkaji hadis. Semoga kata-kata mereka dapat melecutkan semangat kita untuk mempelajari dan menyampaikan hadis-hadis Nabi saw. dengan benar. Aamiin.

(Dikutip dan diolah dari buku Keutamaan Belajar Ilmu Hadis Terjemah Kitab Syaraf Ashabil Hadis karya Imam Al-Kathib Al-Baghdadi hal. 73-76. Alih bahasa: Ustadz M. Khairul Huda dan Ustadz Rudy Fachruddin)

Hadis No. 34 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab menegakkan lailatul qadar bagian dari keimanan,

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’aib telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Az-Zinad telah menceritakan kepada kami, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menegakkan lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.”

Sekolah Hadis El-Bukhari Institute Membuka Pendaftaran Member Baru

0
Sekolah Hadis el-Bukhari Institute
Sekolah Hadis el-Bukhari Institute

Hadispedia.id – Setelah kurang lebih lima tahun berjalan, Sekolah Hadis El-Bukhari Institute telah berhasil membantu ratusan peserta dalam memahami kajian hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Mulai dari kelas Ilmu Hadis Dasar yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur hadis dan pembagian-pembagiannya, Ilmu Takhrij dan kajian sanad yang mengkaji kaedah-kaedah dalam menemukan hadis serta menganalisis kualitasnya, hingga kajian metode memahami hadis (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ilmu Matan Hadis) yang bertujuan untuk menuntun seseorang dalam mengamalkan hadis sesuai dengan konteks situasi dan kondisi kenapa sebuah hadis itu disampaikan oleh Nabi saw. kepada umatnya.

Ketika seorang muslim mendengar atau membaca sebuah hadis, dia tidak diperkenankan untuk langsung mengamalkannya sebelum mengkajinya secara mendalam melalui ketiga ilmu yang disebutkan di atas atau menanyakannya kepada mereka yang menguasai ketiga ilmu tersebut. Hal itu disebabkan karena hadis mempunyai beragam pemaknaan dan sudut pandang yang tidak mungkin hanya bisa dipahami lewat terjemahan semata ataupun interpretasi dangkal yang tidak didasari oleh ilmu yang memadai. Akibat dari interpretasi yang dangkal tersebut sangat banyak kita temui saat ini oknum-oknum yang menyalahgunakan hadis untuk hal-hal negatif yang justru bertentangan dengan semangat hadis itu sendiri.

Sebagai contoh misalnya, ada oknum yang menggunakan hadis untuk memerangi kelompok lain yang mereka anggap berbeda secara akidah dengan mereka. Selain itu ada juga oknum yang dengan pemahaman tesktualnya menyesatkan dan bahkan mengafirkan saudaranya sesama muslim lantaran berbeda secara muamalah sehari-hari dengan mereka. Dan bahkan ada juga sebagian oknum yang dengan beraninya menggunakan hadis untuk tujuan-tujuan politis dalam rangka mendukung atau menolak seorang tokoh yang mereka jagokan untuk memimpin pemerintahan. Kasus-kasus tersebut cukup menjadi bukti kuat bahwa kajian hadis perlu untuk dibumikan dan disebarluaskan kepada semua masyarakat agar kesucian hadis tetap terjaga.

Untuk itu Sekolah Hadis El-Bukhari Institute hadir kembali dan membuka peluang untuk semua masyarakat muslim Indonesia yang ingin mendalami kajian Hadis secara menyeluruh untuk ikut bergabung sebagai member program. Adapun fasilitas yang akan didapatkan di antaranya adalah berhak mengikuti ketiga cabang ilmu hadis yang sudah kami jelaskan di atas sampai tuntas sekaligus mengikuti kajian kitab-kitab Hadis, Ilmu Hadis, dan Fikih secara komprehensif bersama dengan asatidz El-Bukhari Institute. Selain itu, member juga akan mendapatkan buku panduan dan kitab-kitab kajian yang akan dikirimkan secara langsung ke alamat peserta plus kesempatan untuk mengakses kajian hadis digital secara gratis selama satu tahun melalui platform Hadispedia.

Untuk pendaftaran dan informasi detail lainnya bisa ditemukan dengan mengklik tautan berikut http://bit.ly/SekolahHadisEl-Bukhari atau mengikuti semua akun media sosial kami di IG dengan nama akun @hadispedia, Facebook dengan nama akun Hadis Pedia, Twitter dengan nama akun hadispedia, dan website resmi kami www.hadispedia.id. Mari bersama kita kembangkan kajian hadis menjadi kajian yang lebih hidup, inklusif, dan inovatif agar mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi oase dalam segala tindak-tanduk kehidupan kita.!

Hadis No. 16 Sunan Ibn Majah

0
Sunan Ibnu Majah
Sunan Ibn Majah

Hadispedia.id – Al-Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada kitab muqaddimah bab mengagungkan hadis Rasulullah saw. dan bersikap keras kepada orang yang menentangnya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى النَّيْسَابُورِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ أَنْ يُصَلِّينَ فِى الْمَسْجِدِ ». فَقَالَ ابْنٌ لَهُ إِنَّا لَنَمْنَعُهُنَّ. فَقَالَ فَغَضِبَ غَضَبًا شَدِيدًا وَقَالَ إِنِّى أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَإِنَّكَ تَقُولُ إِنَّا لَنَمْنَعُهُنَّ

Muhammad bin Yahya An-Naisaburi, ia berkata, Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk shalat di masjid.” Lalu seorang anaknya berkata, “Sungguh, kami akan melarang mereka.” Maka, Ibnu Umar marah besar seraya menghardik, “Aku bacakan kepada kalian hadis Rasulullah saw., namun engkau katakan ‘Sungguh kami akan melarang mereka?”.

Hadis No. 15 Sunan Ibnu Majah

0
Sunan Ibnu Majah
Sunan Ibn Majah

Hadispedia.id – Al-Imam Ibnu Majah berkata dalam Sunan-nya pada kitab muqaddimah bab mengagungkan hadis Rasulullah saw.,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ الْمِصْرِىُّ أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيْرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شِرَاجِ الْحَرَّةِ الَّتِى يَسْقُونَ بِهَا النَّخْلَ فَقَالَ الأَنْصَارِىُّ سَرِّحِ الْمَاءَ يَمُرُّ. فَأَبَى عَلَيْهِ فَاخْتَصَمَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ ». فَغَضِبَ الأَنْصَارِىُّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ « يَا زُبَيْرُ اسْقِ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ ». قَالَ فَقَالَ الزُّبَيْرُ وَاللَّهِ إِنِّى لأَحْسَبُ هَذِهِ الآيَةَ نَزَلَتْ فِى ذَلِكَ (فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِى أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )

Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir Al-Mishri telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Laits bin Sa’d telah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Az-Zubair, Abdullah bin Az-Zubair menceritakan kepadanya bahwa ada seorang laki-laki Anshar mendebat Az-Zubair di samping Rasulullah saw. tentang masalah pengairan yang biasa mereka gunakan untuk menyiram pohon kurma. Orang Anshar itu berkata, “Biarkan air itu lewat,” tetapi Az-Zubair tidak mengindahkannya. Maka terjadilah perdebatan di antara keduanya di hadapan Rasulullah saw. Maka, Rasulullah saw. pun bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, setelah itu alirkan air tersebut untuk tetanggamu.” Tetapi orang Anshar tersebut marah seraya berkata, “Ya Rasulullah, apakah karena dia anak pamanmu?” Maka berubahlah wajah Rasulullah saw. lalu beliau bersabda, “Hai Zubair, airilah (kebunmu), setelah itu tahan airnya agar ia kembali ke asalnya.” Abdullah bin Zubair berkata. Maka, Zubair berkata, “Demi Allah, saya mengira bahwa ayat ini turun dalam kejadian tersebut, “Maka demi Rabb-Mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Hadis No. 74 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab kadar air yang cukup digunakan seorang laki-laki untuk berwudhu,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ – ثُمَّ ذَكَرَ كَلِمَةً مَعْنَاهَا – حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ حَبِيبٍ قَالَ: سَمِعْتُ عَبَّادَ بْنَ تَمِيمٍ يُحَدِّثُ، عَنْ جَدَّتِي وَهِيَ أُمُّ عُمَارَةَ بِنْتُ كَعْبٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَوَضَّأَ فَأُتِيَ بِمَاءٍ فِي إِنَاءٍ قَدْرَ ثُلُثَيِ الْمُدِّ – قَالَ شُعْبَةُ: فَأَحْفَظُ أَنَّهُ – غَسَلٍ ذِرَاعَيْهِ، وَجَعَلَ يَدْلُكُهُمَا، وَيَمْسَحُ أُذُنَيْهِ بَاطِنَهُمَا وَلَا أَحْفَظُ أَنَّهُ مَسَحَ ظَاهِرَهُمَا

Muhammad bin Basysyar telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad telah menceritakan kepada kami – kemudian ia menuturkan kalimat yang semakna -, ia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, dari Habib, ia berkata, ‘Aku mendengar Abbad bin Tamim menceritakan dari neneknya, yakni Ummu Umarah binti Ka’b, bahwa Nabi saw. hendak berwudhu, maka dibawakan air di dalam bejana sekitar dua pertiga mud. Syu’bah berkata, “Yang aku ingat beliau membasuh kedua lengannya dan menggosok-gosok keduanya, lalu membasuh bagian dalam kedua telinganya dan aku tidak ingat bahwa beliau membasuh bagian luar kedua telinganya.”

Hadis No. 73 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab kadar air yang cukup digunakan seorang laki-laki untuk berwudhu,

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَبْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَتَوَضَّأُ بِمَكُّوكٍ وَيَغْتَسِلُ بِخَمْسِ مَكَاكِيَّ

Amr bin Ali telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yahya telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdullah bin Abdullah bin Jabr telah menceritakan kepadaku, ia berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw. pernah berwudhu dengan satu makkuk (mud) dan mandi dengan lima makkuk.”

Hadis No. 72 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab sisa air orang yang junub,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ: أَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَسِلُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْإِنَاءِ الْوَاحِدِ

Qutaibah bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Al-Laits telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa ia mengabarkan kepada Urwah bahwa Aisyah pernah mandi bersama Rasulullah saw. dalam satu bejana.