Beranda blog Halaman 60

Hadis No. 89 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abu Daud
Sunan Abu Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab menyempurnakan wudhu’,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ أَبِي يَحْيَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى قَوْمًا وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ فَقَالَ: وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya telah menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ia berkata, Manshur telah menceritakan kepada kami, dari Hilal bin Yasaf, dari Abu Yahya, dari Abdullah bin Amr r.a., bahwa Rasulullah saw. pernah melihat suatu kaum yang mata kaki mereka terlihat masih kering (belum tersentuh air wudhu’), maka beliau bersabda, “Neraka wail (jurang di Jahanam) bagi (pemilik) mata kaki (yang tidak terbasuh dengan sempurna). Sempurnakanlah wudhu’.”

Penjelasan:

Hadis ini mengingatkan kita agar memperhatikan basuhan wudhu dengan sempurna. Jangan sampai ada anggota wudhu yang masih kering atau belum tersentuh air wudhu’. Oleh sebab itu, ketika berwudhu’ disunnahkan untuk membasuh sebanyak tiga kali agar basuhan yang kedua dan ketiga itu menyempurnakan basuhan yang pertama.

Lebih disunnahkan lagi sebagaimana diterangkan dalam kitab Aunul Ma’bud, jika basuhan tiga kali itu melebihi batas anggota wajib. Misalnya kaki, bagian yang wajib dibasuh adalah hanya sampai mata kaki. Namun, kita membasuhnya sampai di atas mata kaki, seperti sampai betis. Inilah yang disebut dalam kitab dengan istilah Al-Ithalah. Begitu juga ketika membasuh kedua tangan. Bagian yang wajib adalah hingga siku-siku. Namun, sunnahnya adalah melebihi dari siku-siku. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Hadis No. 45 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil bahwa orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga,

حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ وَأَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ جَمِيعًا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ قَالَ أَبُو كُرَيْبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَوْ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ – شَكَّ الْأَعْمَشُ – قَالَ: لَمَّا كَانَ غَزْوَةُ تَبُوكَ أَصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحَرْنَا نَوَاضِحَنَا فَأَكَلْنَا وَادَّهَنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «افْعَلُوا» قَالَ: فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ وَلَكِنْ ادْعُهُمْ بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ ثُمَّ ادْعُ اللهَ لَهُمْ عَلَيْهَا بِالْبَرَكَةِ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَجْعَلَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ، قَالَ: فَدَعَا بِنِطَعٍ فَبَسَطَهُ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ قَالَ: فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ، قَالَ: وَيَجِيءُ الْآخَرُ بِكَفِّ تَمْرٍ، قَالَ: وَيَجِيءُ الْآخَرُ بِكَسْرَةٍ حَتَّى اجْتَمَعَ عَلَى النِّطَعِ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ يَسِيرٌ، قَالَ: فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: «خُذُوا فِي أَوْعِيَتِكُمْ»، قَالَ: فَأَخَذُوا فِي أَوْعِيَتِهِمْ، حَتَّى مَا تَرَكُوا فِي الْعَسْكَرِ وِعَاءً إِلَّا مَلَئُوهُ، قَالَ: فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، وَفَضَلَتْ فَضْلَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ لَا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ

Sahl bin Usman dan Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala’ telah menceritakan kepada kami, semuanya dari Abu Mu’awiyah, Abu Kuraib berkata, Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau dari Abu Sa’id – Al-A’masy ragu-ragu – Abu Hurairah berkata, “Saat perang Tabuk, pasukan (kaum muslimin)  mengalami rasa lapar yang sangat, mereka pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, sekiranya tuan izinkan kami untuk menyembelih unta kami, sehingga kami bisa memakan dagingnya dan menggunakan lemaknya sebagai minyak (melapisi kulit, untuk menjaga dari terik panas)?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Lakukanlah’. Abu Hurairah berkata, “Lalu datanglah Umar seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jika itu engkau lakukan, maka punggung unta (kendaraan) akan habis! Tapi sebaiknya, tuan minta sisa makanan mereka yang masih ada kemudian tuan doakan, semoga Allah memberikan keberkahan padanya.’ Rasulullah saw. lalu bersabda, “Baiklah.” Kemudian beliau minta hamparan (terbuat dari kulit), setelah menggelarnya, beliau meminta sisa-sisa makanan mereka yang masih tersisa.” Abu Hurairah melanjutnya, “Lalu ada seorang laki-laki yang datang dengan membawa segenggam jagung, ada juga yang datang dengan membawa segenggam kurma, dan sebagian lain datang dengan remukan-remukan (makanan), sehingga terkumpullah di atas hamparan kulit tersebut sedikit makanan. Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah saw. mendoakan makanan tersebut dengan keberkahan, setelah itu beliau bersabda, ‘Ambil dan isilah tempat makanan kalian’. Abu Hurairah melanjutkan, “Mereka kemudian memenuhi tempat perbekalan mereka, sehingga tidak seorang tentara pun kecuali tempat makanan mereka telah penuh terisi.” Abu Hurairah melanjutkan, “Mereka kemudian memakannya hingga kenyang, dan makanan itu pun masih ada tersisa.” Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan berpegang teguh padanya (dua kalimat syahadat itu) tanpa ada keraguan kemudian ia terhalang masuk surga.”

Hadis No. 44 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil bahwa orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga,

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ بْنِ أَبِي النَّضْرِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ قَالَ: فَنَفِدَتْ أَزْوَادُ الْقَوْمِ قَالَ: حَتَّى هَمَّ بِنَحْرِ بَعْضِ حَمَائِلِهِمْ قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوْ جَمَعْتَ مَا بَقِيَ مِنْ أَزْوَادِ الْقَوْمِ، فَدَعَوْتَ اللهَ عَلَيْهَا، قَالَ: فَفَعَلَ، قَالَ: فَجَاءَ ذُو الْبُرِّ بِبُرِّهِ، وَذُو التَّمْرِ بِتَمْرِهِ، قَالَ: وَقَالَ مُجَاهِدٌ: وَذُو النَّوَاةِ بِنَوَاهُ، قُلْتُ: وَمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ بِالنَّوَى؟ قَالَ: كَانُوا يَمُصُّونَهُ وَيَشْرَبُونَ عَلَيْهِ الْمَاءَ، قَالَ: فَدَعَا عَلَيْهَا قَالَ حَتَّى مَلَأَ الْقَوْمُ أَزْوِدَتَهُمْ، قَالَ: فَقَالَ عِنْدَ ذَلِكَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، لَا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Abu Bakr bin An-Nadhr bin Abu An-Nadhr telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Ubaidullah Al-Asyja’i telah menceritakan kepada kami, dari Malik bin Mighwal, dari Thalhah bin Musharrif, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan.” Lalu ia berkata, ‘maka bekal kaum tersebut habis.’ Selanjutnya ia berkata, “Hingga mereka berkeinginan untuk menyembelih sebagian hewan kendaraan mereka.” Perawi berkata, “Maka Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, kalau seandainya kamu mengumpulkan sebagian dari bekal kaum lalu kamu berdoa kepada Allah atasnya (niscaya itu baik).” Perawi berkata, “Lalu beliau melakukannya.” Perawi berkata, “Lalu pemilik gandum datang dengan membawa gandumnya, pemilik kurma datang dengan membawa kurmanya.” Perawi berkata, “Dan Mujahid berkata, ‘Dan pemilik biji-bijian dengan biji-bijian mereka.” Aku berkata, “Apa yang mereka perbuat dengan biji-bijian tersebut?”. Ia menjawab, “Mereka mengisap dan meminum air padanya.” Ia berkata, “Lalu, Rasulullah saw. memanggil mereka hingga mereka dapat memenuhi wadah perbekalan mereka.” Perawi berkata, “Maka Rasulullah berdoa ketika itu, ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan berpegang teguh padanya tanpa ada keraguan niscaya ia masuk surga’.”

Hadis No. 43 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil bahwa orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ كِلَاهُمَا عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ حُمْرَانَ عَنْ عُثْمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنِ الْوَلِيدِ أَبِي بِشْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ حُمْرَانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مِثْلَهُ سَوَاءً

Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami, keduanya dari Ismail bin Ibrahim. Abu Bakr berkata, Ibnu Ulayyah telah menceritakan kepada kami, dari Khalid, ia berkata, Al-Walid bin Muslim telah menceritakan kepadaku, dari Humran, dari Usman, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang meninggal, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka ia masuk surga.”

Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Bisyr bin Al-Mufadhdhal telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Khalid Al-Hadzdza’ telah menceritakan kepada kami, dari Al-Walid; Abu Bisyr, ia berkata, aku mendengar Humran, ia berkata, aku mendengar Usman, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda sama seperti itu.

Hadis No. 42 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil atas sahnya Islam seseorang yang saat datang kematian kepadanya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمِّهِ: ” قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ “، قَالَ: لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ، يَقُولُونَ: إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لَأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ، فَأَنْزَلَ اللهُ: {إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ} [القصص: 56]

Muhammad bin Hatim bin Maimun telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid bin Kaisan telah menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim Al-Asyja’i, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda kepada pamannya, ‘Katakanlah, Tiada Tuhan selain Allah, aku akan bersaksi untukmu dengan kalimat tersebut pada hari kiamat’. Ia menjawab, “Kalau seandainya bukan karena kaum Quraisy mencelaku dengan perkataan mereka, ‘Ia melakukan hal tersebut karena cemas’, niscaya aku menyetujui kalimat tersebut dengan matamu.’ Lalu, Allah menurunkan, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi akan tetapi aku memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki” (Q.S. Al-Qashash: 56)

Hadis No. 41 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil atas sahnya Islam seseorang yang saat datang kematian kepadanya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمِّهِ عِنْدَ الْمَوْتِ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَبَى، فَأَنْزَلَ اللهُ: {إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ} [القصص: 56] الْآيَةَ

Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Marwan telah menceritakan kepada kami, dari Yazid yakni Ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda kepada pamannya ketika ia menjelang wafat, ‘Katakanlah, ‘Tiada Tuhan selain Allah, aku akan bersaksi untukmu dengan kalimat tersebut pada hari kiamat.” Namun, ia menolaknya. Lalu, Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi.” (Q.S. Al-Qashash: 56)

Hadis No. 40 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam Shahih-nya kitab Al-Iman bab dalil atas sahnya Islam seseorang yang saat datang kematian kepadanya,

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ ح وحَدَّثَنَا حَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ كِلَاهُمَا عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّ حَدِيثَ صَالِحٍ انْتَهَى عِنْدَ قَوْلِهِ: فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْآيَتَيْنِ وَقَالَ فِي حَدِيثِهِ: وَيَعُودَانِ فِي تِلْكَ الْمَقَالَةِ وَفِي حَدِيثِ مَعْمَرٍ مَكَانَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ فَلَمْ يَزَالَا بِهِ

Ishaq bin Ibrahim dan Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami, ha’ (at-tahwil). Hasan Al-Hulwani dan Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Ya’qub yakni ibn Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku telah menceritakan kepadaku, dari Shalih, keduanya dari Az-Zuhri dengan sanad ini semisalnya. Hanya saja hadis Shalih selesai pada perkataannya, lalu Allah menurunkan firman-Nya tentangnya, dan ia tidak menyebutkan dua ayat tersebut. Dan ia menyebutkan di dalam hadisnya, ‘dan keduanya kembali mengucapkan perkataan tersebut.’ pada hadis Ma’mar adalah sebagai pengganti kalimat ini. Dan mereka berdua tetap berpedoman padanya.

Hadis No. 47 Shahih Al-Bukhari

0
Shahih Al-Bukhari
Shahih Al-Bukhari

Hadispedia.id – Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab kekhawatiran seorang mukmin bisa amalnya terhapus tanpa sadar,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يُخْبِرُ بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقَالَ إِنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ وَإِنَّهُ تَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ التَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالخَمْسِ

Qutaibah bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ismail bin Ja’far telah menceritakan kepada kami, dari Humaid, ia berkata, Anas bin Malik telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Ubadah bin Ash-Shamit telah mengabarkan kepadaku, bahwa Rasulullah saw. keluar untuk menjelaskan lailatul qadar. Lalu, ada dua orang muslim yang saling berdebat. Maka, beliau bersabda, “Aku datang untuk menjelaskan lailatul qadar kepada kalian, namun fulan dan fulan saling berdebat sehingga akhirnya diangkat (lailatul qadar), dan semoga menjadi lebih baik buat kalian, maka itu carilah lailatul qadar itu pada hari yang ketujuh, sembilan, dan kelima.”

Kiai Ali Mustafa Yaqub, Ulama Hadis Kontemporer Indonesia

0
Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub

Hadispedia.id – Kiai Ali Mustafa Yaqub, seorang Ulama Hadis Indonesia yang tidak asing didengar. Lahir pada tanggal 2 Maret 1952 M, di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga yang agamis dan berkecukupan, sehingga sejak kecil ketaatan dalam beragama sudah biasa diterapkan dalam kesehariannya. Sejak itu pula harapan untuk menjadi seorang Ulama di masa mendatang sudah muncul dalam hatinya. Pribadi yang tegas, disiplin, kritis serta peduli antar sesama merupakan didikan dari kedua orang tuanya. Tak khayal, jika beliau berkehidupan sederhana dan mandiri.

Ayahnya bernama H. Yaqub, merupakan pendakwah terkemuka yang mempunyai prinsip untuk menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Ibunya bernama Hj. Siti Habibah merupakan seorang Guru sekaligus ibu rumah tangga. Kiai Ali Mustafa Yaqub memiliki seorang istri bernama Hj. Ulfah Uswatun Hasanah dan dikaruniai seorang putra bernama H. Zia Ul Haramein Ali Mustafa, Lc.

Riwayat Pendidikan

Kiai Ali Mustafa Yaqub menempuh pendidikan formal SD dan SMP di kota kelahirannya. Usai lulus SMP, ia belajar ilmu agama di Pesantren daerah Seblak, Jombang. Pada tahun 1971 beliau melanjutkan pendidikannya ke pesantren Tebuireng. Kemudian menyelesaikan pendidikan kuliah di Fakultas Syariah, Universitas Hasyim Asy’ari (1975).

Tepat pada tahun 1976 M, Kiai Ali mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Arab Saudi, di fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, hingga tahun 1980. Kemudian, beliau melanjutkan program Megister di Universitas King Saud, Departemen Studi Islam Jurusan Tafsir dan Hadis hingga tahun 1985. Kedua jurusan ini dipilih karena menurutnya kedua ilmu tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Usai pendidikan S2, beliau memutuskan pulang ke Indonesia. Sesampainya di tanah air, beliau mengajar dan menjadi guru besar Hadis dan Ilmu Hadis di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, dosen dalam bidang Hadis di Pascasarjana Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Jakarta, guru besar Hadis dan Ilmu Hadis di Program Magister STAIN Pekalongan, Jawa Tengah. Beliau juga menjadi imam besar di Masjid Istiqlal. Pada tahun 2005-2008 Beliau melanjutkan program Doktor S3 di Universitas Nizamia, Hyderabad India, di jurusan Spesialis Hukum Islam.

Guru-Guru dan Karyanya

Faktor pembentukan pemikiran dan karakter Kiai Ali Mustafa tidak lepas dari peran guru-gurunya. Selama berada di Tebuireng Jombang, beliau banyak menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan kiai senior, antara lain: Kiai Idris Kamali, Adhlan Ali, Shobari, dan Syansuri Badawi. Selain itu, tokoh yang sangat berpengaruh dalam intelektualnya di bidang Hadis adalah Muhammad Mustafa Al-A’dzami. Darinya, Kiai Ali Mustafa banyak belajar keistiqamahan, semangat menulis karya ilmiah dalam bidang hadis, dan sikap kritis terhadap orientalis.

Pada bidang tulis menulis, Kiai Ali memiliki sebuah filosofi yang menjadi penyemangatnya untuk terus berkarya, yaitu “Wala tamutunna illa wa antum katibun/ Janganlah kalian meninggal dunia sebelum menjadi penulis.” Berdasarkan spesifikasi keilmuan, Kiai Ali memang dikenal sebagai pakah hadis. Namun, karya yang telah beliau hasilkan tidak hanya sebatas kajian hadis saja, melainkan dalam banyak bidang, seperti Aqidah, Fiqh, dan Dakwah.

Dalam bidang Hadis dan Ilmu Hadis, karya tulis Kiai Ali Mustafa meliputi: Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis (1991), Kritik Hadis (1995), Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999), MM Azami; Pembela Eksistensi Hadis (2002), Hadis-Hadis Bermasalah (2003), Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan (2003), dan Ath-Thuruq As-Shahihah fi Fahm As-Sunnah An-Nabawiyyah (2014).

Metode Pemahaman Hadis Kiai Ali

Terdapat tiga cara ala Kiai Ali dalam memahami hadis; Pertama, metode pemahaman hadis secara tekstual dan kontekstual. Lebih jelasnya metode ini fokus penelitian pada matannya. Kedua, metode hadis tematik (pengumpulan hadis dalam satu tema), tujuannya agar dapat meneliti sanad serta matannya. Ketiga, metode kontroversialitas hadis. Dalam penggunaan metode ini, harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu kebertentangannya hadis dengan logika. Dalam menyelesaikan pertentangan hadis seperti ini, kiai Ali menggunakan tiga cara, yaitu dengan menyesuaikan riwayat yang berbeda, nasakh, dan tarjih. Metode ini untuk menyesuaikan penelitian sanad dan matan hadis.

Keberaniannya dalam memberikan pendapat, baik melewati tulisan, pembicaraan, serta aktivitasnya banyak memberi warna terhadap kajian hadis di Indonesia, sehingga Kiai Ali mendapatkan julukan ahli hadis kontemporer. Kiai Ali wafat pada hari Kamis Shubuh, 28 April 2016 di Ciputat usia 64 tahun. Sampai akhir hayatnya itu, Kiai Ali masih mengasuh Pesantren Darus Sunnah yang didirikannya, mengajar hadis di Masjid Agung Sunda Kelapa, Masjid Agung At-Tin, Masjid Istiqlal, Masjid Raya Pondok Indah, dan acara-acara lainnya. Wallahu a’lam bis showab.

Sumber bacaan:

Ali Mustafa Yaqub, Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003)

Nasrullah Nurdin, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional, Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14, No. 1, 2016.

Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (Jakarta: LP3ES, 2015)

Nasrullah Nurdin, Wawasan Kebangsaan, Komitmen Negara dan Nasionalisme dalam Pandangan Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, MA, Jurnal Bimas Islam, Vol.II. No.1 2018.

Hadis No. 35 Sunan Ibn Majah

0
Sunan Ibnu Majah
Sunan Ibn Majah

Hadispedia.id – Al-Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada kitab muqaddimah bab peringatan keras sengaja berdusta atas nama Rasulullah saw.,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى التَّيْمِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَدِيثِ عَنِّي فَمَنْ قَالَ عَلَيَّ فَلْيَقُلْ حَقًّا أَوْ صِدْقًا وَمَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Ya’la At-Taimi telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Ma’bad bin Ka’b, dari Abu Qatadah, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda di atas mimbar ini, “Janganlah kalian banyak-banyak membacakan hadis dariku, maka siapa yang mengatakan atas namaku, hendaklah ia berkata dengan benar atau jujur. Siapa berkata atas namaku sesuatu yang aku tidak mengatakannya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”