Beranda blog Halaman 77

Hadis No. 59 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abi Daud
Sunan Abi Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab sesuatu yang membuat air menjadi najis,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ
قَالَ أَبُو دَاوُد حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ وَقَفَهُ عَنْ عَاصِمٍ

Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ashim bin Al-Mundzir telah mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, ia berkata, ayahku telah menceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila air dua kullah, maka sesungguhnya ia tidak najis.”

Abu Daud berkata, “Hammad bin Zaid memauqufkannya dari Ashim.

Hadis No. 58 Sunan Abi Daud

0
Sunan Abi Daud
Sunan Abi Daud

Hadispedia.id – ِAl-Imam Abu Daud; Sulaiman bin Al-Asy’ats berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab sesuatu yang membuat air menjadi najis,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ وَغَيْرُهُمْ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنْ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَهَذَا لَفْظُ ابْنُ الْعَلَاءِ و قَالَ عُثْمَانُ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ الصَّوَابُ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ أَبُو كَامِلٍ ابْنُ الزُّبَيْرِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ الْمَاءِ يَكُونُ فِي الْفَلَاةِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

Muhammad bin Al-Ala’, Usman bin Abi Syaibah, Al-Hasan bin Ali, dan selain mereka telah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Abu Usamah telah menceritakan kepada kami, dari Al-Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah saw. ditanya tentang air dan air yang didatangi binatang melata dan binatang buas. Maka, Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika air itu dua kullah, maka ia tidak mengandung najis.”

Abu Daud berkata, “Ini adalah lafadz Ibnu Al-Ala’. Sedangkan Usman dan Al-Hasan bin Ali menyebutkan dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far.” Abu Daud berkata, “Itulah yang benar.”

Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammad telah menceritakan kepada kami, ha’ (at-tahwil/percabangan sanad), dan Abu Kamil telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid yakni Ibnu Zurai’ telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja’far. Abu Kamil, ibnu Az-Zubair berkata dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya tentang air di tangah lapang, lalu dia menyebutkan hadis yang semakna dengan yang pertama.

 

Hadis No. 18 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam kitab Al-Iman bab penjelasan iman yang dengannya seseorang dimasukkan ke surga dan sungguh orang yang berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan padanya, dia masuk surga,

وَحَدَّثَنِى سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ – وَهُوَ ابْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ – عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا

Salamah bin Syahib telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Al-Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ma’qil yakni Ibnu Ubaidillah telah menceritakan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., lalu ia berkata, “Apa pendapatmu jika aku shalat wajib, puasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, serta mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahkan atas itu amalan lagi, apakah aku bisa masuk surga?” Beliau menjawab, “Iya”. Dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambahkan apapun di atas itu.”

Hadis No. 17 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam kitab Al-Iman bab penjelasan iman yang dengannya seseorang dimasukkan ke surga dan sungguh orang yang berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan padanya, dia masuk surga,

وَحَدَّثَنِى حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ وَالْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ قَالاَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ وَأَبِى سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ النُّعْمَانُ بْنُ قَوْقَلٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ . بِمِثْلِهِ. وَزَادَ فِيهِ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا

Hajjaj bin Asy-Sya’ir dan Al-Qasim bin Zakariyya’ telah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Ubaidullah bin Musa telah menceritakan kepada kami, dari Syaiban, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih dan Abu Sufyan, dari Jabir, ia berkata, An-Nu’man bin Qauqal berkata, “Wahai Rasulullah…” dengan semisal hadis tersebut, dan dia menambahkan, ‘Dan aku tidak akan menambahkan sedikit pun atas hal tersebut.’

Hadis No. 16 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam kitab Al-Iman bab penjelasan iman yang dengannya seseorang dimasukkan ke surga dan sungguh orang yang berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan padanya, dia masuk surga,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ – وَاللَّفْظُ لأَبِى كُرَيْبٍ – قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- النُّعْمَانُ بْنُ قَوْقَلٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَةَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-: نَعَمْ

Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami – dan lafadznya milik Abu Kuraib – mereka berkata, Abu Muawiyah telah menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, ia berkata, An-Nu’man bin Qauqal mendatangi Nabi saw., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku shalat wajib, mengharamkan yang haram, dan menghalalkan yang halal, apakah aku bisa masuk surga?” Beliau bersabda, “Iya”.

Baca juga: Hadis Jalan Menuju Surga

Hadis No. 15 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam kitab Al-Iman bab penjelasan iman yang dengannya seseorang dimasukkan ke surga dan sungguh orang yang berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan padanya, dia masuk surga,

وَحَدَّثَنِى أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِى زُرْعَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ. قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ ». قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا شَيْئًا أَبَدًا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا

Abu Bakr bin Ishaq telah menceritakan kepada saya, ia berkata, Affan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Wuhaib telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amalan yang jika aku melakukannya, maka aku masuk surga.” Beliau bersabda, “Kamu menyembah Allah, kamu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat wajib, menunaikan zakat wajib, dan puasa Ramadhan.” Orang Arab Badui berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atas ini sedikit pun selamanya dan tidak pula mengurangi darinya.” Ketika dia pamit pergi, maka Rasulullah bersabda, “Barang siapa ingin melihat seorang laki-laki dari penduduk surga, maka hendaklah dia melihat kepadanya.”

Hadis No. 14 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam kitab Al-Iman bab penjelasan iman yang dengannya seseorang dimasukkan ke surga dan sungguh orang yang berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan padanya, dia masuk surga,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِىُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الأَحْوَصِ ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْنِينِى مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ. قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ » فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أُمِرَ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ». وَفِى رِوَايَةِ ابْنِ أَبِى شَيْبَةَ إِنْ تَمَسَّكَ بِه

Yahya bin Yahya At-Tamimi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Al-Ahwash telah mengabarkan kepada kami, ha’ (at-tahwil/percabangan sanad), dan Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami (Al-Imam Muslim), ia berkata, Abu Al-Ahwash telah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Musa bin Thalhah, dari Abu Ayyub, dia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Nabi saw. seraya bertanya, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkanku dari surga dan menjauhkanku dari neraka?’ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturrahim dengan keluarga.” Ketika dia pamit maka Rasulullah saw. bersabda, “Jika dia berpegang teguh pada sesuatu yang diperintahkan kepadanya niscaya dia masuk surga.” Dalam suatu riwayat Ibnu Abi Syaibah, “Jika dia berpegang teguh dengannya.”

Hadis No. 13 Shahih Muslim

0
Shahih Muslim
Shahih Muslim

Hadispedia.id – Al-Imam ِAbu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi berkata dalam kitab Al-Iman bab penjelasan iman yang dengannya seseorang dimasukkan ke surga dan sungguh orang yang berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan padanya, dia masuk surga,

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ وَأَبُوهُ عُثْمَانُ أَنَّهُمَا سَمِعَا مُوسَى بْنَ طَلْحَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- بِمِثْلِ هَذَا الْحَدِيثِ

Dan Muhammad bin Hatim dan Abdurrahman bin Bisyr telah menceritakan kepada saya, mereka berkata, Bahz menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Usman bin Abdullah bin Mauhab dan ayahnya; Usman telah menceritakan kepada kami, bahwa mereka mendengar Musa bin Thalhah menceritakan dari Abu Ayyub dari Nabi saw. dengan semisal hadis ini.

Mukhtalith, Rawi yang Mengalami Penurunan Kualitas Ketsiqahannya

0
Mukhtalith, Rawi yang Mengalami Penurunan Kualitas Ketsiqahannya
Mukhtalith, Rawi yang Mengalami Penurunan Kualitas Ketsiqahannya

Hadispedia.id – Rawi tsiqah merupakan salah satu syarat diterimanya suatu hadis. Yakni rawi/periwayat hadis yang memiliki sifat adil (kredibel) dan dhabith (kapabel/bagus ingatannya). Namun, seiring berjalanannya waktu, ada rawi-rawi yang mengalami penurunan pada kualitas ketsiqahannya lantaran suatu alasan, misalnya pikun, hilangnya daya indra, atau karena alasan lainnya.

Pada diskursus kajian ilmu hadis, pembahasan ini disebut dengan ikhtilath (الاختلاط). Sedangkan rawi yang mengalami ikhtilath disebut mukhtalith. Secara bahasa, ikhtilath berarti rusaknya akal. Misalnya dikatakan ikhtalatha fulan (اختلط فلان) artinya Dia akalnya rusak. Secara istilah, Dr. Mahmud Thahhan dalam kitab Taisir Musthalah Al-Hadis mendefinisikan sebagaimana berikut.

فساد العقل أوعدم انتظام الأقوال بسبب خرف أوعمى أو احتراق كتب أو غير ذلك

“Rusaknya akal, tidak teratur perkataannya sebab tua, buta, terbakar kitab-kitabnya, atau sebab lain.”

Macam-Macam Mukhtalith

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mukhtalith atau rawi yang mengalami penurunan kualitas ketsiqahannya itu bermacam-macam sebabnya,

Pertama, sebab tua, seperti: Atha’ bin As-Sa’ib Ats-Tsaqafi Al-Kufi. Periwayatan Atha’ ini baru bisa dijadikan hujjah jika didukung oleh rawi-rawi senior, seperti Sufyan Ats-Tsauri dan Syu’bah. Itupun masih dikecualikan dua hadis yang diriwayatkan Syu’bah melalui jalur lain.

Selain Atha’, Abu Ishaq As-Sabi’i, Sa’id Al-Jurairi, Ibnu Abi ‘Arubah, Abdurrahman bin Abdullah bin Utbah Al-Mas’udi, Rabi’ah Ar-Ra’yi (guru Imam Malik), dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi juga mengalami penurunan kualitas ketsiqahannya di akhir hidupnya. Demikian pula Sufyan bin ‘Uyainah yang terjadi pada dua tahun sebelum wafatnya.

Kedua, sebab buta/hilang penglihatan, seperti: Abdur Razzaq bin Hammam Ash-Shan’any. Disebabkan karena kebutaannya itu, maka ia hanya bisa membaca dengan bantuan orang lain.

Ketiga, sebab terbakar kitabnya, seperti: Abdullah bin Lahi’ah Al-Mishri. Sehingga, ia tidak dapat lagi membuka-buka kembali catatan-catatannya yang menjadi sumber kekuatan ingatannya.

Selain itu, rawi-rawi lain yang juga mengalami penurunan kualitas ketsiqahannya/ikhtilath adalah ‘Arim, Abu Qilabah Ar-Ruqasyi, Abu Ahmad Al-Ghithfiri, Abu Thahir; cucu Imam Ibu Khuzaimah, dan Abu Bakr Al-Qathi’i; rawi dalam kitab Musnad Ahmad.

Hukum Riwayat Mukhtalith

Bagaimana status kualitas periwayatan hadis yang diriwayatkan oleh para rawi mukhtalith tersebut? Apakah masih diterima meskipun ia mengalami penurunan kualitas ketsiqahannya? Dr. Mahmud Thahhan dalam kitab Taisir Musthalah Al-Hadis merinci jawabannya.

  1. Dapat diterima riwayatnya sebelum ia mengalami ikhtilath.
  2. Tidak dapat diterima riwayatnya, sesudah ikhtilath, begitu pula yang meragukan sebelum atau sesudah ikhtilath.

Urgensi dan Faidah Ilmu Ikhtilath

Pengetahuan tentang ikhtilath ini sangat penting sekali diketahui bagi pengkaji hadis. Hal ini dalam rangka agar dapat membedakan hadis-hadisnya rawi tsiqah yang diriwayatkan sesudah terjadinya ikthtilath untuk ditolak atau diterima.

Lalu, apakah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim pernah meriwayatkan hadis-hadis yang bersumber dari rawi-rawi tsiqah yang mengalami ikhtilath? Jawabannya adalah iya. Mereka melakukan hal tersebut. Hanya saja, hadis-hadis tersebut diriwayatkan sebelum rawi-rawi tsiqah itu mengalami ikhtilath/penurunan kualitas ketsiqahannya. Sehingga, jika menemukan rawi-rawi mukhtalith dalam kitab Shahih Al-Bukhari atau Shahih Muslim, maka dapat dipastikan hadis itu dapat dijadikan hujjah.

Kitab-Kitab tentang Rawi Mukhtalith

Banyak ulama yang menyusun kitab dalam bidang ini, seperti Al-Ala’i dan Hazimy. Di antaranya adalah kitab Al-Ightibath bi Man Ruwiya bil Ikhtilath, karya Ibrahim bin Muhammad Sibthi Ibnu Ajami yang wafat pada tahun 841 H.

Pembahasan tersebut membuktikan bahwa betapa ulama sangat berhati-hati dalam memilah dan memilih hadis. Sehingga, periwayatan yang berasal dari orang yang telah mengalami penurunan kualitas ketsiqahannya baik disebabkan karena tua (pikun), buta, terbakar kitab, atau sebab lainnya. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Hadis No. 30 Sunan At-Tirmidzi

0
Sunan At-Tirmidzi
Sunan At-Tirmidzi

Hadispedia.id – Al-Imam At-Tirmidzi berkata di dalam Sunan-nya pada kitab bersuci bab menyela-nyela jenggot,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ حَسَّانَ بْنِ بِلاَلٍ عَنْ عَمَّارٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- مِثْلَهُ

قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِى الْبَابِ عَنْ عُثْمَانَ وَعَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَأَنَسٍ وَابْنِ أَبِى أَوْفَى وَأَبِى أَيُّوبَ

قَالَ أَبُو عِيسَى وَسَمِعْتُ إِسْحَاقَ بْنَ مَنْصُورٍ يَقُولُ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ لَمْ يَسْمَعْ عَبْدُ الْكَرِيمِ مِنْ حَسَّانَ بْنِ بِلاَلٍ حَدِيثَ التَّخْلِيلِ

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ أَصَحُّ شَىْءٍ فِى هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عُثْمَانَ

قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَالَ بِهَذَا أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَمَنْ بَعْدَهُمْ رَأَوْا تَخْلِيلَ اللِّحْيَةِ. وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِىُّ
وَقَالَ أَحْمَدُ إِنْ سَهَا عَنْ تَخْلِيلِ اللِّحْيَةِ فَهُوَ جَائِزٌ وَقَالَ إِسْحَاقُ إِنْ تَرَكَهُ نَاسِيًا أَوْ مُتَأَوِّلاً أَجْزَأَهُ وَإِنْ تَرَكَهُ عَامِدًا أَعَادَ

Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyan bin Uyainah telah menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari Hassan bin Bilal, dari Ammar bin Yasir, dari Nabi saw. sebagaimana hadis tersebut (Hadis no. 29).

Abu Isa berkata, “Dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Usman, Aisyah, Ummu Salamah, Anas, Ibnu Abi Aufa, dan Abu Ayyub.”

Abu Isa berkata, “Aku juga mendengar Ishaq bin Manshur ia berkata, ‘Ahmad bin Hanbal berkata, Ibnu Uyainah berkata, ‘Abdul Karim tidak mendengar dari Hassan bin Bilal hadis tentang menyela-nyela (jenggot).’

Muhammad bin Ismail berkata, “Hadis yang paling shahih dalam bab ini adalah hadis Amir bin Syaqiq dari Abu Wail dari Usman.”

Abu Isa berkata, “Banyak ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi saw. dan generasi setelahnya berkata dengan menggunakan hadis ini untuk berpendapat tentang menyela-nyela jenggot. Imam Asy-Syafi’i juga berkata dengan hadis ini.”

Ahmad berkata, “Jika lupa menyela-nyela jenggot, maka boleh.” Ishaq berkata, “Jika meninggalkannya karena lupa atau mentakwil, maka dianggap cukup. Namun, jika meninggalkannya dengan sengaja, maka harus mengulangi wudhunya.”