Beranda blog Halaman 55

Hadis No. 65 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab sabda Nabi saw., “Terkadang orang yang menyampaikan lebih mengerti dibandingkan orang yang mendengarnya.”,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا بِشْرٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ ذَكَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَعَدَ عَلَى بَعِيرِهِ وَأَمْسَكَ إِنْسَانٌ بِخِطَامِهِ – أَوْ بِزِمَامِهِ – قَالَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا فَسَكَتْنَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ سِوَى اسْمِهِ قَالَ أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ قُلْنَا بَلَى قَالَ فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا فَسَكَتْنَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ فَقَالَ أَلَيْسَ بِذِي الحِجَّةِ قُلْنَا بَلَى قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ  الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ

Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Bisyr telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Aun telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Sirin, dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya, ia menuturkan bahwa Nabi saw. pernah duduk di atas untanya, sementara orang-orang memegangi tali kekang unta tersebut. Beliau bersabda, “Hari apakah ini?” Kami semua terdiam hingga menyangka bahwa beliau akan memberi nama lain selain nama hari yang sudah dikenal. Beliau berkata, “Bukanlah hari ini hari nahr?” Kami menjawab, “Benar”. Nabi saw. kembali bertanya, “Bulan apakah ini?” Kami semua terdiam hingga menyangka bahwa beliau akan memberi nama lain selain nama bulan yang sudah dikenal. Beliau berkata, “Bukankah ini bulan Dzul Hijjah?” Kami menjawab, “Benar”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian sesama kalian haram (suci/mulia) sebagaimana mulianya hari kalian ini, bulan kalian ini, negara kalian ini. Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena orang yang hadir semoga dapat menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya.”

Hadis No. 64 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab orang yang duduk sampai majelisnya selesai dan orang yang menjumpai tempat yang lowong dalam sebuah majelis lalu ia pun duduk menempatinya,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي المَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

Ismail telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Malik telah menceritakan kepadaku, dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah bahwa Abu Murrah; mantan budak Aqil bin Abu Thalib telah mengabarkan kepadanya dari Abu Waqid Al-Laitsi, bahwa Rasulullah saw. ketika sedang duduk di dalam masjid bersama para sahabat, datanglah tiga orang. Lalu, dua orang berdiri di hadapan Rasulullah saw. sedangkan yang seorang pergi. Abu Waqid berkata, “Maka dua orang tadi berdiri di hadapan Nabi saw. kemudian satu di antara keduanya melihat tempat kosong dalam majelis, maka ia duduk di tempat itu. Sedangkan yang kedua, duduk di belakang majelis. Sementara yang ketiga berbalik pergi. Setelah Rasulullah saw. selesai bermajelis, beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi? Adapun seorang di antara mereka, ia mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mendekatkan ia kepada-Nya. Orang yang kedua, ia malu (tidak mengisi tempat yang kosong), maka Allah pun malu kepada-Nya. Sedangkan orang yang ketiga berpaling dari Allah, maka Allah pun berpaling darinya.”

Hadis No. 63 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab tentang Al-Munawalah dan ahli ilmu menyebarkan ilmunya ke seluruh negeri,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الحَسَنِ المَرْوَزِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَتَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِتَابًا – أَوْ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ – فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لاَ يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا مَخْتُومًا فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي يَدِهِ فَقُلْتُ لِقَتَادَةَ مَنْ قَالَ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ أَنَسٌ

Muhammad bin Muqatil; Abu Al-Hasan Al-Marwazi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdullah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Syu’bah telah mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi saw. pernah menulis sebuah surat – atau bermaksud menulis surat – lalu dikatakan kepada beliau, bahwa mereka tidak akan membaca tulisan kecuali tertera stempel. Maka Nabi saw. membuat stempel dari perak yang terukir; Muhammad Rasulullah. Seakan-akan aku melihat warna putih pada tangan beliau.” Lalu aku (Syu’bah) bertanya kepada Qatadah, “Siapa yang berkata bahwa ukiran stempelnya adalah Muhammad Rasulullah?” Qatadah menjawab, “Anas”.

Hadis No. 62 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab tentang Al-Munawalah dan ahli ilmu menyebarkan ilmunya ke seluruh negeri,

وَقَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: نَسَخَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ المَصَاحِفَ فَبَعَثَ بِهَا إِلَى الآفَاقِ وَرَأَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَوَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ ذَلِكَ جَائِزًا وَاحْتَجَّ بَعْضُ أَهْلِ الحِجَازِ فِي المُنَاوَلَةِ بِحَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ كَتَبَ لِأَمِيرِ السَّرِيَّةِ كِتَابًا وَقَالَ: «لاَ تَقْرَأْهُ حَتَّى تَبْلُغَ مَكَانَ كَذَا وَكَذَا». فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ المَكَانَ قَرَأَهُ عَلَى النَّاسِ وَأَخْبَرَهُمْ بِأَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Anas bin Malik berkata, “Usman bin Affan menyalin mushaf-mushaf (Al-Qur’an) lalu menyuruh menyebarkannya ke seluruh negeri.” Abdullah bin Umar, Yahya bin Sa’id, dan Malik bin Anas berpendapat bahwa hal itu boleh. Sebagian ahlul Hijaz berargumen tentang Al-Munawalah dengan (dalil) hadis Nabi saw. yang ketika itu beliau mengirim kepada pemimpin tentara perang sariyyah sebuah surat dan beliau bersabda, “Janganlah kamu baca surat ini sampai kamu sampai di tempat ini dan ini.” Ketika ia sampai di tempat tersebut, maka ia baru membacakan surat itu kepada orang-orang dan ia memberitahukan kepada mereka tentang perintah Nabi saw.

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بَعَثَ بِكِتَابِهِ رَجُلًا وَأَمَرَهُ أَنْ يَدْفَعَهُ إِلَى عَظِيمِ البَحْرَيْنِ فَدَفَعَهُ عَظِيمُ البَحْرَيْنِ إِلَى كِسْرَى فَلَمَّا قَرَأَهُ مَزَّقَهُ فَحَسِبْتُ أَنَّ ابْنَ المُسَيِّبِ قَالَ: فَدَعَا عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُمَزَّقُوا كُلَّ مُمَزَّقٍ

Ismail bin Abdullah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepadaku, dari Shalih, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkannya bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus seseorang dengan membawa surat dan memerintahkannya untuk memberikan surat itu kepada Pemimpin Bahrain. Lalu Pemimpin Bahrain itu memberikannya kepada Kisra (gelar Raja Persia). Ketika ia membaca surat itu, ia merobeknya. Aku mengira bahwa Ibnu Al-Musayyib berkata, “Lalu Rasulullah saw. berdoa agar mereka (kekuasaannya) dirobek-robek sehancur-hancurnya.”

Hadis No. 61 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab tentang ilmu dan firman Allah swt., “Wa qul rabbi zidni ilma (Katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu) Q.S. Thaha (20): 114,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدٍ هُوَ المَقْبُرِيُّ عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي المَسْجِدِ دَخَلَ رَجُلٌ عَلَى جَمَلٍ فَأَنَاخَهُ فِي المَسْجِدِ ثُمَّ عَقَلَهُ ثُمَّ قَالَ لَهُمْ أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ فَقُلْنَا هَذَا الرَّجُلُ الأَبْيَضُ المُتَّكِئُ. فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: يَا ابْنَ عَبْدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ أَجَبْتُكَ». فَقَالَ الرَّجُلُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي سَائِلُكَ فَمُشَدِّدٌ عَلَيْكَ فِي المَسْأَلَةِ فَلاَ تَجِدْ عَلَيَّ فِي نَفْسِكَ؟ فَقَالَ: «سَلْ عَمَّا بَدَا لَكَ» فَقَالَ: أَسْأَلُكَ بِرَبِّكَ وَرَبِّ مَنْ قَبْلَكَ آللَّهُ أَرْسَلَكَ إِلَى النَّاسِ كُلِّهِمْ؟ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ نَعَمْ». قَالَ: أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ آللَّهُ أَمَرَكَ أَنْ نُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الخَمْسَ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ؟ قَالَ: «اللَّهُمَّ نَعَمْ». قَالَ: أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ آللَّهُ أَمَرَكَ أَنْ نَصُومَ هَذَا الشَّهْرَ مِنَ السَّنَةِ؟ قَالَ: «اللَّهُمَّ نَعَمْ». قَالَ: أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ آللَّهُ أَمَرَكَ أَنْ تَأْخُذَ هَذِهِ الصَّدَقَةَ مِنْ أَغْنِيَائِنَا فَتَقْسِمَهَا عَلَى فُقَرَائِنَا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ نَعَمْ». فَقَالَ الرَّجُلُ: آمَنْتُ بِمَا جِئْتَ بِهِ وَأَنَا رَسُولُ مَنْ وَرَائِي مِنْ قَوْمِي وَأَنَا ضِمَامُ بْنُ ثَعْلَبَةَ أَخُو بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ وَرَوَاهُ مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الحَمِيدِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ المُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا

Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Laits telah menceritakan kepada kami, dari Sa’id yakni Al-Maqburi, dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, bahwa ia pernah mendengar Anas bin Malik berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Nabi saw. di dalam masjid, ada seorang laki-laki yang menunggang unta datang lalu menambatkannya di dekat masjid. Lalu ia berkata kepada mereka (para sahabat), “Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad?” Pada saat itu, Nabi saw. bersandar di tengah para sahabat, lalu kami menjawab, “Orang ini yang berkulit putih yang sedang bersandar.” Orang itu berkata kepada beliau, “Wahai putra Abdul Muthalib.” Nabi saw. menjawab kepadanya, “Ya, aku sudah menjawabmu.” Maka orang itu berkata kepada Nabi saw., “Aku bertanya kepadamu persoalan yang mungkin berat untukmu, namun janganlah kamu merasakan sesuatu terhadapku.” Maka beliau menjawab, “Tanyalah apa yang menjadi persoalanmu.” Orang itu berkata, “Aku bertanya kepadamu, demi Tuhanmu dan Tuhan orang sebelummu. Apakah Allah yang mengutusmu kepada manusia seluruhnya?” Beliau menjawab, “Ya Allah, benar.” Ia berkata, “Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah yang memerintahmu supaya kami shalat lima (waktu) dalam sehari semalam?” Beliau menjawab, “Ya Allah,  benar.” Ia berkata, “Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah yang memerintahmu supaya kami puasa di bulan ini dari tahun (ini)?” Beliau menjawab, “Ya Allah, benar.” Ia berkata, “Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah yang memerintahmu supaya mengambil sedekah dari orang-orang kaya di antara kami lalu membagikannya kepada orang-orang fakir di antara kami?” Maka Nabi saw. menjawab, “Ya Allah, benar.” Orang itu berkata, “Aku beriman dengan apa yang engkau bawa dan aku adalah utusan kaumku, aku Dlimam bin Tsa’labah saudara dari Bani Sa’d bin Bakr.” Musa bin Isma’il dan Ali bin Abdul Hamid juga meriwayatkan dengan redaksi hadis tersebut dari Sulaiman bin Al-Mughirah dari Tsabit dari Anas dari Nabi saw.

Hadis No. 60 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Bukhari
Shahih Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Ilmu bab seorang imam melemparkan pertanyaan kepada jamaahnya untuk menguji ilmu yang mereka miliki,

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ المُسْلِمِ حَدِّثُونِي مَا هِيَ قَالَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ البَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sulaiman telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdullah bin Dinar telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Umar, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya. Itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah kepadaku, pojon apakah itu?” Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah. Abdullah (bin Umar) berkata, “Aku berpikir dalam hati, pohon itu adalah pohon kurma. Tapi aku malu mengungkapkannya.” Kemudian orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?” Beliau menjawab, “Pohon kurma.”

Hadis No. 93 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab jumlah membasuh wajah,

أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ عُرْفُطَةَ عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أُتِيَ بِكُرْسِيٍّ فَقَعَدَ عَلَيْهِ ثُمَّ دَعَا بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فَكَفَأَ عَلَى يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ بِكَفٍّ وَاحِدٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا وَأَخَذَ مِنَ الْمَاءِ فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ – وَأَشَارَ شُعْبَةُ مَرَّةً مِنْ نَاصِيَتِهِ إِلَى مُؤَخَّرِ رَأْسِهِ ثُمَّ قَالَ لَا أَدْرِي أَرَدَّهُمَا أَمْ لَا – وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى طُهُورِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَهَذَا طُهُورُهُ. وَقَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَذَا خَطَأٌ وَالصَّوَابُ خَالِدُ بْنُ عَلْقَمَةَ لَيْسَ مَالِكِ بْنَ عُرْفُطَةَ

Suwaid bin Nashr telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdullah yakni Ibnu Al-Mubarak telah memberitakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Malik bin Urthufah, dari Abdu Khair, dari Ali r.a., bahwa ia dibawakan sebuah kursi, ia segera duduk di atasnya. Kemudian ia meminta bejana kecil berisi air, lalu ia tuangkan ke telapak tangannya tiga kali kemudian ia berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan satu cakupan telapak tangan tiga kali. Ia memasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua lengannya tiga kali-tiga kali, dan mengambil air lalu mengusap kepalanya – Syu’bah (perawi hadis ini) mengisyaratkan satu kali usapan dari ujung ubun-ubun sampai akhir kepalanya kemudian ia berkata, ‘Aku tidak tahu apakah ia mengembalikan keduanya atau tidak (dari tengkuk sampai ubun-ubun)- dan ia (Ali r.a.) membasuh kedua kakinya tiga kali-tiga kali. Setelah itu, ia berkata, “Siapa yang ingin melihat cara bersucinya Rasulullah saw., maka inilah cara beliau.” Abu Abdurrahman berkata, “Jalur periwayatan di atas ada yang salah, yang benar adalah Khalid bin Alqamah bukan Malik bin Urthufah.”

Hadis No. 92 Sunan An-Nasa’i

0
Sunan An-Nasa'i
Sunan An-Nasa'i

Hadispedia.id – Al-Imam An-Nasa’i berkata dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab membasuh wajah,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ خَالِدِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ قَالَ أَتَيْنَا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَدْ صَلَّى فَدَعَا بِطَهُورٍ فَقُلْنَا مَا يَصْنَعُ بِهِ وَقَدْ صَلَّى؟ مَا يُرِيدُ إِلَّا لِيُعَلِّمَنَا فَأُتِيَ بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ وَطَسْتٍ فَأَفْرَغَ مِنَ الْإِنَاءِ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهَا ثَلَاثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلَاثًا مِنَ الْكَفِّ الَّذِي يَأْخُذُ بِهِ الْمَاءَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَغَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَيَدَهُ الشِّمَالَ ثَلَاثًا وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَرِجْلَهُ الشِّمَالَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَعْلَمَ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ هَذَا

Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Awanah telah menceritakan kepada kami, dari Khalid bin Alqamah, dari Abdu Khair, ia berkata, “Kami datang kepada Ali bin Abi Thalib r.a. Dia sudah shalat, tetapi ia meminta air wudhu, maka kami katakan, ‘Apa yang ia lakukan dengan air ini, padahal ia telah shalat?’ Ternyata ia tidak menginginkan yang demikian kecuali untuk mengajari kami. Maka, dibawakanlah sebuah bejana dan gayung berisi air, lalu ia menuangkan air ke tangannya, lalu membasuhnya tiga kali, berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung tiga kali dari telapak tangan yang ia pakai untuk mengambil air, membasuh wajahnya tiga kali, membasuh tangan kanannya tiga kali, membasuh tangan kirinya tiga kali, dan mengusap kepalanya sekali. Kemudian membasuh kaki kanannya tiga kali, dan membasuh kaki kirinya tiga kali. Setelah selesai, Ali berkata, ‘Siapa yang ingin mengetahui wudhunya Rasulullah saw., inilah wudhu beliau.'”

Imam Al-Baihaqi, Ulama Hadis Bermadzhab Syafi’i

0
Imam Al-Baihaqi
Imam Al-Baihaqi

Hadispedia.id – Imam Al-Baihaqi merupakan ulama hadis juga ulama ahli fikih dan ushul fiqh yang lahir setelah generasi ulama-ulama hadis sebelumya, seperti Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, Imam Ad-Darimi, dan lainnya. Tak hanya terkenal sebagaimana ulama di atas, tetapi Imam Al-Baihaqi juga dikenal sebagai ulama Syafi’iyah yang terakhir mengumpulkan naskah-naskah fikih madzhab syafi’i.

Biografi Imam Al-Baihaqi

Beliau ulama pada masa Daulah Abbasiyah yang lahir pada tahun 384 H. pada bulan Sya’ban. Beliau memiliki nama lengkap Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Khazraujirdi Al-Khurasani Al-Baihaqi. Al-Baihaqi merupakan nama yang dinisbatkan kepada tempat kelahiran beliau, tepatnya di Khazraujirdi, Baihaq. Sebuah perkampungan di wilayah Naisabur, tetapi sekarang menjadi provinsi Khurasan, Iran.

Imam Al-Baihaqi disebut-sebut sebagai ulama pertama penyebar fikih madzhab Syafi’i. Hal tersebut berdasarkan kegiatan beliau yang berhasil mengumpulkan naskah-naskah fikih madzhab Syafi’i dalam karyanya yang berjudul al-Mabsuth. Tidak hanya menjadikannya dalam sebuah kitab, Imam Al-Baihaqi juga mengajarkan apa yang ada dalam kitab tersebut. Namun pernyataan itu ditentang oleh At-Taj As-Subki dalam buku “60 Biografi  Ulama Salaf”.

Menurut At-Taj As-Subki sebagaimana dituturkan oleh gurunya, Syaikh Adz-Dzahabi bahwa beliau merupakan orang terakhir yang mengumpulkan naskah-naskah fikih tersebut. Oleh karena itu, ia menguasai mayoritas apa yang ada dalam kitab-kitab ulama yang sudah mendahuluinya.

Menurut Adz-Dzahabi, tidak seorang pun setelahnya yang mengumpulkan teks-teks seperti yang Imam Al-Baihaqi kumpulkan karena ia telah menutup pintu untuk itu bagi mereka. Beliau hidup pada zaman kekacauan politik yang juga mengacaukan paham Islam pada masa itu, membuat Imam Al-Baihaqi berupaya tetap kokoh dalam agamanya.

Rihlah Intelektual Imam Al-Baihaqi

Dalam buku “60 Biografi Ulama Salaf” dijelaskan berdasarkan riwayat Adz-Dzahabi bahwa Imam Al-Baihaqi pada usia 15 tahun berguru kepada Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi, murid Abu Hamid bin Asy-Syarqi. Abu Hasan merupakan guru pertama beliau. Proses Imam Al-Baihaqi dalam belajar yaitu dengan mendatangi berbagai negara dan berguru ke setiap ulama yang dipercaya. Seperti mendatangi Baghdad dan berguru ke Hilal Al-Haffar, Abu Al-Husain bin Busyran serta ulama lainnya. Tak berhenti di Baghdad, beliau meneruskan lawatan ilmunya ke negara lain seperti Irak, Hijaz, dan Al-Jibal.

Berbeda dengan ulama lainnya yang dapat berguru mencapai 500 bahkan 900 guru, Imam Al-Baihaqi belajar ke 100 guru. Jika dilihat berdasarkan angka, 100 merupakan angka yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah guru ulama hadis lainnya. Namun, beliau menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh hingga dapat meraup ilmu sebanyak-banyaknya dan menjadi ulama yang terkenal yang diakui keilmuannya.

Karya-karyanya

Imam Al-Baihaqi mulai membuat karya setelah melakukan lawatan ilmu yang cukup panjang. Dikatakan dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah bahwa belum ada seorang pun yang bisa menandinginya dalam menyusun karya-karya seperti yang telah dicapainya tersebut. Beliau dapat menulis kitab hingga 1000 juz dengan beragam tema bahasan seperti akidah, hadis, fikih, hingga tarikh. Berikut adalah di antara karya-karya beliau,

  1. Al-Ma’rifah fi as-Sunan wa al-Atsar
  2. As-Sunan al-Kubra
  3. As-Sunan as-Shaghir
  4. As-Sunan wa al-Atsar
  5. Al-Asma’wa ash-Shifat
  6. Al-Mu’taqad
  7. Al-Ba’ts
  8. At-Targhib wa at-Tarhib
  9. Ad-Da’awat
  10. Az-Zuhd
  11. Manaqib asy-Syafi’i
  12. Manaqib Ahmad

Pandangan Ulama Terhadap Imam Al-Baihaqi

Imam Al-Harmain, dalam buku “Biografi 60 Ulama Salaf” mengatakan tentang Imam Al-Baihaqi, “tidak ada seorang pun dari pengikut madzhab Syafi’I kecuali asy-Syafi’I berada di lehernya. Namun hal itu tidak berlaku bagi imam Al-Baihaqi, karena ia terlepas dari keterikatan itu dan justru membela madzhab dan perkataan Imam Asy-Syafi’i dengan karya-karyanya”.

Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Jika Al-Baihaqi menginginkan madzhab sendiri dengan jalan berijtihad, maka ia mampu untuk itu karena ilmunya yang luas dan pengetahuannya yang mendalam mengenai masalah-masalah khilaf. Oleh karena itulah, kamu lihat ia membela pendapat ulama yang didukung oleh hadis yang shahih”.

Hadis No. 70 Sunan At-Tirmidzi

0
Sunan At-Tirmidzi
Sunan At-Tirmidzi

Hadispedia.id – Al-Imam At-Tirmidzi berkata di dalam Sunannya pada kitab bersuci bab peringatan keras masalah kencing,

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ وَقُتَيْبَةُ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنِ الأَعْمَشِ قَال سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُوسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
وَفِي البَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي مُوسَى وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ حَسَنَةَ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَأَبِي بَكْرَةَ
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
وَرَوَى مَنْصُورٌ هَذَا الحَدِيثَ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ طَاوُوسٍ وَرِوَايَةُ الأَعْمَشِ أَصَحُّ
وَسَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبَانَ البَلْخِيَّ مُسْتَمْلِي وَكِيعٍ يَقُولُ سَمِعْتُ وَكِيعًا يَقُولُ الأَعْمَشُ أَحْفَظُ لِإِسْنَادِ إِبْرَاهِيمَ مِنْ مَنْصُورٍ

Hannad, Qutaibah, dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Waki’ telah menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, ia berkata, aku mendengar Mujahid bercerita dari Thawus, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, “Keduanya sedang disiksa dan mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang ini disiksa karena tidak menutup diri ketika kencing, dan yang satu lagi karena mengadu domba.”

Pada bab ini juga ada riwayat dari Abu Hurairah, Abu Musa, Abdurrahman bin Hasanah, Zaid bin Tsabit, dan Abu Bakrah.

Abu Isa berkata, “Ini hadis berderajat hasan shahih.”

Manshur meriwayatkan hadis ini dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, namun ia tidak menyebutkan dari Thawus. Sedangkan hadis riwayat Al-A’masy lebih shahih. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Bakr bin Aban Al-Balkhi -orang yang minta dibacakan oleh Waki’- berkata, ‘Al-A’masy lebih hafal dengan sanad Ibrahim dari pada Manshur.'”